Relawan Literasi NTB Turut Mendukung Pembelajaran di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 telah membuat berbagai aktifitas terpaksa dibatasi. Sekolah-sekolah tidak dibolehkan beraktivitas dan anak-anak mesti belajar dari rumah. Adanya berbagai keterbatasan membuat anak-anak tidak bisa mendapatkan pendidikan sebagaimana sebelumnya. Merespon kondisi itu, Asosiasi Dosen LPTK se NTB dan Konsorsium NTB Membaca dengan didukung oleh INOVASI meluncurkan Program Relawan Literasi. Fokus program ini adalah peningkatan keterampilan literasi dan numerasi dasar bagi siswa-siswa kelas awal. Ada ratusan mahasiswa dan penggiat literasi yang terlibat. Mereka turun mendampingi anak-anak yang mengalami hambatan pembelajaran dalam hal literasi dan numerasi. Salah satu dari mereka adalah Anasiana Pertiwi, mahasiswi semester 8 dari STKIP Hamzhar, Kabupaten Lombok Utara.

Bagi Ana, nama panggilannya, ini adalah pengalaman pertamanya sebagai seorang relawan. Ketika mendengar tentang program relawan yang didukung oleh INOVASI, Ana langsung memutuskan terlibat. Program INOVASI bagi Ana memang sudah tidak asing lagi. Dia mendengar banyak pengalaman menarik dari seorang kakak seniornya di kampus yang telah mengikuti program INOVASI sebelumnya.

“Katanya, kalau ikut dengan INOVASI kita akan banyak belajar dan berkesempatan untuk mengunjungi sekolah-sekolah yang jauh,” Papar Ana. Cerita-cerita dari seniornya itu kemudian menjadi inspirasi bagi Ana. Ketika kesempatan hadir melalui program Relawan Literasi, Ana tak menyia-nyiakannya. Anasiana, bersama empat orang temannya yang lain kemudian dikirim oleh kampusnya, STKIP Hamzar, untuk mengikuti Program Relawan ini.

Menjadi relawan literasi, Anna dan ratusan rekannya yang lain dari berbagai macam kampus dan lembaga tidak langsung terjun ke lapangan begitu saja. Mereka dibekali terlebih dahulu melalui beberapa sesi pelatihan yang difasilitasi oleh INOVASI. Keseluruhan proses pembekalan ini dilakukan secara online.

Usai mendapat pembekalan awal, para relawan literasi ini pun langsung diterjunkan ke lapangan. Pada awalnya, hanya ada satu anak yang menjadi dampingan Ana. Dalam perjalanannya, apa yang dilakukan Anasiana mampu menarik perhatian anak-anak lain. Mereka lalu diajak untuk belajar bersama. Dari semula hanya satu siswa dampingan, Anasiana kemudian memiliki tiga anak dampingan yang ingin juga mendapatkan bimbingan.

“Yang saya dampingi sebenarnya hanya satu orang anak kelas dua yang memang belum bisa membaca. Kemudian, ada anak kelas 3 dan kelas 5 yang juga ikut dan mereka juga belum bisa membaca meski sudah duduk di kelas tinggi.” Cerita Anasiana. Belajar bersama-sama ini ternyata membuat mereka tidak mudah jenuh untuk belajar.

Menurut Ana, ada banyak nilai positig yang diperoleh selama pembekalan ini, khususnya bagi seorang mahasiswa PGSD seperti dia. Tidak sekedar teknik dan pendekatan dalam mengajar literasi, hal paling penting yang diperoleh Ana selama mengikuti program ini adalah kesadaran tentang pentingnya literasi sebagai sebuah keterampilan fondasi. Menurut dia, konsep ini yang mesti ditanamkan ke guru-guru dan calon-calon guru seperti mereka.

 

 

“Sebab percuma guru berdiri di depan kelas dan memberikan materi ke anak-anak muridnya namun mereka tidak bisa mengikuti karena kemampuan literasinya yang kurang baik,” tuturnya.

Ada satu cerita yang ia kenang saat menjadi relawan relasi. Ini tentang Ibu dari seorang anak dampingannya kemudian menjadi begitu peduli dengan pendidikan anaknya, khususnya dalam hal kemampuan membaca. Di tengah kesibukan dan rasa lelah si Ibu yang tiap hari mesti pergi mencari rumput buat ternak mereka, dia tetap meluangkan waktu untuk mendapingi anaknya membaca meski dia sendiri adalah seorang buta huruf.

Si Ibu juga selalu menyempatkan waktu untuk berbagi dengan Ana tentang perkembangan si anak. Ana masih bisa mengingat bagaimana Ibu itu menceritakan dengan semangat tentang anaknya yang sudah mulai membaca sendiri di rumah. Perkembangan ini membuat si Ibu bersedia mendampingi anaknya membaca di malam hari meski dia sendiri masih diliputi kelelahan sepulang dari mencari rumput.

“Saya pun juga menjadi semangat untuk terus menyediakan bahan bacaan bagi anak itu. Saya print-kan beberapa bacaan dari Let’s Read yang sesuai dengan kempuannya. Hampir 8 judul buku yang sudah saya kasihkan,” tutur Ana. Sebelumnya, Ana sudah banyak berdiskusi dengan si Ibu. Ini pendekatan yang dia pelajari bersama INOVASI. Selama pendekatan itu, dia memang telah menekankan pada si Ibu tentang betapa pentingnya kemampuan membaca sebagai modal dasar dari pengetahuan.

Program relawan literasi tahap pertama sudah selesai di bulan Desember 2020 lalu. Ana selalu menyempatkan untuk membagikan itu dengan rekan-rekannya sesama mahasiswa PGSD lain. Dia juga memperkenalkan pendekatan-pendekatan itu saat mereka mengikuti kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan beberapa waktu lalu.

Semangat sebagai relawan literasi juga terus berlanjut. Saat ini, Ana menjadi tutor pada kegiatan ke-aksaraan desa. Program yang diinisiasi desa tempat tinggalnya ini bertujuan untuk memberikan keterampilan literasi dan numerasi dasar bagi para orang tua yang buta huruf. Salah satu orang tua yang dia dampingi adalah ibu dari siswa yang dia dampingi saat menjadi relawan literasi. Program ini menjadi tempat bagi Ana untuk kembali menerapkan berbagai pendekatan literasi yang sudah dia dapatkan.

Cerita baik dari program kerelawanan di masa pandemi memang tidak hanya milik Anasiana. Ada banyak lagi cerita inspiratif tentang anak-anak muda yang ikut turun tangan membantu siswa-siswa yang mengalami hambatan pembelajaran literasi. Hal ini yang kemudian membuat STKIP Hamzar tempat Anasiana kuliah telah membangun komitmen bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Utara untuk melanjutkan kegiatan relawan literasi ini. Rencannya, tidak kurang dari 25 mahasiswa akan kembali diturunkan sebagai relawan literasi pada bulan Februari nanti.

Relawan Literasi NTB Turut Mendukung Pembelajaran di Masa Pandemi