Relawan Literasi STKIP Paracendekia Sumbawa

Dirgahayu, Relawan Literasi dari STKIP Paracendikia. Mencoba berbagai pendekatan agar anak dampingannya tidak jenuh dalam belajar.

Untuk mendukung pemerintah dalam melaksanakan Belajar Dari Rumah (BDR), Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-NTB dan Konsorsium NTB Membaca dengan dukungan program INOVASI mengerahkan relawannya untuk turut terlibat.  Sebelum terjun ke lapangan, INOVASI  memfasilitasi pelatihan dan pembekalan bagi para relawan tersebut. Di Kabupaten Sumbawa, program relawan literasi (Relasi) dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Paracendekia. Berikut praktik baik yang disampaikan dua Relasi terkait pengalamannya selama pendampingan yaitu Dirgahayu Pratiwi dan Yassa Mutiara Hidayat.

 

Bagi, Dirgahayu Pratiwi pengalaman menjadi relawan bukanlah yang pertama baginya. Ia sudah terbiasa menjadi relawan kemanusiaan maupun pendidikan mulai dari tingkat lokal hingga nasional. Bahkan, program unggulan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya adalah wadah baginya untuk menjadi relawan pengajar pelajaran Bahasa Inggris dan calistung bagi siswa Sekolah. Dirgahayu begitu bersemangat ketika ada program Relasi bersamaan dengan masa PPL (Praktik Pekerjaan Lapangan). Dirgahayu saat ini duduk di semester 8 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sembari menyelesaikan tugas akhir, ia terlibat sebagai Relasi dan mendampingi seorang siswa kelas satu di SDN Jorok Kecamatan Unter Iwes.

Dirgahayu mengaku program Relasi sangat membantunya dalam mengembangkan keterampilan mengajar apalagi di tengah kondisi serba terbatas karena pandemi. Anak-anak yang Belajar Dari Rumah (BDR) cenderung lebih banyak bermain daripada belajar.

Setelah menyepakati waktu pendampingan bersama orang tua anak, ia mulai mengajar. Pada pertemuan pertama dan kedua, orang tua ikut mendampingi kegiatan belajar. Namun, seringkali ketika datang sore hari, sang anak sedang bermain dan tidak mau pulang ke rumah. Akhirnya, setelah bersepakat dengan orang tua, ia mengganti jadwal ke pagi hari. Sayangnya, pada pagi hari orang tua anak tidak bisa mendampingi karena berjualan di pasar. Tetapi si anak tetap ada di rumah bersama kedua kakaknya yang juga masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kelas tinggi.

Sebelum memulai proses pendampingan, ia terlebih dahulu menentukan level pemahaman muridnya sesuai instrumen modul literasi dasar dari INOVASI. Ia mencoba mengajak belajar huruf, ternyata masih ada yang belum diketahui seperti J, G, E, M, dan N. Setelah itu, ia mengetahui bahwa anak dampingannya masih ada di level satu yaitu pemula dan huruf.

Supaya anak lebih bersemangat, ia kenalkan huruf melalui aplikasi permainan Mari Belajar. Ia terlebih dahulu menjelaskan bentuk huruf misalnya J seperti pegangan payung dan G mirip angka 9. Dirgahayu menyebutkan, anak dampingannya ini laki-laki jadi gampang sekali perhatiannya teralihkan saat belajar.

“Ada 3-4 pertemuan saya masih gunakan aplikasi. Proses awal saya pendampingan begitu ekstra, karena si anak moody dan cepat bosan tapi dia mau belajar. Saya tidak pakai dulu instrument dari INOVASI, karena menarik minat anak dulu,” katanya.

Ketika sudah bisa mengenal huruf, ia melanjutkan dengan suku kata dan kata dengan menggunakan instrument INOVASI. Media kartu kata dapat membantu anak membentuk, menyusun dan membaca kata. Tetapi, ia menyadari muridnya cepat merasa bosan.

Dirgahayu kemudian membuat media permainan ular tangga, agar belajar tidak terasa berat dan anak bisa lakukan sambil bermain. Namun, ia tetap menggunakan kartu kata sebagai pendukung. Selain itu, ada hadiah yang diberikan jika anak berhasil menebak kata yaitu satu buah permen. Langkah-langka permainan ular tangga sama seperti pada umumnya menggunakan batu dan terbuat dari kertas buffalo berbentuk persegi. Pada setiap kotak, ada bacaan kata yang membuat anak bisa belajar membaca kata tersebut.

