PANDUBA untuk Belajar dengan Metode Jembatan Bahasa

Di Kabupaten Bima, NTB, penggunaan bahasa daerah memang sangat dominan di keseharian masyarakatnya termasuk anak-anak. Sebuah kondisi yang kemudian menjadi tantangan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Anak-anak masih kesulitan memahami pelajaran yang diberikan. Salah satu alasannya adalah karena anak-anak yang duduk di SD kelas awal tersebut belum menguasai bahasa pengantar pembelajaran – bahasa Indonesia. INOVASI, program kemitraan pemerintah Australia dan Indonesia, bersama pemerintah daerah telah mengimplementasikan program dengan fokus meningkatkan kemampuan literasi siswa kelas awal dengan melakukan transisi bahasa pengantar pembelajaran di kelas awal. Salah satu metode yang diperkenalkan adalah ‘Jembatan Bahasa’.


Metode Jembatan Bahasa menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan pembelajaran di daerah dengan tantangan bahasa. Melalui pelatihan dan pendampingan program INOVASI, para guru di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dilatih secara berkesinambungan selama beberapa bulan sehingga secara mandiri mampu mempraktikkan metode ini saat mengajar, khususnya di kelas-kelas awal. Mereka bahkan juga telah mengembangkan beberapa kegiatan pembelajaran kreatif dari metode Jembatan Bahasa. Salah satunya adalah Sunardin S.Pd, guru SDN 6 Sila.

Panduba atau ‘Papan Dua Bahasa’ adalah media pembelajaran yang ia buat untuk mengenalkan suatu konsep kepada siswa-siswanya yang duduk di kelas awal dengan menggunakan metode jembatan bahasa. Secara umum, penggunaannya serupa dengan kamus bahasa di mana anak-anak diperkenalkan dulu kata-kata dalam bahasa lokal Mbojo, lalu kemudian kata-kata tersebut diperkenalkan dalam bahasa Indonesia. Menariknya, penggunaannya lebih seperti permainan.

Untuk penggunaannya, pada mulanya kata-kata berupa nama benda atau kegiatan dalam bahasa lokal Mbojo akan ditempel di Panduba, namun tidak disertai dengan gambar untuk menjelaskan kata tersebut. Pembelajaran dilakukan sesuai dengan tema dan Sunardin akan memperkenalkan terlebih dahulu kata-kata yang sudah ditempel di Panduba. Potongan gambar dari kata-kata tersebut pun ia simpan terpisah dalam sebuah wadah, bisa toples ataupun kotak kecil.

Usai pembelajaran dalam bahasa lokal, Sunardin kemudian memanggil satu persatu siswanya untuk maju ke depan kelas. Siswa tersebut akan mengambil satu gambar dari dalam toples atau kotak. Selanjutnya, siswa diminta untuk menempelkan gambar yang telah diambil ke Panduba. Tentunya, gambar tersebut harus ditempel pada kata yang sesuai. Hal ini akan dapat menunjukkan pemahaman siswa terhadap suatu kata.

Panduba terdiri dari dua sisi. Di satu sisi berisi kata-kata dalam bahasa lokal Mbojo, sementara di sisi yang lainnya berisi kata-kata dalam bahasa Indonesia. Kedua sisi ini tentunya memiliki makna yang sama, namun dalam dua bahasa yang berbeda. Posisi atau peletakkan kata-kata dilakukan secara acak di antara dua sisi Panduba tersebut. Kata yang bermakna sama diletakkan dalam posisi yang berbeda. Hal ini demi memastikan bahwa ketika  menempelkan gambar benda dalam Bahasa Indonesia, siswa betul-betul memahami konsep dan makna dari gambar dan kata tersebut, dan bukan karena menghafal letak.

Ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Panduba, semua anak akan mendapatkan kesempatan untuk maju ke depan kelas untuk menempelkan gambar ke suatu kata. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Sunardin biasanya membuat sebanyak mungkin gambar dan kata.

“Melalui alat ini, kita tidak hanya melatih atau mengajarkan anak tentang suatu konsep dan makna kata, tetapi juga bisa mendorong kepercayaan diri anak-anak untuk maju ke depan kelas. Dari sini kita bisa melihat mana yang sudah bisa memahami konsep dan makna, serta mana yang masih membutuhkan dukungan,” jelas Sunardin menutup ceritanya.

PANDUBA untuk Belajar dengan Metode Jembatan Bahasa