Supervisi Kelas yang Berpihak pada Peningkatan Literasi

Sebastianus Dau, S.Ag., Kepala Sekolah SD Katolik Wilihi di Sumba Timur.

Sebastian Dau masuk ke dalam kelas, mengambil tempat duduk yang telah disediakan dan berada di sana untuk beberapa saat. Ia mulai membuka buku supervisi yang di dalamnya terdapat sejumlah hal yang harus dilakukan oleh guru saat mengajar. Lalu menuliskan beberapa hal yang menjadi catatannya untuk kemudian disampaikan kepada guru yang bersangkutan.

Tidak banyak yang menjadi catatan Kepala Sekolah SD Katolik Wolihi yang biasa disapa Sebas ini. Karena menurutnya, apa yang dilakukan oleh guru telah memenuhi hal-hal yang menjadi bahan supervisinya.

Seperti inilah Sebas melakukan supervisi langsung sebelum ia mendapatkan pelatihan terkait peningkatan literasi, menjadi salah seorang fasilitator daerah (fasda), dan sekolahnya menjadi mitra INOVASI. Saat itu, Sebas tidak menganggap metode pembelajaran yang masih bersifat guru sentris sebagai sebuah permasalahan yang dihadapi oleh guru. Siswa lebih banyak diam, mendengarkan, dan memperhatikan guru. Akibatnya, gagasan mereka tidak tersampaikan dan kompetensi mereka tidak berkembang.

Demikian halnya dengan kelas yang kosong tanpa pajangan dan tidak adanya media yang mendukung pembelajaran. Tidak ada buku-buku penunjang seperti buku cerita. Meski di perpustakaan ada, tapi tidak sesuai dengan jenjang siswa khususnya siswa kelas awal. Ceritanya panjang dan ukuran teksnya kecil.

Di dalam kelas, memang ada pajangan tapi hanya berupa gambar-gambar yang lazim ada di kelas seperti gambar presiden dan wakilnya serta beberapa gambar yang bernuansa religi. Tidak ada pajangan ataupun media yang menarik minat baca dan meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Sesuai dengan peraturan yang ada, kepala sekolah diwajibkan melakukan supervisi langsung – supervisi yang dilakukan dengan pemberitahuan sebelumnya kepada guru – dua kali dalam satu tahun ajaran. Diakui Sebas, dua kali supervisi sebenarnya belum cukup sehingga ia juga melakukan supervisi tidak langsung, di mana ia mengamati proses belajar mengajar dari luar kelas dan tanpa diinformasikan terlebih dahulu kepada guru. Meski begitu, supervisi yang dilakukan masih berfokus pada perangkat pembelajaran.

Setelah mendapatkan pelatihan pertama untuk KKG Literasi Kelas Awal tahap satu, Sebas mulai memahami bagaimana guru seharusnya mengajar. Di sana, ia belajar bagaimana guru bisa menciptakan kelas yang literat, membuat media pembelajaran dan menggunakannya dengan efektif untuk membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa.

Meski tidak mendampingi sekolahnya secara langsung, posisinya sebagai seorang fasda dan kepala sekolah memudahkan Sebas untuk melakukan supervisi pelaksanaan program Literasi Kelas Awal di sekolahnya.

Kini, supervisi yang dilakukan oleh Sebas tidak lagi hanya sebatas perangkat pembelajaran tapi juga bagaimana guru mengimplementasikan apa yang mereka dapatkan selama pelatihan program INOVASI. Untuk mendukung implementasi tersebut, Sebas bahkan melakukan perubahan pada RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) untuk pengadaan bahan-bahan kelas pembuatan kelas literat dan media belajar.

Sebas juga mengupayakan pengadaan buku-buku penunjang literasi. Selain buku-buku berjenjang dari INOVASI, Sebas juga mendapatkan kiriman buku dari seorang temannya. Kiriman buku itu berawal dari status Facebook yang Sebas unggah tentang pelaksanaan program INOVASI di sekolahnya.

Bagi dirinya, Sebas mengaku program Literasi Kelas Awal membantunya mengenal bagaimana penataan ruang kelas, metode mengajar guru, dan penggunaan media pembelajaran yang baik dan sesuai kebutuhan siswa. Sehingga pada saat melakukan supervisi dan penganggaran, semua aspek ini juga ia perhatikan.

Menurut pengamatan dan supervisi yang dilakukan oleh Sebas, sejauh ini guru-guru yang mendapatkan pendampingan mempraktikkan apa yang mereka dapatkan selama pelatihan dan pendampingan dari fasda. Hal ini bisa dilihat dari kelas-kelas yang sudah literat. Guru-guru juga sudah membuat dan menggunakan media belajar yang sesuai kebutuhan/kemampuan membaca siswa.

Dalam proses pembalajaran, guru hanya menjadi fasilitator dan lebih banyak menggali kemampuan berpikir siswa dengan bantuan media belajar. “Artinya siswa sudah lebih aktif dibanding guru, sebagaimana yang diharapkan – memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif,” kata Sebas.

Semua ini berkontribusi pada peningkatan minat dan kemampuan baca siswa. Sejak kelas menjadi literat, siswa sering menghabiskan waktu di luar jam pembelajaran untuk membaca dan bermain menggunakan media belajar di dalam kelas. Siswa yang pada awal asesmen kemampuan berada pada kelompok mengenal huruf, dalam tiga bulan sudah naik ke level yang lebih tinggi seperti membaca suku kata dan kata.

Peningkatan ini bisa dilihat dari laporan perkembangan siswa yang guru-guru serahkan kepada Sebas. Meski begitu, Sebas ingin melihat secara langsung perkembangan kemampuan siswa di kelas. “Saya biasa langsung ke kelas dan menguji siswa. Ternyata perkembangannya memang seperti yang dilaporkan oleh guru,” ujar Sebas.

Perkembangan juga bisa dilihat dari siswa yang duduk di kelas empat. Sebelumnya masih ada siswa yang masih mengeja. Sekarang, semua siswa kelas empat – yang mendapatkan pendampingan saat kelas tiga – sudah bisa membaca.

Melihat dampak yang dihasilkan, Sebas mengajak kepada seluruh kepala sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Kabupaten Sumba Timur untuk menghadirkan program INOVASI di sekolah masing-masing.

Supervisi Kelas yang Berpihak pada Peningkatan Literasi