Memanfaatkan Benda-Benda Sekitar untuk Belajar Berhitung dengan Lebih Menyenangkan

Menjadi guru tidaklah mudah. Dengan tantangan pendidikan yang semakin besar dan dihadapkan dengan perubahan zaman yang semakin modern, guru saat ini dituntut untuk menjadi guru yang kreatif dan inovatif dalam proses pembelajaran. Hal ini diperlukan agar para peserta didik bisa memahami materi yang diajarkan guru, salah satunya dengan memanfaatkan media bantu pembelajaran. Media ini memang beragam bentuknya, tetapi akan menjadi menarik jika media ajar yang digunakan guru berasal dari lingkungan sekolah sendiri, sebagaimana yang dilakukan para guru kelas awal di SD Inpres Ndapa Taka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dengan segala keterbatasan yang ada, para guru kelas awal di sekolah itu kemudian menciptakan cara mudah berhitung dengan menggunakan media ajar berupa tutup botol, potongan balok bekas yang diambil dari bengkel kayu, dan biji-bijian yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar sekolah dan rumah siswa.

Barang-barang tersebut dikumpulkan dan digunakan dalam pelajaran berhitung di kelas. Selain itu, juga digunakan untuk mengenalkan bangun ruang dan untuk keperluan membaca.

Walaupun terkesan sederhana, inovasi berhitung dengan bahan lokal yang diterapkan ini nyatanya telah memberikan dampak yang cukup signifikan. Salah satunya adalah meningkatnya minat peserta didik dalam pelajaran berhitung. Hal ini sangat berbeda dengan sebelum pemanfaatan media tersebut di mana anak-anak terkesan diam dan tidak menunjukkan minatnya mengikuti pelajaran berhitung. Bukan hanya siswa, para guru pun kini merasa kemampuan mengajarkan muatan matematika mereka meningkat.

Guru-guru belajar bagaimana menerapkan pembelajaran yang aktif dengan strategi MiKIR yang terdiri dari Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. Pembelajaran yang sebelumnya hanya klasikal, kini divariasikan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang sama.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Nengsy Puspita N. Henuk yang mengajar di kelas 2. “Kelompok yang dibentuk disesuaikan dengan kemampuan siswa. Kelompok-kelompok ini memungkinkan para siswa untuk menerapkan pembelajaran MiKIR dan menjadi lebih aktif.” Selain itu, kata Nengsy, ia juga memberi kesempatan kepada peserta didik yang kemampuannya masih kurang untuk tampil di depan kelas. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri siswa.

“Di kelas saya, muatan pelajaran matematika diajarkan selama 6-8 jam seminggu. Kehadiran program INOVASI di sekolah kami benar-benar sangat membantu kami dalam menyampaikan pembelajaran, khususnya terkait numerasi,” ungkap sarjana pendidikan guru ini.

Senada dengan itu, Cornelia Ina Iki yang merupakan Kepala Sekolah SD Inpres Ndapa Taka mengatakan bahwa penggunaan media seperti itu telah membuat anak-anak antusias dalam belajar. “Sekarang anak-anak begitu antusias. Saat kami mulai melakukan perhitungan menggunakan balok, siswa jadi lebih aktif dan cepat paham,” kata Cornelia yang juga Fasilitator Daerah (Fasda) untuk program Numerasi Kelas Awal ini.

“Jika dulu kami menggunakan metode lama seperti mengenal angka dan berhitung di papan tulis ataupun dengan metode lainnya yang kami pikirkan sendiri, sekarang kami melakukan inovasi seperti ini (menggunakan benda nyata sebagai alat bantu belajar).

Selama ini kan, kami sebagai guru berpikirnya begitu rumit. Selalu berpikir alat ajar itu harusnya dibeli tapi nyatanya bisa kita ciptakan sendiri karena ada di sekitar kita. Tidak hanya balok tapi juga pot bunga, dedaunan, lidi, dan sejumlah barang lain bisa dijadikan media untuk mengajarkan anak berhitung,” lanjutnya.

