Big Book: Salah Satu Alat Bantu Pembelajaran yang Mudah, Terjangkau, dan Kontekstual

Sejak pertama kali diciptakan sekitar 2400 SM lalu, buku telah menjadi sumber utama pengetahuan dan terus menjadi alat bantu pembelajaran hingga saat ini. Bentuknya pun semakin beragam. Selain dalam bentuk cetak seperti yang digunakan selama ini, buku kini juga tersedia dalam bentuk digital atau elektronik. Begitu pula dengan jenisnya. Tak hanya buku nonfiksi, buku-buku fiksi seperti novel, komik, dan dongeng juga semakin berkembang.

Dalam konteks pembelajaran di sekolah, guru kini tidak hanya menggunakan buku teks saja tapi juga buku nonteks seperti buku cerita untuk meningkatkan minat baca siswa – dan pada akhirnya meningkatkan kemampuan berbahasa siswa.Ketersediaan buku non-teks seperti ini masih menjadi tantangan terutama di Indonesia bagian timur, seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menyadari pentingnya buku non teks yang kontekstual bagi peserta didik, terutama siswa sekolah dasar, Dinas Pendidikan di Pulau Sumba, NTT melibatkan guru-guru yang sebelumnya telah mengembangkan Big Book bersama INOVASI untuk Kembali membuat Big Book lalu kemudian mencetak dan mendistribusikannya ke berbagai sekolah di daerahnya.

 

Survei yang dilakukan oleh program Inovasi untuk Anak Indonesia (INOVASI) pada tahun 2017 dan 2018 menemukan bahwa salah satu hambatan utama dalam meningkatkan hasil pembelajaran siswa terutama dalam literasi adalah ketidaktersediaan buku bacaan yang menarik dan sesuai dengan jenjang pendidikan maupun kemampuan siswa.

Maka dari itu, bersama sejumlah lembaga mitra pelaksana program, INOVASI telah menyediakan lebih dari 70.000 buku cerita anak di sekolah-sekolah mitra di keempat kabupaten di pulau Sumba. Tidak sampai di situ, INOVASI juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada guru-guru terkait penggunaan buku-buku tersebut, di dalam maupun di luar proses pembelajaran di kelas.

Guru-guru juga didorong agar lebih kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran yang mudah, terjangkau, dan kontekstual. Salah satunya adalah Big Book atau Buku Besar. Sesuai namanya, buku ini berukuran lebih besar dari buku-buku yang biasa digunakan di kelas. Dengan kalimat yang tidak panjang, Buku Besar sangat sesuai untuk pembaca pemula seperti siswa kelas awal. Teks dan gambarnya pun dibuat besar agar semua siswa lebih mudah melihatnya.

Membuat Buku Besar tidaklah sulit. Seperti yang dilakukan oleh Sahida Pekapari, guru kelas 1 di SD Inpres Haming, salah satu sekolah mitra INOVASI di Kabupaten Sumba Timur. Menurut Sahida, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu pokok bahasan yang menjadi topik Buku Besar tersebut. Topik tersebut disesuaikan dengan muatan pelajaran yang ingin disampaikan. Misalnya tentang bagaimana bersikap.

“Dari pokok bahasan ini, saya kemudian memilih membuat cerita tentang Pancasila. Tujuannya agar siswa dapat lebih memahami bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” kata Sahida. Big Book dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir tinggi siswa (Higher Order Thinking Skills – HOTS) yakni terutama dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Kesesuaian konten dengan kemampuan dan kondisi pemahaman siswa adalah kunci. Agar lebih mudah dipahami oleh siswanya, kedua guru tersebut mengembangkan Buku Besar dengan tema yang dekat dengan keseharian anak. Misalnya, salah satu halaman dalam Buku Besar yang dibuatnya menceritakan aktivitas berdoa yang rutin dilakukan oleh siswa-siswa sebelum dan sesudah pelajaran. Setelah membaca kalimat yang ada, Sahida akan memancing siswanya dengan pertanyaan seperti, “Berdoa seperti yang kita lakukan tadi merupakan pengamalan dari sila pancasila yang ke berapa?” yang kemudian dijawab oleh para siswa, “Sila pertama.”

