LAPORAN: Baseline, Jawa Timur

Pemerintah provinsi Jawa Timur dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menandatangani nota kesepahaman pada bulan November 2018 untuk memulai implementasi proyek Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di lima wilayah di Jawa Timur, yaitu Kota Batu, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo dan Sumenep. INOVASI merupakan proyek kemitraan kolaboratif antara pemerintah Australia dan Indonesia di sektor pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di jenjang pendidikan dasar, terutama dalam hal literasi dan numerasi. Proyek ini fokus pada pengembangan, implementasi, dan uji coba berbagai solusi yang paling sesuai dengan konteks lokal melalui serangkaian program rintisan yang berhasil meningkatkan hasil pembelajaran siswa di lima wilayah di Jawa Timur.

Menindaklanjuti inisiasi proyek INOVASI, studi baseline ini dilaksanakan untuk menyelidiki konteks sosial dan politik dari pendidikan dasar di Jawa Timur. Studi ini berfokus pada tujuh tema investigasi: (a) persepsi pemangku kepentingan lokal terhadap kualitas pendidikan; (b) masalah dan tantangan pendidikan dasar; (c) program dan kebijakan pemerintah untuk mengatasi tantangan; (d) praktik atau inovasi yang menjanjikan dalam pendidikan dasar; (e) pandangan pemangku kepentingan lokal tentang praktik Kelompok Kerja Guru (KKG) di setiap kabupaten; (f) kesempatan untuk menggunakan dana desa; dan (g) musrenbang untuk mendukung program peningkatan kualitas pendidikan dasar. Studi baseline ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memenuhi tujuan studi. Metode wawancara dan diskusi kelompok terarah (FGD atau Focus Group Discussion) digunakan untuk mengumpulkan data tentang situasi pendidikan dasar, berdasarkan perspektif pemangku kepentingan lokal. Tinjauan pustaka juga dilakukan untuk mengidentifikasi kebijakan dan program saat ini yang terkait dengan pendidikan di tingkat pusat dan lokal. Kebijakan dan dokumen hukum saat ini yang termasuk dalam tinjauan ini diidentifikasi selama wawancara dan dengan mencari saluran informasi elektronik dan non-elektronik.

Laporan baseline ini memberikan informasi tentang masalah dan tantangan pendidikan dasar di Jawa Timur, serta menawarkan rekomendasi untuk intervensi proyek INOVASI.

LAPORAN: Pembelajaran Kelas Rangkap

Beberapa studi menunjukkan bahwa masyarakat Tengger yang menjadi mayoritas penduduk dari desa-desa di Kecamatan Sukapura ini memiliki tradisi dan nilai-nilai budaya khas, yang mungkin berpengaruh terhadap persepsi dan pemenuhan hak pendidikan anak (Hadi, 2014; Khoiriyah & Maghfiroh, 2018; Setiawan, 2008; Suhartono & Hadi, 2016). Bjork (2005) dalam studinya terkait desentralisasi pendidikan di Indonesia menyimpulkan pentingnya pemahaman mendalam tentang konteks sosial, budaya, peraturan dan sejarah di wilayah-wilayah di mana kebijakan pendidikan akan diimplementasikan dikarenakan faktor-faktor tersebut lebih cenderung menghambat perubahan dibandingkan faktor teknis seperti kurikulum, pembiayaan, dan lainnya (dalam Cannon, 2006). Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah kajian khusus untuk memahami konteks geografis dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Sukapura, khususnya di desa-desa tempat dilaksanakannya PKR, termasuk menggali persepsi masyarakat setempat terhadap hak pendidikan anak.

LAPORAN: Kondisi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Pendidikan Inklusi di Lombok Tengah

Hampir satu dekade terakhir, Lombok Tengah sudah mendeklarasikan dirinya sebagai kabupaten inklusi. Berbagai upaya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik pada anak berkebutuhan khusus (ABK) sudah dilakukan, misalnya adalah dengan memperbanyak sekolah inklusi dan mengambil beberapa kebijakan pendukung lainnya seperti mengirimkan guru untuk memperoleh pendidikan inklusi tanpa gelar dan membentuk kelompok kerja inklusi. Namun demikian, data Dinas Sosial (2018) menunjukkan bahwa masih ada ABK yang tidak bersekolah.