Ia menjelaskan pendampingan dilakukan selama kurang lebih delapan minggu. Setiap satu minggu ada tiga kali pertemuan. Saat ini sambungnya, baru masuk minggu ke enam. Untuk perubahan anak setelah pendampingan, sudah lancar membaca yang terdiri dari dua suku kata yaitu konsonan vokal. Meskipun masih ada terbata-bata misalnya pada kata bantal, atau menggabungkan pola kata konsonan vokal yang ada kata Ng di tengah. Tetapi untuk suku kata Ng dibelakang cukup mudah terutama untuk kata-kata yang sering dipakai pada kehidupan sehari-hari.

Di sela-sela pembelajaran, jika anak merasa bosan maka Dirgahayu akan mengajaknya menonton video cerita anak di Youtube. Cara ini sangat efektif agar anak fokus, setelah itu ia akan meminta tanggapannya.  “Yang saya rasakan selama pendampingan adalah bahagia sekaligus kesal. Bahagia saat anak yang tadinya tidak kenal huruf akhirnya bisa mengeja dan membaca. Namun, kesal karena anak ini cepat bosan hingga ia mencoba berbagai cara agar anak ini mau belajar,” tutur Dirgahayu.

 

Menumbuhkan Kecintaan Membaca

Relawan literasi lain dari Kampus STKIP Paracendikia Kabupaten Sumbawa, Yassa Mutiara Hidayat, juga membagikan pengalamannya. Sebelum mulai mendampingi Ibrohim, siswa kelas satu SDIT Darussunnah Desa Jorok Kecamatan Unter Iwes, dia sempat bertanya apakah anak itu lebih menyukai membaca atau menghitung. Ibrohim menjawab kalau dia lebih suka berhitung. Ketika ditanya lagi kenapa suka berhitung.  Anak itu menjawab pendek, karena tidak suka membaca.

Jawaban itu justru kemudian menjadi pendorong bagi Yassa untuk menanamkan serta menumbuhkan kecintaan membaca pada Ibrohim.

Yassa juga membangun komunikasi dengan guru sekolah Ibrahim. Dari sang guru, Yassa mengetahui jika anak dampingannya ini memang masih mengalami kesulitan membaca. Berbekal instrumen pengukuran yang didapatkan dari pelatihan bersama INOVASI, Yassa lalu mengidentifikasi tingkat kemampuan membaca Ibrahim dan kemudian mengetahui bahwa dia berada di level kata yakni vokal dan konsonan.

“Saya lalu ajak Ibrohim belajar membaca. Saya mulai dari membaca satu paragraf, ia belum bisa. Turun ke kalimat belum bisa juga. Selanjutnya kata masih lambat, dan huruf ada yang tertukar,” ujarnya.

Yassa Mutiara Hidayat dengan anak dampingannya. Sebagai calon guru, kegiatan Relasi ini memberinya banyak pengalaman berharga

Untuk menarik minat belajar Ibrohim, Yassa menggunakan aplikasi Secil (Serial Belajar si Kecil). Namun, ia juga selalu membawa buku pegangan dari sekolah, hingga Yassa memilih dua sampai 5 suku kata agar Ibrohim belajar membaca dari situ.

Lalu, Yassa membuat media arisan kata, agar anak dampingannya punya suasana belajar yang berbeda. Di potongan kertas ditulis 2-3 suku kata. Lalu, ia meminta Ibrohim mengambil kertas kata dan cobalah baca. Apabila bisa dibaca maka akan diberikan hadiah. Ini memantik semangat Ibrahim untuk berupaya keras membaca meski tetap masih berjalan lambat.

Ketika ia sulit sebut kata, ternyata Ibrohim tidak bisa mengeja. Mungkin dia awal belajar suku kata tanpa mengeja. Saya dulu juga tidak belajar mengeja karena langsung gunakan huruf Hijaiyah seperti ba, bi, bu,” ungkap Yasa.

Untuk membantu Ibrohim menyusun kalimat, Yasa menggunakan kartu kata. Tetapi proses membacanya lambat. Hingga, ia kembali gunakan aplikasi Secil yang dikombinasikan dengan permainan tebak kata. Saat permainan dimulai, akan muncul balon kata, contohnya kata meja. Balon akan bergerak cepat keatas. Ibrohim langsung menebak kata meja.

“Karena dia sambungkan awalan kata me yang familiar sehingga cepat bisa ditebak. Ketika saya tanya, hebat ya bisa tebak cepat di kata meja. Kemudian dia menjawab, ia karena itu awalan ‘Me’ ibu guru,” cerita Yassa sembari tertawa.

Selain itu, Yassa juga gunakan aplikasi buku digital Let’s Read disela kegiatan belajar. Dengan aplikasi ini dia membacakan cerita anak kepada Ibrohim.

