Salah satu konsep dasar pelajaran matematika adalah berhitung. Dalam pelajaran matematika, khususnya dalam hal mengurutkan, bilangan dianggap paling sulit bagi sebagian anak. Dari berbagai pelajaran yang diajarkan di jenjang sekolah dasar, Matematika termasuk pelajaran yang paling sulit dikuasai oleh para siswa. Meskipun demikian siswa perlu menguasai mata pelajaran tersebut karena merupakan kebutuhan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menyebabkan pelajaran matematika menjadi pelajaran yang dihindari oleh siswa, salah satunya karena membutuhkan konsentrasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Untuk mempelajari matematika maka tugas guru adalah menyajikan mata pelajaran tersebut dalam situasi yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa, selain itu mudah juga dipahami. Untuk menghadirkan pengalaman konkrit dalam bentuk nyata khususnya dalam pelajaran matematika, guru SDN Labuhan Jambu Kabupaten Sumbawa, NTB, Siti Aisyah, berupaya memanfaatkan media atau alat peraga sehingga pengalaman belajar siswa benar-benar nyata dan tersimpan dengan baik dalam pemahaman siswa.

Muncul ide membuat “Butik bilangan” yang merupakan alat peraga yang diciptakan oleh Siti Aisyah dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Alat dan bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat media tersebut adalah:

  • Kardus bekas secukupnya
  • Kertas metalik warna-warni
  • Pensil
  • Solasi/lem
  • Kertas bufallo warna-warni
  • Spidol
  • Stik eskrim
  • Gunting

Penggunaan alat peraga “Butik Bilangan” ini dilakukan dengan menggunakan beberapa gambar baju dan juga celana.

Berdasarkan gambar tersebut, anak-anak akan diminta untuk mengatur/menata baju tersebut dengan rapi, dan memulai dengan angka yang paling terkecil dahulu.

Setelah disusun, akhirnya “Butik Bilangan” tersebut akan menunjukkan urutan bilangan yang sempurna.

Dalam pelaksanaanya di kelas, kkegiatan pembelajaran dengan media butik bilangan ini berlangsung dalam satu kali pertemuan selama 3X35 menit. Dari hasil pengamatan Aisyah, ternyata siswanya lebih tertarik dalam mengikuti sesi pembelajaran. Dari data hasil pengamatan dan evaluasi dengan menggunakan media butik bilangan tampak bahwa terjadi peningkatan pada pembelajaran dengan menggunakan media “Butik bilangan”.

No Komponen Keterangan
1 Rata-rata nilai siswa 55,5%
2 Jumlah siswa seluruhnya 21
3 Jumlah siswa yang mengikuti 21
4 Jumlah siswa yang tuntas 15
5 Presentasi yang tuntas 55,71

Diakui Aisyah bahwa terdapat beberapa kendala yang muncul dalam penerapan metode pembelajaran menggunakan alat peraga “Butik Bilangan” di antaranya adalah ukuran alat peraga yang kurang besar dan jumlahnya hanya satu. Selain itu, gambar baju dan celana yang bertuliskan lambang bilangan jumlahnya masih terlalu sedikit.

Namun hal ini tidak menghentikan upaya Aisyah. Ia pun mencoba menyusun rencana untuk mengatasi kendala tersebut, yaitu seperti  memperbanyak jumlah alat peraga tersebut agar tersedia di setiap kelompok. Solusi lainnya adalah membuat alat peraga “Butik Bilangan” dengan ukuran yang lebih besarm hal ini agar semua siswa dapat melihat dengan jelas.