Studi ini dilaksanakan untuk mengeksplorasi kehidupan serta kondisi ABK dan implementasi pendidikan inklusi di Lombok Tengah. Tinjauan pustaka dengan menggunakan data sekunder, wawancara, dan diskusi dilakukan untuk mendapatkan fakta lapangan. Berbagai macam aktor baik dari masyarakat, sekolah, dan pemangku kepentingan terlibat menjadi narasumber. Total narasumber untuk wawancara ada sebanyak 55 orang, sementara diskusi ada sebanyak 93 orang dengan jumlah laki-laki dan perempuan relatif seimbang. Dua data sekunder utama yang digunakan adalah Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan data Dinas Sosial.

LAPORAN: Studi Midline INOVASI Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat adalah provinsi mitra pertama dari program INOVASI di Indonesia. Program percontohan telah dilakukan di 6 kabupaten sasaran yaitu Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Bima dan Dompu. Pada tahun ke tiga program, INOVASI perlu menangkap perspektif terkini tentang pendidikan dari para pemangku kepentingan, khususnya dalam hal literasi, kemampuan numerasi dan pendidikan inklusif.

Lebih khusus lagi, INOVASI perlu memahami apakah dan sejauh mana perubahan dalam pola pikir dan praktik terjadi di antara para pemangku kepentingan. INOVASI juga perlu memahami kondisi pembelajaran di 6 kabupaten sasaran di NTB dan lingkungan pendukung yang mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah tersebut dan bagaimana aspek-aspek ini telah bergeser sepanjang periode pelaksanaan program percontohan. Oleh karena itu, empat belas pertanyaan penelitian dikembangkan dan selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk merancang instrumen penelitian.

Laporan ini memberikan gambaran umum tentang implementasi program percontohan INOVASI di 6 kabupaten sasaran dan membandingkan hasilnya dengan hasil studi tahap awal. Data dikumpulkan di kabupaten sasaran pada bulan Desember 2018, melalui wawancara yang dilakukan terhadap narasumber kunci di tingkat provinsi, kabupaten, dan sekolah.

Laporan Baseline: Kalimantan Utara

Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk meningkatkan literasi, numerasi, dan inklusi di sekolah-sekolah dasar di Indonesia. Fokus program ini adalah untuk memahami tantangan dan peluang di tingkat lokal, serta menghasilkan dan membagikan bukti ke pemangku kepentingan kunci. INOVASI telah membentuk kemitraan dengan 12 kabupaten di empat provinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Proyek ini dimulai pada tahun 2016, dan tahap pertamanya akan berakhir di tahun 2019. Laporan ini memaparkan studi dasar (baseline study) kualitatif yang dilakukan di Provinsi Kalimantan Utara serta di Kabupaten Malinau dan Bulungan pada Februari 2018.

Studi dasar ini menggunakan tiga metode studi kualitatif: wawancara mendalam (in-depth interview/IDI) dengan informan kunci, Diskusi Kelompok Terfokus (focus group discussions/FGD), dan studi kasus mendalam.

  1. Sepuluh informan dari sembilan lembaga telah diwawancarai di tingkat provinsi, sementara sembilan dan delapan informan telah diwawancarai, masing-masing di Kabupaten Bulungan dan Malinau. Wawancara mendalam ini dilakukan dengan informan yang bekerja di dinas pemerintah daerah dan kantor non-pemerintah.
  2. Diskusi kelompok terfokus telah diselenggarakan di tingkat kabupaten, dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pengambil keputusan dan praktisi pendidikan. Total 23 peserta mengikuti diskusi kelompok terfokus tersebut.
  3. Lima studi kasus mendalam telah dilakukan untuk menindaklanjuti praktik-praktik terbaik yang disebutkan dalam wawancara mendalam dan/atau diskusi kelompok terfokus, termasuk mengunjungi lokasi, mewawancarai informan kunci, dan mengamati kegiatan yang berlangsung.

