Penerapan Kurikulum Khusus Masih Butuh Pelatihan dan Pendampingan Lebih Lanjut

Pada bulan April 2021 telah diadakan Lokakarya Manejemen Pembelajaran di Masa Pandemi di Kabupaten Nagekeo. Lokakarya ini diadakan di berbagai kecamatan di Nagekeo. Tujuan dari lokakarya ini adalah memberikan pemahamankepada guru kelas awal mengenai Kurikulum Khusus terutama terkait dengan Kompetensi Dasar pembuatan media belajar. Seusai lokakarya ini, ditemukan bahwa Kurikulum Khusus ternyata masih membutuhkan pelatihan dan pendampingan lebih lanjut. 

Pada bulan April 2021, telah diadakan Lokakarya Manejemen Pembelajaran di Masa Pandemi pada bulan April 2021 di Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini dilaksanakan di SD Inpres Towak, dan secara paralel di SD Negeri Ndora di Kecamatan Nangaroro, dan SD Katolik Olakile di Kecamatan Boawae. Lokakarya ini bertujuan memberikanpemahaman kepada guru kelas awal tentang Kurikulum Khusus, terutama terkait penyederhanaan Kompetensi Dasar (KD) dan pembuatan media belajar.

“Sejujurnya, yang kami pahami dari Kurikulum Khusus hanyalah sebatas penyederhanaan kegiatan belajar, terutama saat menerapkan BDR. Kami mengetahui ada modul yang dapat menjadi pedoman kami, namun karena keterbatasan jaringan internet, maka modul tersebut tidak dapat kami akses,” ujar Kristina Nining, guru Kelas III SD Inpres Towak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo saat mengikuti kegiatan lokakarya tersebut. (28-30/04).

“Dalam masa sulit akibat pandemi, kita perlu melihat cara-cara yang mempermudah dan membantu merancang pembelajaran yang baik dalam situasi terbatas. Karenanya INOVASI mengadakan kegiatan ini, agar para guru memiliki pemahaman tentang Kompetensi Dasar. Terutama karena sebagian guru menghadapi kendala jaringan internet, sehingga sulit mengakses modul-modul dari Kemendikbud,” jelas Ami Priwardhani, District Officer INOVASI di Kabupaten Nagekeo yang turut hadir pada kegiatan tersebut.

Menurut Kristina, ia menerapkan Kurikulum Khusus sebatas apa yang dipahaminya saja. ”Saya hanya mengajarkan materi tertentu kepada anak-anak, sesuai pemahaman saya tentang kompetensi dasar dalam Kurikulum Tahun 2013. Jadi, sekedar menyesuaikan dengan waktu dan kenyataan bahwa kegiatan belajar lebih banyak dilakukan di rumah,” akunya.

Setelah mendapatkan pelatihan dari Fasda INOVASI, dirinya baru memperoleh pemahaman tentang berbagai hal terkait Kurikulum Khusus. “Setelah pelatihan dan langsung mempraktekan materi, saya baru sedikit paham. Untuk materi hari pertama tentang pemahaman Kompetensi Dasar, saya telah paham bahwa ada hal penting dalam Kompetensi Dasar yaitu menemukan kata kunci yang tepat, dan harus seimbang antara pengetahuan siswa dan keterampilan siswa.

Lalu harus ada kesesuaian antara tahapan pemantik, penjelasan dengan Kompetensi Dasar. Dengan demikian penyederhanaan kompetensi dasar tidak akan memengaruhi kualitas pendidikan. Siswa akan tetap mampu menguasai materi dasar yang disyaratkan, namun dalam cara yang lebih singkat dan sederhana,” jelasnya.

Hal yang paling meringankan para guru, lanjut Kristina, adalah penggunaan media belajar sederhana. Misalnya untuk pelajaran matematika, media belajar dapat menggunakan biji jagung, biji asam, kerikil atau lidi, sesuai ketersediaan media di sekitar. “Hal ini sangat meringankan guru dan siswa. Terutama saat semua aspek kehidupan terganggu karena pandemi dan pembelajaran dilakukan dengan BDR. Kita dapat memanfaatkan media sederhana namun menghasilkan kualitas yang sesuai,” tambahnya.

 

 

Pelatihan diberikan oleh sejumlah fasilitator daerah (Fasda) yang sebelumnya telah mengikuti Pelatihan untuk Pelatihan atau TOT bersama INOVASI pada Maret 2021 lalu. Salah satu Fasda yang memfasilitasi pelatihan tersebut, Emanuel Bate, menjelaskan bahwa selama pelatihan, guru kelas awal mempelajari analisis Kompetensi Dasar, pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pembuatan Lembar Kerja (LK) hingga penilaian terhadap siswa, sesuai ketentuan Kurikulum Khusus.

“Hal ini sangat membantu para guru sebab pengembangan perangkat pembelajaran di masa pandemi yang diajarkan disesuaikan dengan keadaan sebenarnya di sekolah. Selanjutnya, para guru kelas awal akan didampingi para Fasda sampai ke ruang kelas, untuk memastikan keberhasilan pelatihan ini,” ungkapnya.

Emanuel mengharapkan agar kelak pemahaman yang diperoleh peserta pelatihan, dapat dibagikan kepada guru-guru di sekolah lainnya. “Sebab baru tiga sekolah yang mengikuti pelatihan dan setiap sekolah didampingi oleh dua orang Fasda dari total 6 Fasda, (diharapkan agar) ilmu yang diperoleh dapat disebarkan kepada para guru kelas awal lainnya,” harapnya.

 

Pada hari pertama lokakarya tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagekeo, Tiba Aloysius, turut hadir dan membuka kegiatan. Pada kesempatan tersebut, ia menyatakan bahwa nantinya tiga sekolah yang memperoleh pelatihan dan mendapat pendampingan fasda akan dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya untuk melihat bagaimana dampak dari pendampingan tersebut.

“Kabupaten Nagekeo sangat bersyukur, sebab pada masa pandemi yang sulit ini, dengan pendampingan INOVASI, kita dapat mencari instrumen tepat yang dapat mengukur keberhasilan pembelajaran pada kelas-kelas awal, terutama dalam penerapan Kurikulum Khusus yang masih perlu kita pahami,” jelasnya.

Pada kegiatan hari pertama tersebut, materi yang disajikan adalah analisis Kompetensi Dasar dan penyusunan RPP. Para guru kelas awal langsung mempraktekan menyusun analisis Kompetensi Dasar pada tiga mata pelajaran berbeda yaitu PPKn, matematika dan bahada Indonesia. Hasilnya kemudian didiskusikan bersama para Fasda untuk perbaikan dan penyempurnaan.

Penerapan Kurikulum Khusus Masih Butuh Pelatihan dan Pendampingan Lebih Lanjut