Pandemi Mendorong Guru di NTB Menjadi Lebih Kreatif

Sebagai seorang guru kelas 5 di SDN Inpres Tawali, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Abdul Rahman – atau biasa dipanggil Pak Arman – menyiasati interaksi guru dan murid yang begitu terbatas dengan menyederhanakan materi dan memanfaatkan media gambar untuk para siswanya.

Saat ini Dinas Pendidikan Kabupaten Bima mengambil tiga model pembelajaran untuk sekolah-sekolah di tingkat SD. Untuk kelas 6, pembelajaran dilakukan dengan tatap muka penuh dengan pemberlakuan protokol kesehatan. Sementara untuk kelas lain, diberikan keleluasaan untuk menentukan sendiri pembelajaran secara daring atau luring terbatas. Pilihan yang diambil sekolah menyesuaikan dengan kondisi siswa dan lingkungan di situ. Dinas Pendidikan juga menegaskan,  apa pun keputusan model pembelajaran yang diambil haruslah dibuat dengan melibatkan para orang tua siswa melalui komite sekolah.

Di sekolah tempat Pak Arman mengabdi, pilihannya hanya luring. Pasalnya, kondisi sosial ekonomi masyarakat di sana memang tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran daring. Di awal tahun ajaran 2020, guru-guru SDN Inpres Tawali mendata ketersediaan piranti elektronik untuk pembelajaran daring. Ternyata, dari sembilan siswa Pak Arman, hanya satu yang memiliki ponsel, itu pun jarang dimanfaatkan karena keterbatasan pulsa. Sekolah akhirnya memutuskan melakukan pembelajaran luring secara bergantian. Setiap kelas datang ke sekolah hanya dua kali sekali seminggu. Satu hari untuk mengambil tugas dan di hari lainnya untuk menyetor tugas sekaligus mengambil materi baru.

Pak Arman sangat memahami anak-anak akan merasa cepat jenuh belajar di rumah. Untuk itu, dia pun menyederhanakan materi pembelajaran dan membuatnya lebih menarik. Pak Arman juga banyak menyediakan gambar-gambar pendukung dalam materi pembelajaran yang sudah disederhanakannya. Menurutnya, penggunaan banyak gambar akan membantu siswa lebih cepat mencerna materi pelajaran yang diberikan.

“Dalam mata pelajaran IPA misalnya, saya mengambil definisi-definisi dari buku kemudian membuatnya menjadi lebih pendek. Bahasanya pun lebih disederhanakan. Saya juga hanya mengambil bagian-bagian penting untuk diajarkan. Jadi, tidak semua materi diajarkan,” Jelas Pak Arman.

Bahasa visual memang sangat dominan pada proses berpikir anak-anak di usia sekolah dasar. Pak Arman selanjutnya menuangkannya materi-materi pelajaran yang telah disederhanakan dan gambar-gambar pendukung tersebut ke dalam media buku besar (big book) yang dibuatnya sendiri. Dia kemudian mengembangkan media pembelajaran Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam bentuk dua atau tiga halaman bergambar ‘semi komik’ yang berisi rangkuman singkat dari materi pelajaran. Berbagai media pembelajaran ini mendapat sambutan baik oleh siswa-siswa di kelasnya dan juga dari kelas lain.

“Mereka kerap berebutan untuk melihat dan membaca apa isinya meskipun materi yang ada di situ belum sesuai dengan mereka. Anak-anak dari kelas rendah kerap datang untuk membaca materi yang saya buatkan untuk kelas saya, di kelas 5. Makanya, biasanya saya buat banyak,” tutur Pak Arman.

Sebagai salah satu Fasilitator Daerah Pembelajaran INOVASI di Kabupaten Bima, Pak Arman selalu bersemangat menyebarkan pengetahuan dan keterampilan kepada guru-guru lain. Dia turut membantu kolega lainnya menyederhanakan materi dan membuat berbagai media pembelajaran, seperti pembuatan Big Book. Hasilnya, beberapa guru yang pernah ia dampingi sudah bisa membuat Big Book sendiri.

Semangat untuk berkreasi ia tularkan juga ke muridnya. Setiap pekan, para siswa di kelasnya diminta untuk berkreasi apa saja di rumah – kerajinan, gambar, puisi, atau cerita – untuk kemudian mereka bawa ke sekolah. Arman berharap dorongan ini akan membuat siswanya memiliki kegiatan-kegiatan yang bermanfaat saat menghabiskan waktu mereka di rumah.

 

Pandemi Mendorong Guru di NTB Menjadi Lebih Kreatif