Sahida lalu melanjutkan dengan pertanyaan untuk memancing kemampuan siswa untuk menghubungkan informasi dan pengalaman mereka, “Mengapa berdoa itu termasuk pengamalan sila pertama?” Jawaban siswa pun beragam tapi semuanya bermuara pada pemahaman bahwa sila pertama Pancasila mengandung makna agar setiap warga negara senantiasa menjunjung tinggi keyakinan mereka baik dalam beribadah maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari dan berdoa adalah salah satu bentuk ibadah.

Setelah mengetahui topiknya, Sahida menjelaskan, langkah selanjutnya adalah pembuatan kerangka Buku Besar yang kemudian dikembangkan menjadi kalimat-kalimat utuh dan koheren. Langkah terakhir adalah penambahan ilustrasi. Langkah ini bisa dilakukan dengan menggambar secara manual, menempel gambar dari buku atau majalah, ataupun mengambil gambar dari internet. Ilustrasi yang digunakan harus menggambarkan isi dari kalimat yang ada pada setiap halaman.

Berkat penggambaran cerita yang menarik, Buku Besar Sahida yang berjudul “Rambu Anak yang Baik” terpilih menjadi salah satu dari 18 judul Buku Besar yang dikembangkan oleh guru-guru di Sumba Timur untuk dicetak oleh INOVASI dan dinas pendidikan setempat.

Menyadari pentingnya buku non teks yang kontekstual bagi peserta didik, terutama siswa sekolah dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur melibatkan guru-guru yang sebelumnya telah mengembangkan Buku Besar bersama INOVASI untuk kembali membuat buku-buku non teks kontekstual. Dinas pendidikan bekerja sama dengan Yayasan Damaring dan menghasilkan 40 judul buku dan telah dilengkapi dengan ISBN dan dicetak sebanyak 8.000 eksemplar. Hanya saja, karena situasi pandemi Covid-19, distribusi buku-buku tersebut, termasuk Buku Besar yang telah diproduksi bersama INOVASI harus ditunda.

Buku Besar tidak hanya dikembangkan oleh guru-guru di Kabupaten Sumba Timur, tetapi juga di Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya. Total judul Buku Besar yang dikembangkan di empat kabupaten tersebut adalah 35 dengan tingkat kesulitan berbeda-beda tetapi dengan konten yang tetap dekat keseharian anak seperti berkebun, rumah adat, bermain, dan budaya lokal.

Kreativitas guru tidak hanya sampai topik-topik yang diangkat. Di Sumba Barat, masih banyak siswa SD khususnya di kelas awal yang belum mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Di SD Negeri Lokory misalnya, guru kelas 1, Apliana B. Awang, membuat Buku Besar dwi bahasa, dalam bahasa lokal dan bahasa Indonesia. Ini ia lakukan untuk membantu siswa lebih cepat mengenal dan memahami apa yang dipelajari. Misalnya untuk mengenalkan huruf M, Apliana menggunakan gambar ayam dengan kata “Manu” dan Ayam di bawahnya. Manu adalah bahasa setempat untuk kata Ayam. Dengan menggunakan kata Manu, siswa lebih cepat mengerti bahwa kata Ayam adalah terjemahan dari kata Manu. Huruf M pun terdapat pada kata Manu dan Ayam sehingga membantu siswa dalam pelafalan dan cara membacanya, baik dalam bahasa setempat maupun bahasa Indonesia.

Baik Sahida maupun Apliana mengaku melihat perkembangan yang siginifikan dari para siswa setelah menggunakan media Buku Besar. “Anak-anak jadi lebih semangat dan aktif dalam belajar,” kata Sahida. Sementara menurut Apliana, peningkatan kemampuan membaca anak bisa lebih pesat. “Ada siswa yang bisa sampai pada level ‘Membaca untuk Pemahaman’ dalam empat bulan,” ungkapnya.

Secara total, INOVASI dan dinas pendidikan di masing-masing kabupaten mitra di Pulau Sumba mencetak lebih dari 450 eksemplar Buku Besar dan telah didistribusikan ke sekolah-sekolah mitra INOVASI dan sejumlah sekolah lainnya di setiap kabupaten.

Big Book: Salah Satu Alat Bantu Pembelajaran yang Mudah, Terjangkau, dan Kontekstual