Laporan: Inovasi Pendidikan di Jawa Timur: Penilaian dan Analisis terhadap Studi Inventarisasi Praktik Baik INOVASI

Studi inventarisasi Praktik Baik dan INOVASI Pendidikan praktik baik ini berkontribusi terhadap pencapaian sasaran INOVASI, yakni meningkatkan pembelajaran siswa, dengan memberikan bukti kredibel kepada para pemangku kepentingan tentang apa yang berhasil dan tidak berhasil meningkatkan kualitas sekolah dan memperkuat hasil pembelajaran bagi siswa-siswi sekolah dasar di Jawa Timur. Studi ini menggambarkan
pendekatan responsif INOVASI terhadap pembangunan, di mana pemangku kepentingan lokal, dalam hal ini di Jawa Timur, mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi (menciptakan praktik baik dan inovasi) untuk meningkatkan hasil-hasil pembelajaran. Studi ini menggunakan pendekatan berdasarkan Adaptasi Iteratif Berbasis Masalah, atau Problem-driven Iterative Adaptation (PDIA), di mana, alih-alih menerima solusi
yang diberikan dari atas, mereka yang berada di lapangan mengidentifikasi permasalahan dan mengatasinya dengan menerapkan proses iterasi langkah demi langkah, yang memungkinkan terciptanya pembelajaran yang fleksibel dan adaptasi.

Tujuan dan ruang lingkup khusus dari studi ini adalah: untuk mendokumentasikan praktik baik dan inovasi di sekolah-sekolah dasar di Jawa Timur; memahami konteks di mana praktik baik dan inovasi tersebut dikembangkan (dan di beberapa kasus, bagaimana hal-hal tersebut diadaptasi dan dipertahankan); dan memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tentang bagaimana menemukan, mengembangkan, dan melaksanakan apa yang paling berhasil dalam meningkatkan hasil pembelajaran siswa secara lebih jauh, terutama di bidang literasi dan numerasi.

Laporan Studi: KKG/KKM/KKKS/KKPS Sebagai Wadah Jejaring Pendukung Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)

Terciptanya proses pendidikan yang berkualitas perlu dilakukan dengan cara meningkatkan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan pengawas secara berkelanjutan. Sehubungan dengan itu, Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kemampuan guru serta pembinaan lainnya dengan cara memadukan dan mengarahkan semua unsur yang terkait dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum. Kegiatan PKB bagi guru di Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidayah (MI) dapat dilakukan melalui berbagai wadah, salah satunya melalui Kelompok Kerja Guru (KKG)/Kelompok Kerja Madrasah (KKM). Di luar itu, keberadaan Kelompok Kerja kepala Sekolah (KKKS) dan Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) juga diharapkan dapat menjadi jejaring pendukung PKB yang membantu peningkatan kemampuan profesional kepala sekolah dan pengawas, serta memperlancar peningkatan kapasitas guru.

Sejalan dengan hal tersebut, INOVASI berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan profesional guru, kepala sekolah, dan pengawas dengan mempromosikan agenda tersebut melalui berbagai aktivitas. Salah satu fokus INOVASI adalah mengujicobakan pemanfaatan kelompok kerja untuk pengembangan profesional yang berkesinambungan dalam bentuk kelembagaan.

