Big Book Dengan Konteks Lokal Lejitkan Kemampuan Membaca Siswa

Setiap hari, Apliana Bera Awang, guru kelas 1 SD Negeri Lokory, Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat, NTT mencari cara agar siswanya semangat dalam belajar. Ketiadaan alat bantu pembelajaran yang menarik membuat ia kesulitan untuk mendapatkan perhatian siswanya selama kelas berlangsung. Bisa dimaklumi, masih banyak sekolah di daerah terpencil seperti sekolah Apli – sapaan akbrabnya – yang belum mendapatkan atau memiliki alat bantu untuk menunjang pembelajaran di kelas. Bisa dikatakan, alat bantu pembelajaran adalah sesuatu yang langka di sekolah Apli. Kalaupun ada – seperti buku – biasanya tidak sesuai dengan jenjang siswa.

Kreatif Membuat Alat Bantu Pembelajaran

Setelah mengikuti pelatihan Kelompok Kerja Guru (KKG) Literasi Kelas Awal, Apli mendapatkan ide tentang bagaimana mengatasi permasalahan yang ia hadapi. Di salah satu sesi pelatihan tersebut, Apli belajar tentang bagaimana membuat alat bantu pembelajaran yang dinamakan Big Book (Buku Besar). Dinamakan demikian karena memang ukuran buku ini lebih besar daripada buku-buku yang biasa digunakan dalam pembelajaran di kelas. Menariknya, buku ini bisa dibuat sendiri oleh guru menggunakan bahan-bahan yang sederhana.

Karena belum pernah melihat buku seperti ini sebelumnya, Apli pada awalnya tidak pernah berpikir alat bantu seperti buku besar bisa dibuat sendiri dan digunakan untuk membantu siswa dalam pembelajaran. Selepas KKG, ia dan guru lainnya dari SD Negeri Lokory meminta kepala sekolah dan bendahara sekolah untuk menyiapkan kertas karton dan spidol. Hal menarik lainnya dari buku ini adalah, kontennya bisa disesuaikan dengan konteks lokal sehingga siswa bisa lebih cepat memahami apa yang dipelajari.

Apli dan guru-guru lainnya mengembangkan cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak Sumba, seperti keluarga, baju adat, rumah adat, dan buah-buahan yang semuanya berkaitan dengan kondisi dan budaya Sumba, khususnya Sumba Barat. Kolaborasi antara Apli dan guru-guru lainnya menghasilkan setidaknya 20 unit buku besar dengan cerita yang berbeda sesuai dengan di tingkat berapa buku tersebut digunakan.

Selanjutnya pada bulan Agustus 2019, Apli mengembangkan sendiri buku besar untuk digunakan di kelasnya. Hingga saat ini, ia telah mengembangkan 14 unit buku yang disesuaikan dengan tema pembelajaran. Untuk lebih menyesuaikan dengan konteks lokal, Apli bahkan menggunakan bahasa setempat untuk keempat belas buku tersebut.

Apli menggunakan buku besar sebanyak 3 sampai 4 kali dalam seminggu tetapi anak-anak sering membaca buku tersebut di luar jam pembelajaran. Dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), buku besar digunakan pada saat membaca bersama. Pada kegiatan ini, Apli memilih buku besar yang kontennya sudah familiar dengan dan dapat dibaca oleh siswa. Misalnya buku tentang buah-buahan. Selain membaca bersama, Apli juga menggunakan buku besar untuk membaca pemodelan. Pada kegiatan membaca pemodelan, Apli akan membacakan kata-kata yang ada dalam buku lalu siswa mengikutinya. Menariknya, siswa yang sudah cukup lancar membaca buku tersebut bisa bertindak sebagai model, membacakan isi buku sementara siswa lainnya mengikuti.

Untuk melihat apakah siswanya telah memahami pelajaran atau tidak, Apli biasanya meminta mereka untuk menceritakan kembali apa yang telah dibacakan, lalu mengajukan beberapa pertanyaan seperti berikut:

Apli: (Sambil menunjuk gambar pada buku besar) “Ini gambar apa?”

Siswa: (Serentak dan semangat) “Bajuuuuuuuuuuu…”

Apli: “Baju itu, huruf awalnya apa?”

Siswa: “Beeeeeeee…” (Huruf B)

Menurut Apli, penggunaan buku besar ini terbukti berhasil meningkatkan semangat belajar siswa. Anak-anak jadi rajin ke sekolah dan melihat buku besar di dalam kelas mereka. Bahkan ada siswa yang berusaha agar terlihat seperti gurunya saat membacakan buku besar kepada siswa lainnya.

Semangat mereka berkontribusi pada perkembangan kemampuan mereka. Sebagai contoh, semua siswa kelas 1 tahun ajaran 2019/2020 pada awal asesmen – bulan Agustus 2019 – berada pada tingkat mengenal huruf. Empat bulan kemudian, hanya lima orang yang masih berada di tingkat ini, bahkan sudah ada yang mencapai tingkat membaca pemahaman. Perkembangan siswa asuhan Apli bisa dilihat pada tabel berikut:

Tingkat kemampuan membaca

Jumlah siswa
Agustus 2019

November 2019

Membaca huruf

18 siswa 5 siswa

Membaca suku kata

0 siswa

3 siswa

Membaca kata

0 siswa

7 siswa

Membaca lancar 0 siswa

2 siswa

Membaca pemahaman 0 siswa

1 siswa

Pembelajaran untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Ada kisah menarik saat Apli mengajar siswa kelas 1 tahun ajaran sebelumnya (sekarang sudah kelas 2). Apli memperhatikan ada seorang siswanya yang setiap hari hanya datang, duduk, diam, lalu pulang usai jam pelajaran terakhir. Melihat kebiasaan anak itu, Apli tidak yakin dia bisa naik kelas. Saat itu, Apli belum mengenal yang namanya buku besar, atau alat bantu belajar lainnya selain buku-buku teks. Setelah membuat buku besar, ia kemudian menggunakannya untuk memberikan bimbingan khusus pada siswa tersebut. Apli tidak menyangka siswa tersebut berhasil mencapai tingkat membaca kata dan bisa naik ke kelas 2.

“Dengan adanya buku besar, anak-anak semakin aktif. Keingintahuan mereka berkembang pesat sehingga kelas menjadi lebih interaktif. Hal ini juga membuat saya pribadi berpikir lebih kreatif untuk mengembangkan buku besar lainnya yang bisa membantu siswa lebih cepat bisa membaca,” kata Apli.

Melihat capaian yang telah diperoleh sejauh ini, Apli sangat senang dan semakin termotivasi untuk menghadirkan alat bantu dan metode pembelajaran yang lebih kreatif. Ia pun berharap, suatu saat buku besar seperti yang ia buat dapat dicetak untuk digunakan secara luas.

Big Book Dengan Konteks Lokal Lejitkan Kemampuan Membaca Siswa