Metode Jembatan Bahasa menjadi salah satu upaya menjawab kebutuhan pembelajaran di daerah dengan tantangan bahasa. Melalui pelatihan dan pendampingan program INOVASI, para guru di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dilatih secara berkesinambungan selama beberapa bulan sehingga secara mandiri mampu mempraktikkan metode ini saat mengajar, khususnya di kelas-kelas awal. Mereka bahkan juga telah mengembangkan beberapa kegiatan pembelajaran kreatif dari metode Jembatan Bahasa. Salah satunya adalah Sunardin S.Pd, guru SDN 6 Sila. Sejumlah media pembelajaran telah ia buat sendiri untuk mendukung kegiatan pembelajaran tersebut.

Belajar sambil bermain menggunakan ‚ÄúPapan Kata‚ÄĚ adalah salah satu cara Sunardin untuk membantu proses pembelajaran siswanya. Pada papan kata tersebut ada sejumlah gambar dari sebuah benda atau kegiatan. Nantinya, anak-anak akan menyebutkan nama dari gambar benda atau kegiatan itu dalam bahasa Mbojo, bahasa yang kerap digunakan oleh masyarakat Bima. kemudian anak-anak akan diminta untuk menyusun kata dari benda atau kegiatan tersebut dengan menggunakan potongan-potongan huruf yang sudah ia siapkan.

Setelah menggunakan bahasa lokal Mbojo, ia akan mengulangi lagi proses ini tapi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Dengan cara ini, anak-anak akan mengenal nama benda atau kegiatan sesuai gambar tersebut dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya, Sunardin akan meinta anak-anak untuk menyusun huruf-huruf sehingga membentuk nama benda atau kegiatan tersebut.

Penting untuk memastikan bahwa benda-benda ataupun kegiatan yang dimunculkan dalam aktifitas ini berkesesuaian dengan tema pelajaran saat itu. Hal tersebut adalah untuk memudahkan proses pembelajaran.

Ada tiga media pembelajaran yang Sunardin buat dan ia gunakan secara berurutan karena tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Biasanya, ia akan memulai dengan menggunakan ‚ÄúKamus Bahasa‚ÄĚ terlebih dahulu, kemudian disusul dengan penggunaan ‚ÄúPapan Dua Bahasa‚ÄĚ, setelah itu ‚ÄúPapan Kata‚ÄĚ. Menurutnya, Papan Kata memang lebih rumit karena siswa akan diminta untuk menyusun huruf-huruf membentuk kata dari benda atau kegiatan yang ada di gambar, baik itu dalam bahasa lokal Mbojo dan juga dalam bahasa Indonesia.