“Saya bacakan cerita, pilihlah yang disuka. Lalu Ibrohim pilih yang gambarnya bagus. Setelah baca, saya ambil beberapa kata, coba kita latihan baca. Seiring berjalannya waktu, pendampingan saya memasuki minggu ke 8. Alhamdulillah, Ibrohim sekarang sudah ada perubahan, dimana dia mulai lancar membaca,” kata Yassa.

Bagi Yassa, mahasiswa semester delapan yang tengah sibuk menyelesaikan tugas akhir ini, program Relasi terasa sangat memberi bermanfaat. Dia sendiri sesungguhnya tidak asing dengan program semacam ini. Beberapa waktu lalu dia menjadi relawan pengajar di jenjang SD ketika mengikuti program KKN.

 “Program relasi bisa jadi bekal saya untak menjadi guru ke depan. Apa strategi yang harus saya lakukan ketika siswa moodnya naik turun. Saya juga bisa introspeksi diri, bagaimana strategi agar anak betah belajar sama kita. Meskipun lagi kesal, kita harus tampil sempurna dihadapan anak dampingan,” pungkas Yassa.

Sementara itu, Aska Muta Yuliani, M.Pd, kordinator Relasi Perwakilan LPTK NTB sekaligus ketua panitia Relasi di STKIP Paracendekia mengatakan program relawan literasi di kampusnya diintegrasikan dengan dua kegiatan kampus yaitu PPL dan program Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Pada program PPL tahun 2021, ada sebanyak 56 mahasiswa dan 15 dosen pendamping yang terlibat. Adapula 14 mahasiswa dari BEM dan HMPS. Sehingga, secara keseluruhan jumlah Relasi ada 70 mahasiswa. Kebetulan kegiatan Relawan Literasi ini tak jauh berbeda dengan kegiatan kemahasiswaan di HMPS dan BEM. Aska memaparkan bahwa di program HMPS Matematika sejak tahun 2019 sudah dikenal program Relawan numerasi.

 “Kegiatan pembekalan relasi pada tanggal 2 sampai 4 Maret 2021. Pada tanggal 5 kami langsung pembekalan mahasiswa PPL dan pelapasan relawan literasi,” tuturnya.

Aska Muta Yuliani, M.Pd, Koordinator Relasi STKIP Paracendikia NW, mengatakan bahwa Program Relasi di kampusnya sudah diintegrasikan dengan kegiatan kampus agar tetap bisa berkelanjutan nantinya.

Disebutkan, program relasi untuk mahasiswa PPL dirancang 2 bulan pertemuan 3-4 kali perminggu, sedangkan kegiatan kemahasiswaan untuk HMPS dan BEM selama 3 bulan karena mereka sambil kuliah juga. Selanjutnya, monitoring dilakukan dengan membuat grup Whatsapp untuk mahasiswa PPL dan kemahasiswaan serta ada juga grup dosen pembimbing.

“Sempat terjadi kesalapaham dalam menentukan level, siswa yang ada di level satu dikira level 2 oleh mahasiswa. Untungnya saya cepat turun monitoring dan evaluasi ke lapangan. Sementara untuk laporan progresnya juga lengkap. Para relasi kirimkan poto, video dan deskripsi kegiatan termasuk upaya apa saja yang sudah mereka lakukan dalam pendampingan anak,” ungkapnya.

Ia berharap, hasil akhir dari program relasi di STKIP Paracendekia bisa sesuai harapan bersama. Targetnya bukan hanya sekedar membantu guru mengetahui level mana anak didiknya membaca, tetapi siswa bisa lancar membaca dan memahami makna bacaan.

Program Relawan Literasi yang diikuti Dirgahayu dan Yassa ini merupakan hasil inisiasi dari Asosiasi Dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-NTB serta berbagai lembaga non-pemerintah yang ada di bawah bendera Konsorsium NTB Membaca dan difasilitasi oleh program INOVASI. Di program ini, sejumlah relawan diterjunkan untuk mendampingi siswa-siswa saat belajar di rumah. Fokus pendampingannya sendiri adalah pada upaya peningkatan kemampuan literasi anak-anak yang merupakan keterampilan dasar.

Para relawan yang berpartisipasi berasal dari kampus-kampus LPTK serta perwakilan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan (CSO) yang dinaungi oleh Konsorsium NTB Membaca. Ada tidak kurang dari 14 lembaga dan kampus yang turut mengirimkan relawannya. Sebelum turun langsung sebagai pendamping, para relawan terlebih dahulu mendapatkan sejumlah pembekalan yang difasilitasi oleh INOVASI melalui serangkaian pelatihan.

Relawan Literasi STKIP Paracendekia Sumbawa