Laporan Panen Hasil (Outcome Harvesting) tentang PERWALI Kota Batu – Peraturan Walikota di Batu sebagai Kota Literasi

Studi outcome harvesting (panen hasil) ini mengkaji faktor-faktor yang mendorong kota Batu mengeluarkan sebuah peraturan walikota tentang Batu sebagai kota literasi, selanjutnya disebut sebagai PERWALI (Peraturan Wali Kota). Penerbitan PERWALI adalah hasil tunggal yang telah ditentukan dalam penelitian ini, mengingat bahwa intervensi telah dilakukan sejak tahap awal. Studi harvesting ini dilakukan selama periode November 2018 hingga Januari 2019 dan bertujuan untuk: mengeksplorasi dan memahami proses yang terjadi sebelum diterbitkannya PERWALI; mengidentifikasi para aktor utamanya dan menentukan kontribusi mereka dalam keseluruhan proses; dan mengeksplorasi faktor-faktor dan hambatan-hambatan dalam pembuatannya. Studi ini melakukan wawancara mendalam pada aktor perubahan, pengguna dan pemangku kepentingan terkait lainnya, serta mempelajari dokumen relevan untuk mengumpulkan data.

Laporan Baseline: Sumba, Nusa Tenggara Timur

Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menandatangani nota kesepahaman pada bulan November 2017 untuk memulai implementasi proyek Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di empat kabupaten di Sumba, yaitu: Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. INOVASI merupakan proyek kemitraan kolaboratif
antara pemerintah Australia dan Indonesia di sektor pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di jenjang pendidikan dasar, terutama dalam hal literasi dan numerasi. Proyek ini fokus pada pengembangan, implementasi, dan uji coba berbagai solusi yang paling sesuai dengan konteks lokal yang berhasil meningkatkan hasil pembelajaran siswa melalui serangkaian program rintisan di empat
kabupaten di Sumba.

Menindaklanjuti inisiasi proyek INOVASI, kami melakukan studi baseline ini untuk menyelidiki konteks sosial dan politik dari pendidikan dasar di Sumba. Studi ini berfokus pada tujuh tema investigasi: (a) persepsi pemangku kepentingan lokal terhadap kualitas pendidikan; (b) masalah dan tantangan pendidikan dasar; (c) program dan kebijakan pemerintah untuk mengatasi tantangan; (d) praktik atau inovasi yang menjanjikan dalam pendidikan dasar; (e) pandangan pemangku kepentingan lokal tentang praktik Kelompok Kerja Guru (KKG) di setiap kabupaten; (f) kesempatan untuk menggunakan dana desa; dan (g) musrenbang untuk mendukung program peningkatan kualitas pendidikan dasar. Studi baseline ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk membahas tujuan studi. Kami menggunakan wawancara dan diskusi kelompok terarah (FGD atau Focus Group Discussion) untuk mengumpulkan data tentang situasi pendidikan dasar, berdasarkan perspektif pemangku kepentingan lokal. Kami juga melakukan tinjauan pustaka untuk mengidentifikasi kebijakan dan program saat ini yang terkait dengan pendidikan di tingkat pusat dan lokal.

Kebijakan dan dokumen hukum saat ini yang termasuk dalam tinjauan ini diidentifikasi selama wawancara dan dengan mencari saluran informasi elektronik dan non-elektronik. Laporan baseline ini memberikan informasi tentang masalah dan tantangan pendidikan dasar di Sumba, serta
menawarkan rekomendasi untuk intervensi proyek INOVASI.

Laporan Akhir Guru BAIK: mengembangkan kapasitas guru di Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Indonesia telah mengalami kemajuan yang baik dalam meningkatkan akses ke pendidikan, terutama di tingkat sekolah dasar. Pendaftaran sekolah telah mencapai tingkat universal, sebagaimana digambarkan melalui indikator nasional tingkat pendaftaran kotor (gross) dan bersih (net). Namun, peningkatan tingkat pendaftaran ini tidak sejalan dengan peningkatan hasil pembelajaran siswa. Menurut hasil Program Penilaian Siswa Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA), prestasi siswa Indonesia berada di bawah siswa di negara berkembang lain di wilayah yang sama. Hasil-hasil dari Program Penilaian Nasional Indonesia atau Indonesian National Assessment Program (INAP) memastikan bahwa hasil pembelajaran siswa masih berada di bawah harapan. Oleh karena itu, pemerintah sedang fokus untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar serta pengajaran agar dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa.

