Penyederhanaan dan Pembuatan Media Pembelajaran sesuai Kompetensi Dasar Kurikulum Khusus di NTT

Training of Traininers (ToT) Pembelajaran di Masa Pandemi kembali digelar di Kabupaten Sumba Timur dan Nagekeo 16-18 Maret 2021. Pelatihan yang digunakan akan masih sama dengan materia yang digunakan pada ToT sebelumnya di Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Perbedaan kali ini, Kabupaten Sumba Timur dan Nagekeo tidak mempilotkan modul Kurikulum Khusus, tapi lebih fokus pada penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai Kompetensi Dasar dalam Kurikulum Khusus. 

Setelah mengadakan ToT Pola Pembelajaran di Masa Pandemi untuk Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya pada 5-6 Maret 2021, INOVASI NTT kembali menggelar pelatihan yang sama untuk Kabupaten Sumba Timur dan Nagekeo. Namun, pelatihan ini sedikit berbeda dengan yang sudah diadakan untuk ketiga kabupaten karena Kabupaten Sumba Timur dan Nagekeo tidak akan mempilotkan modul-modul Kurikulum Khusus.

Sebab itu, kegiatan yang dilakukan secara semi virtual pada 16-18 Maret 2021 lebih difokuskan pada penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai Kompetensi Dasar (KD) dalam Kurikulum Khusus untuk diterapkan di tiga sekolah di masing-masing kabupaten.

Manajer INOVASI NTT, Hironimus Sugi dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa dalam situasi pandemi, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam mengajar siswanya. “Jika kita menggunakan pendekatan merdeka belajar, maka para guru diharapkan mampu berinovasi, belajar mandiri dan kreatif dalam memberi pelajaran untuk siswa-siswinya. Jika dikaitkan dengan penerapan kurikulum, apakah dalam situasi pandemi kita harus terpaku pada satu kurikulum saja? Kita harus melihat arahan kurikulum dan fleksibilitas yang diberikan untuk kita,” katanya.

Karenanya, menurut Hironimus, para Fasda, setelah melakukan penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai KD dalam Kurikulum Khusus, akan memberikan pelatihan bagi para guru. “Para fasilitator nantinya akan memberikan pelatihan kepada para guru agar dapat menghasilkan bahan ajar sesuai kebutuhan wilayah masing-masing. Selanjutnya akan diukur kemajuan yang diperoleh sebelum dan setelah penyederhanaan. Nantinya kita juga akan membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL),” jelasnya.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber seperti perwakilan dari Susanti Sofiandi dari Kemendikbud, Suyitno dari Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, perwakilan dari Provinsi NTT dan INOVASI NTT.

Susanti Sofiandi menyatakan bahwa Mendikbud telah mengeluarkan kebijakan tentang kegiatan belajar dari rumah, yang salah satunya adalah pedoman pelaksanaan Kurikulum Khusus. “Sebelumnya, Pusat Penelitian Kebijakan Kemendikbud telah melakukan survei kepada kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua tentang pola pembelajaran dari rumah. Hasil survei adalah telah terjadi proses adaptasi selama masa belajar dari rumah. Akan tetapi terdapat beberapa kendala antara lain adanya tekanan pada siswa, orang tua dan guru. Hal lain yang muncul adalah kekhawatiran bahwa jika tidak ada relaksasi atau penyederhanaan kurikulum, maka kegiatan belajar dari rumah tidak akan maksimal,” jelasnya.

Kurikulum Khusus hadir sebagai untuk merespon tantangan-tantangan tersebut, lanjut Susanti. Meski begitu, pilihan untuk menerapkan kurikulum yang mana diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, sesuai dengan kesiapannya. “Karenanya, untuk sekolah yang tidak menjadi pilot penerapan Kurikulum Khusus, perlu dilakukan penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai KD dalam Kurikulum Khusus, yang harus sesuai dengan keadaan di masing-masing wilayah,” tegasnya.

Sementara itu, Suyitno dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, menjelaskan bahwa dalam menganalisis penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai KD dalam Kurikulum Khusus harus ada keseimbangan antara antara pengetahuan dan keterampilan setelah penyederhanaaan.

Suyitno mencontohkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia, memiliki pengetahuan artinya mampu merinci kosakata, sementara keterampilan berarti mampu menggunakan kosakata. “Contohnya, penyederhanaan KD dalam pelajaran bahasa Indonesia adalah siswa tetap harus mampu melakukan perkenalan diri, menyebutkan nama-nama anggota keluarga, menghitung jumlah anggota keluarga, menceritakan kegiatan anggota keluarga, menulis namanya sendiri, menulis nama anggota keluarga dan menggambar anggota keluarga. Sementara pada pelajaran matematika, yang harus dimiliki adalah keterampilan abstrak dan konkrit,” jelasnya.

Suyitno menyatakan bahwa para guru harus mampu menganalisis KD yang sesuai dan kemudian mengidentifikasi media/sumber ajar di sekitar murid, menentukan dan membuat media/sumber ajar berdasarkan KD/skenario pembelajaran dan membuat lembar kerja sesuai KD yang dipilih.

Para peserta pelatihan menyatakan bahwa di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Sumba Timur, kurikulum yang diterapkan adalah Kurikulum Tahun 2013 (K13), sementara metode pembelajaran yang digunakan pada masa pandemi pada umumnya adalah pembelajaran dari rumah serta tatap muka dengan sistem bergiliran. Sistem pembelajaran secara daring tidak banyak dilakukan sebab terkendala ketersediaan gawai baik pada orang tua maupun siswa, serta akses jaringan internet yang tidak selalu ada.

Guru pada umumnya telah mengetahui tentang adanya opsi penerapan Kurikulum Khusus dan menyepakati bahwa penyederhanaan dan pengurangan KD akan sangat baik untuk pembelajaran di masa pandemik sebab dapat mengurangi beban siswa, guru dan orang tua. Terkait penyederhanaan dan pembuatan media pembelajaran sesuai KD dalam Kurikulum Khusus, Fasda dari Kabupaten Sumba Timur menyepakati dalam diskusi kelompok bahwa hal tersebut akan diterapkan pada kelas I-IV, sementara untuk Kabupaten Nagekeo diterapkan di kelas III.

Yang menjadi polemik di antara para peserta adalah persoalan skenario belajar yang disederhanakan, skema penilaian yang harus digunakan untuk untuk menguji indikator kemampuan, dan atau keterampilan serta penggunaan media belajar. Masing-masing Fasda menyampaikan pendapat yang berbeda-beda tentang penentuan KD yang tepat bagi setiap kelas dan mata pelajaran serta penggunaaan media belajar yang sesuai dan tersedia, sesuai keadaaan masing-masing wilayah.

Mereka juga mengusulkan dilakukan studi banding atau pembelajaran langsung ke sekolah-sekolah yang menerapkan Kurikulum Khusus agar dapat mencontohi hal-hal penting dalam penerapannya. Menanggapi hal tersebut, Hironimus Sugi menyatakan bahwa segala dinamika dalam diskusi tersebut adalah modal penting dalam mengambil kebijakan lainnya. Hironimus menyatakan bahwa semua hal yang disampaikan para guru tentunya berdasarkan pengalaman di lapangan dan hal-hal tersebut akan menjadi masukan dalam tindakan selanjutnya dan diharapkan dapat memperkaya kualitas para guru.

Penyederhanaan dan Pembuatan Media Pembelajaran sesuai Kompetensi Dasar Kurikulum Khusus di NTT