Tidak Ada Perpustakaan? Pustaka Mini Bisa Jadi Solusi

Upaya untuk menarik minat baca siswa di SD Negeri Wee Lalaka di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, terus dilakukan oleh guru-guru dan kepala sekolah. Sekolah yang terletak di kaki bukit di Kabupaten Sumba Barat ini sebenarnya sudah memiliki bangunan khusus untuk perpustakaan. Namun, gedung tersebut sudah lama tidak digunakan karena kondisinya yang membahayakan siswa. Tembok dindingnya sudah rusak, plafonnya sudah bolong-bolong. Di beberapa bagian, bahkan tripleksnya terlihat menggantung. Karena kondisi tersebut, sekolah akhirnya menjadikan tempat penyimpanan beberapa peralatan sekolah. Sebenarnya sekolah sudah melaporkan kondisi ini dan mengajukan pendanaan perbaikan ke dinas pendidikan setempat namun sampai saat ini belum dianggarkan.

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, pendampingan INOVASI melalui program Literasi Kelas Awal di sekolah ini telah menghasilkan sudut baca di ruang-ruang kelas – khususnya di kelas awal. Namun, karena hanya berupa meja kecil, sudut baca tersebut tidak bisa memuat banyak buku untuk dipajang. Oleh karena itu, Fasilitator Daerah (Fasda) untuk sekolah ini berinisiatif untuk membuat pustaka mini.

Pustaka mini ini terbuat dari beberapa potong bambu yang disusun menyerupai rak dan digantung di dinding. Pembuatannya pustaka mini dilakukan oleh para guru. Pemilihan bambu sebagai bahan dasar dikarenakan tumbuhan tersebut banyak tumbuh di lingkungan sekitar.

Buku-buku yang dipajang di pustaka ini adalah buku-buku cerita penunjang literasi. Terkadang beberapa buku pelajaran juga dipajang di sana. Setiap bulannya, guru-guru kelas mengganti buku yang dipajang agar siswa tidak bosan. Jumlah buku yang dipajang disesuaikan dengan jumlah siswa dalam kelas.

Menurut Sori Kadiwano, Kepala Sekolah SD Negeri Wee Lalaka, kehadiran pustaka mini ini mengundang minat baca siswa. “Saya melihat sendiri siswa menggunakan buku-buku yang ada di sudut baca dan pustaka mini untuk membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Dan itu dilakukan tanpa harus diinstruksikan oleh gurunya,” ungkapnya. Bahkan lebih jauh, kata Sori, ini telah menjadi kebiasaan bagi para siswa. Saat guru berhalangan hadir misalnya, para siswa dengan sendirinya akan membaca buku-buku yang ada di dalam kelas – termasuk yang ada di pustaka mini.

Tak hanya di kelas awal, kini kelas tinggi pun sudah mereplikasi apa yang dilakukan oleh guru-guru di kelas awal. Guru-guru kelas tinggi juga menghadirkan pustaka mini di dalam kelas mereka.

Sori berharap agar ke depannya, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat dan lembaga-lembaga pemerhati literasi terus mendukung pengadaan buku-buku untuk pustaka mini ini. “Agar semangat baca anak-anak terus terjaga, buku-buku perlu diperbarui. Kami berharap agar dinas dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam peningkatan literasi bisa mendukung kami untuk pengadaan buku-buku,” kata kepala sekolah yang sudah menjabat selama 2 tahun ini.

Tidak Ada Perpustakaan? Pustaka Mini Bisa Jadi Solusi