Capaian Program INOVASI 2016-2020 (Fase I)

INOVASI adalah kemitraan antara Pemerintah Australia (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia/DFAT) dan Pemerintah Indonesia (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). INOVASI juga bekerja dengan Kementerian Agama dan berbagai organisasi non-pemerintah, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) Ma’arif dan Muhammadiyah. Tujuan dari program ini adalah untuk mempercepat kemajuan menuju hasil belajar yang lebih baik bagi siswa Indonesia, dengan berfokus pada tiga hal utama dalam pelaksanaan program rintisannya, yaitu: kualitas pengajaran di kelas; kualitas dukungan untuk guru; dan pembelajaran untuk semua anak. Fase pertama program dimulai pada 18 Januari 2016 dan berakhir pada 30 Juni 2020.

 

Infografik: Pemimpin Pembelajaran Generasi Pembelajar

Indonesia telah membuat banyak kemajuan dalam akses ke pendidikan dasar. Dalam 15 tahun terakhir, anggaran pemerintah untuk pendidikan meningkat dua kali lipat dan pendaftaran siswa di sekolah dasar hampir mencapai 100%. Namun, meskipun kini ada lebih banyak anak yang bersekolah, hal ini belum menuangkan hasil belajar yang lebih baik. Berbagai asesmen internasional dan nasional yang memonitor dan membandingkan hasil sistem pendidikan yang berkaitan dengan kemampuan siswa usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains menunjukkan bahwa kinerja siswa Indonesia masih tergolong rendah bahkan bila dibandingkan dengan rekan-rekan sebaya di negara tetangga.
Kepemimpinan yang kuat dan berpihak pada mutu kegiatan belajar mengajar di sekolah sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Kegiatan pra-rintisan INOVASI pada tahun 2017 dan 2018 menemukan bahwa kompetensi mengajar di sekolah-sekolah dasar di Indonesia masih tergolong rendah yang berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah.
Dalam hal kepemimpinan sekolah, kegiatan pra-rintisan INOVASI pada tahun 2018 – khususnya di Sumba Barat, NTT, menemukan bahwa kepala sekolah dan pengawas cenderung berfokus pada kegiatan administrasi dan manajemen sekolah daripada kepemimpinan pembelajaran. Peran yang diharapkan dari seorang kepala sekolah di atas kertas bisa sangat berbeda dengan kenyataannya.

Infografik: Mempersiapkan Generasi Abad 21 – Pentingnya Kemampuan Dasar Literasi dan Numerasi Kelas Awal

Indonesia telah membuat banyak kemajuan dalam akses ke pendidikan dasar. Dalam 15 tahun terakhir, anggaran pemerintah untuk pendidikan meningkat dua kali lipat dan angka partisipasi siswa di sekolah dasar hampir mencapai 100%. Namun, meskipun kini ada lebih banyak anak yang bersekolah, hal ini belum menuangkan hasil belajar yang lebih baik. Berbagai asesmen internasional dan nasional yang memonitor dan membandingkan hasil sistem pendidikan yang berkaitan dengan kemampuan siswa usia 15 tahun dalam literasi membaca, matematika, dan sains menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia masih tergolong rendah bahkan bila dibandingkan dengan rekan-rekan sebaya di negara tetangga.

Dalam membangun dan menjaga keberlangsungan gerakan literasi nasional di Indonesia dengan keragaman geografis dan budayanya, berbagai tantangan tentu akan muncul. Banyak anak-anak Indonesia yang duduk di kelas 1-3 sekolah dasar yang belum memiliki dasar-dasar kemampuan membaca. Hal ini tentu akan berdampak pada mutu pembelajaran anak ketika mereka duduk di jenjang pendidikan berikutnya.

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia. Bekerja langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), INOVASI berupaya memahami cara-cara yang efektif (dan juga tidak) dalam meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah-sekolah yang ada di berbagai kabupaten di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan hasil belajar literasi dan numerasi. Data baseline tahun 20181 dari seluruh kabupaten mitra INOVASI di Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur memberikan gambaran tentang mutu hasil belajar siswa. Data tersebut dikumpulkan menggunakan Asesmen Belajar Siswa (Student Learning Assessment /SLA), yang merupakan alat bantu untuk mengukur hasil belajar literasi yang mencakup tes matematika dan bahasa Indonesia. SLA dirancang terutama untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pendidikan yang dilakukan INOVASI dan KIAT Guru.

Infografik: Buku Bacaan untuk Siswa Kelas Awal – Kalimantan Utara

Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016, menunjukkan 46,83% pelajar kelas 4 SD tergolong kurang mampu membaca. AKSI juga menemukan masalah utama dalam meningkatkan nilai rata-rata kemampuan membaca siswa kelas 4 SD di Kalimantan Utara (Kaltara) berada dua poin di bawah nilai rata-rata nasional. Pendalaman hasil AKSI di Kaltara yang dilakukan INOVASI melalui kegiatan RPSA menemukan bahwa salah satu masalah utama meningkatkan keterampilan membaca anak adalah ketiadaan buku bacaan yang menarik. RPSA merekomendasikan perlunya penyediaan buku menarik dan waktu membaca dengan bimbingan guru. Rekomendasi RPSA diperkuat hasil SIPPI yang menemukan 85% siswa kelas awal suka membaca buku. Namun, sebagian besar menyatakan bahwa buku yang dibaca adalah buku pelajaran, dan hanya sebagian kecil membaca buku cerita dan buku lainnya.

Di Kalimantan Utara, implementasi program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) – yang berlangsung di Kabupaten Bulungan dan Malinau, memiliki tiga fokus utama dalam meningkatkan kemampuan literasi di kelas awal. Pertama adalah mengembangkan kompetensi guru; kedua adalah membudayakan membaca; dan ketiga adalah memberikan layanan khusus kepada anak yang lamban belajar.

Studi ketersediaan dan akses terhadap buku bacaan yang relevan bagi siswa kelas awal ini dilakukan berdasarkan temuan RPSA, SIPPI tentang minat baca siswa, dan juga berdasarkan Temuan Awal Program (Baseline).