Innovation for Indonesia’s School Children (INOVASI) merupakan program pendidikan bersama yang didanai oleh Pemerintah Australia dengan bermitra dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan prestasi siswa, terutama di bidang literasi dan numerasi, di kelas-kelas awal. INOVASI berupaya memahami dan mengatasi tantangan pembelajaran terkait literasi dan numerasi di ruang kelas dan sekolah di Indonesia. INOVASI tahap pertama berjalan dari 2016 hingga 2019.

INOVASI beroperasi melalui percontohan yang menguji intervensi mana yang berhasil dalam konteks tertentu untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Berbagai percontohan telah dilaksanakan di 17 kabupaten mitra di empat provinsi. Guru BAIK merupakan percontohan yang pertama, dan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Utara dan Sumbawa dari Januari hingga Mei 2017. Guru BAIK bertujuan untuk mengembangkan kapasitas guru, melengkapi mereka dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memadukan prinsip penelitian aksi ke dalam metode pengajaran dan pemecahan masalah mereka, agar dapat mengatasi isu dan tantangan mendesak yang berkaitan dengan literasi dan numerasi di kelas mereka.

Percontohan ini, berdasarkan prinsip penelitian aksi ruang kelas, terdiri dari serangkaian lokakarya, dan meliputi proses bersiklus yang melalui sejumlah tahap yang didorong oleh permasalahan, yaitu mengidentifikasi masalah, merencanakan aksi untuk mengatasi masalah tersebut, mengambil tindakan dan mengumpulkan data, menganalisis hasil tindakan, serta bercermin dari dan merencanakan kembali tindakan tersebut.
Total 50 sekolah dari seluruh Lombok Utara dan Sumbawa, masing-masing 25 sekolah, ikut serta dalam Guru BAIK. Semua sekolah tersebut merupakan sekolah negeri, kecuali satu sekolah Islam. Seluruhnya juga berada di bawah kewenangan Kemendikbud. Pada saat percontohan dilaksanakan, INOVASI hanya bekerja sama dengan Kemendikbud, sebelum kemudian juga berkolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag).
Sebelum melaksanakan percontohan, kami melakukan studi awal untuk percontohan Guru BAIK dan Gema Literasi di waktu yang sama. Gema Literasi adalah proyek literasi yang dilaksanakan oleh Save the Children sebagai mitra INOVASI. Proyek ini fokus untuk memperbaiki literasi siswa dengan mengembangkan kapasitas guru dalam mengajarkan literasi dan meningkatkan dukungan dari masyarakat. Penerima manfaat Guru BAIK adalah para guru, sementara Gema Literasi juga menyasar orang tua. Kajian akhir untuk kedua percontohan ini dilakukan pada bulan Agustus 2018.

Namun, karena gempa bumi yang menyerang Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Agustus 2018, studi akhir ini harus dibatalkan di Lombok Utara, dan hanya fokus di Sumbawa. Sumbawa juga setelah itu terkena gempa bumi, sehingga studi akhir ini tidak dapat diselesaikan di seluruh sekolah mitra Guru BAIK dan Gema Literasi. Sementara itu, studi lain telah dilakukan untuk menjembatani ketimpangan pengetahuan terhadap program Guru BAIK dan Gema Literasi di Lombok Utara, dan di saat yang sama menjawab kebutuhan lokal. Ini adalah studi tentang bencana dan bagaimana guru merenspon situasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dari Desember 2018 hingga Januari 2019.

Laporan ini memaparkan temuan utama dari survei akhir percontohan Guru BAIK, dan menguraikan beberapa temuan kunci dan komparabel dari studi akhir Gema Literasi serta studi bencana yang disebutkan di atas, meskipun laporan terpisah telah disusun untuk masing-masing studi tersebut. Selain itu, data monitoring dan studi pertengahan Guru BAIK juga dicantumkan dalam laporan ini.