Cornelia mengaku keseharian siswa yang akrab dengan benda-benda itu adalah inspirasi baginya dan para guru untuk memanfaatkannya dalam pembelajaran. Dari pengalamannya tersebut, Cornelia belajar bahwa ilmu itu tidak datang dari guru semata. “Kami jadi sadar ilmu itu bisa juga datang dari murid. Mereka menunjukkan kita bagaimana mereka seharusnya belajar,” pungkasnya.

Belajar Sambil Bermain Dengan ‘Ultrasi’, Si Ular Tangga Numerasi

Program peningkatan kemampuan numerasi siswa di jenjang kelas awal SD/MI telah diimplementasikan di Kabupaten Sidoarjo pada tahun 2018. Hal ini dengan pertimbangan bahwa pelajaran matematika masih menjadi pelajaran yang dianggap menakutkan bagi siswa. Setelah program dilaksanakan selama kurang lebih satu tahun, dampak yang terlihat ternyata luar biasa, terutama para guru yang kini menggunakan media pembelajaran yang menarik agar siswa lebih tertarik belajar matematika. Ini salah satu ide media pembelajaran yang dibuat oleh guru sekaligus fasilitator program.


Alangkah senangnya bermain ular tangga. Apalagi bila ternyata sambil bermain ular tangga, anak bisa sekaligus belajar matematika. Dalilatus Sholihah, S.Pd, guru MI Darussalam, Candi, Sidoarjo, Jawa Timur membuat media pembelajaran ini agar siswa-siswanya lebih tertarik dan senang belajar matematika. Permainan ular tangga matematika ini ia beri nama ‘Ultrasi’ yang merupakan singkatan dari ‘Ular Tangga Numerasi’.

Permainan ular tangga yang berisikan 100 soal numerasi ini memiliki daya tarik sendiri bagi siswa-siswanya yang duduk di kelas 1.

Cara penggunaannya pun sangat mudah, dan model belajar sambil bermain Ultrasi ini mampu membuat siswa enggan beranjak.

Permainan ini bisa dimainkan berpasangan (dua siswa), di mana setiap siswa secara bergantian akan melempar dadu dan melangkah sesuai jumlah angka dadu. Setiap berhenti di kotak permainan sesuai angka dadu, siswa akan mendapatkan suatu pertanyaan. Apabila anak tersebut tidak bisa menjawab, maka ia tidak bisa melanjutkan perjalanan hingga ke angka 100.

Siswa pun merasa senang dengan permainan Ultrasi ini. Sambil bermain, mereka pun merasa tertantang dengan pertanyaan yang mereka dapatkan setiap melangkah maju di kotak permainan.

Dalilatus pun akan terlebih dahulu menyiapkan soal-soal pertanyaan sesuai dengan tema pelajaran yang saat itu sedang dipelajari di kelasnya. Dengan demikian, soal-soal bisa dengan mudah diubah sesuai kebutuhan.

Memanfaatkan Buah Semangka sebagai Media Operasi Hitung Pecahan

Bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, program rintisan numerasi di SD/MI telah diimplemetntasikan pada tahun 2018 untuk meningkatkan kemampuan dasar siswa di bidang numerasi. Program rintisan ini diimplementasikan dengan pertimbangan numerasi masih menjadi pelajaran yang menakutkan untuk siswa di Sidoarjo. Anak-anak kerap menganggap numerasi identik dengan hafalan dan angka-angka yang sulit untuk dipahami siswa. Selama kurang lebih satu tahun sejak program rintisan ini dikembangkan di 21 SD dan 10 MI, dampak yang terlihat ternyata luar biasa. Yang paling terlihat adalah para guru yang mulai menggunakan media pembelajaran yang menarik sehingga siswa jadi senang belajar numerasi. Bahkan, siswa betah berlama-lama di kelas sambil bermain dengan media pembelajaran numerasi yang dibuat oleh guru.


