Meningkatkan Literasi dari Titik Awal: Upaya Berbasis Data bagi Setiap Siswadi SD Katolik Doki, Nusa Tenggara Timur

Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu. Komitmen ini tercermin dalam berbagai upaya di sekolah untuk memastikan tidak ada satupun anak yang tertinggal.

Salah satu contoh datang dari SD Katolik Doki di Desa Ua, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Empat tahun lalu, sekolah ini berada di persimpangan sulit. Capaian literasi siswa sangat rendah dan letak geografis sekolah jauh dari pusat layanan pendidikan. Namun tiga tahun berselang, sekolah ini justru mencuri perhatian lewat lonjakan kemampuan literasi siswa.

Perjalanan menuju SD Katolik Doki di Desa Ua di Kabupaten Nagekeo, yang menanjak, berbatu, dan berlubang menggambarkan tantangan yang harus dilalui setiap hari. Banyak siswa juga berasal dari keluarga petani, dengan waktu belajar di rumah yang terbatas.

Ketika melihat capaian literasi sekolahnya masih berada di bawah kompetensi minimum, Kepala Sekolah Maria Sefriana Sebo menjadikannya sebagai titik awal perubahan. “Saya melihat itu sebagai tantangan saya sebagai kepala sekolah,” ujarnya.

Melalui pemetaan kemampuan membaca dan pembelajaran sesuai kemampuan siswa yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo bersama INOVASI, Kemitraan Australia-Indonesia, SD Katolik Doki menunjukkan bahwa peningkatan literasi dapat dimulai dari memahami kebutuhan setiap anak.

Melalui kegiatan membaca nyaring, siswa dikenalkan pada cerita, kosakata baru, dan pengalaman membaca bersama. Momen ini membantu memperkuat pemahaman sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk menyampaikan ide dan gagasan. (©️ Foto oleh SD Katolik Doki)

Memulai dari Data: Memahami Setiap Anak

Dimulai dengan guru melakukan asesmen membaca secara berkala untuk memahami kebutuhan setiap anak. Hasilnya digunakan untuk memetakan kemampuan siswa, mulai dari mengenal huruf, membaca suku kata, hingga membaca pemahaman.

Guru harus mengetahui level kemampuan membaca anak,” jelas Maria. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip teaching at the right level.

Maria membentuk tim pendamping untuk memperkuat proses belajar siswa secara lebih intensif. Anak-anak yang belum mengenal huruf didampingi melalui metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.

Di kelas, siswa belajar mengenal huruf menggunakan kartu sederhana, lalu berlatih membaca suku kata melalui aktivitas seperti tepuk suku kata. Di luar kelas, permainan tradisional seperti “ogo” dimanfaatkan sebagai media belajar membaca yang kontekstual. Sekolah juga mulai menggunakan media digital seperti papan interaktif untuk menghadirkan cerita bergambar dan video pembelajaran.

Perpustakaan dengan buku berjenjang memberi ruang bagi setiap anak untuk membaca sesuai kemampuannya. Dengan buku yang tepat, kepercayaan diri tumbuh, kebiasaan terbentuk, dan membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. (©️ Foto oleh SD Katolik Doki)

Membaca sebagai Kebiasaan: Konsistensi yang Mendorong Perubahan

Perubahan tidak berhenti pada metode mengajar, tetapi juga pada pembiasaan. Sekolah menetapkan kegiatan membaca rutin sebelum pembelajaran dimulai. Durasinya meningkat dari 15 menit menjadi 35 menit hingga satu jam, dengan pendampingan sesuai level siswa.

Siswa tidak hanya membaca, tetapi juga menceritakan kembali isi bacaan mereka.

Di sisi lain, sekolah menghadirkan perpustakaan ramah anak dengan koleksi buku berjenjang yang sesuai dengan kemampuan siswa.

Belajar membaca bisa dimulai dari permainan. Di SD Katolik Doki, guru memanfaatkan permainan tradisional seperti “ogo” untuk membantu anak mengenali bunyi dan menyusun kata dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan. (©️ Foto oleh SD Katolik Doki)

Dampak Nyata: Dari Perubahan Individu Siswa Hingga Capaian Sekolah

Upaya yang dilakukan secara konsisten mulai menunjukkan hasil, baik pada tingkat individu siswa maupun capaian sekolah.“Salah satu siswa kami saat di kelas 4 masih membaca pada level suku kata. Itu menjadi tantangan bagi kami. Namun, berkat pendampingan yang konsisten dari guru, sekarang dia sudah berada pada level membaca pemahaman,” tutur Maria.

Tidak hanya kemampuan membaca yang berkembang, minat baca siswa tersebut juga meningkat.

Perubahan pada tingkat individu ini sejalan dengan capaian sekolah secara keseluruhan. Capaian literasi juga mengalami lonjakan signifikan—dari kondisi di bawah kompetensi minimum pada 2021 menjadi kategori baik pada 2025 berdasarkan Rapor Pendidikan. Data ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan secara konsisten tidak hanya berdampak pada satu atau dua siswa, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di tingkat sekolah. Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kembali tekad tersebut—bahwa setiap anak, di mana pun berada, berhak untuk belajar, berkembang, dan mencapai cita-cita mereka.