Fikrul Umam, S.Pd, Guru SD Negeri Kludan, Kec. Tanggulangin Sidoarjo

Memahami operasi hitung pecahan memang tidaklah mudah bagi siswa. Siswa yang hanya diajarkan langsung tentang materi pecahan tanpa menggunakan alat bantu biasanya akan sulit untuk dapat menangkap maksud materi tersebut. Terlebih lagi, kemampuan setiap siswa berbeda-beda.

Khususnya untuk bilangan pecahan agar siswa lebih mudah memahami, saya menggunakan media konkret yaitu buah semangka. Mengawali pembelajaran saya tanyakan ke siswa jumlah semangka yang saya bawa ada berapa buah? Mereka dengan kompak menjawab, “Satu buah Pak.”

Selanjutnya semangka tersebut saya potong dengan hati-hati menjadi dua bagian. Lalu saya tanyakan lagi ada berapa potongan, jawaban siswa ternyata beragam. Ada yang menjawab satu-satu, dua, separuh, dan setengah. Mendengar jawaban murid yang beragam seperti itu, saya meluruskan jawaban siswa bahwa sebagian semangka dinamakan satu per dua atau bisa juga disebut dengan setengah atau separuh. Selanjutnya siswa diminta maju untuk menuliskan angka satu per dua di papan.

Penjelasan dilanjutkan dengan membelah buah semangka tersebut menjadi empat bagian sama besar seraya bertanya lagi pertanyaan serupa seperti saat menjelaskan pecahan satu per dua dan berlanjut hingga membelah semangka tersebut menjadi delapan bagian.

Penjelasan berlanjut hingga beberapa bagian dari semangka tersebut dijumlahkan sehingga membentuk soal penjumlahan pecahan sejenis, seperti misalnya satu per empat ditambah dengan satu perempat yang menghasilkan pecahan dua perempat dari semangka tersebut. Tak hanya soal penjumlahan pecahan, saya juga menjelaskan tentang materi pengurangan pecahan dengan media semangka tersebut.

Hasilnya, setelah penjelasan dengan menggunakan buah semangka tersebut, siswa terlihat sangat antusias, bersemangat, dan lebih paham dalam belajar operasi hitung pecahan. Hal tersebut dapat terlihat dari banyaknya siswa yang mengacungkan tangan saat akan menjawab pertanyaan.

Hasil tes siswa menunjukkan 90% siswa menjawab soal operasi hitung pecahan dengan benar. Ternyata, penerapan benda konkret ini sangat membantu para siswa dalam belajar dengan lebih menyenangkan.

“Butik Bilangan” untuk Meningkatkan Kemampuan Matematika Siswa

Program LINUMERATIF (Literasi dan Numerasi inovatif) yang diimplementasikan oleh Edukasi 101 dan INOVASI pada tahun 2018-2019 di Nusa Tenggara Barat bertujuan untuk mengakselerasi peningkatkan kemampuan dasar (baca, tullis dan hitung) siswa sekolah dasar dengan: (1) Peningkatan kapasitas kepemimpinan pembelajaran dan penilaian sekolah literasi dan numerasi; (2) Peningkatan kualitas pembelajaran literasi dan numerasi dasar; 3) peningkatan kualitas penilaian pembelajaran literasi dan numerasi dasar; (4) peningkatan akses informasi praktek baik penerapan pembelajaran dan penilaian literasi dan dan numerasi dasar. Tujuan umum dari program LINUMERATIF adalah meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi dasar siswa kelas awal di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Dalam rentang perjalanan satu tahun program, para kepala sekolah dan guru yang terlibat membuat tulisan praktik baik berdasarkan apa yang telah dilakukan dan diimplementasikan di sekolahnya. Semoga berbagai pengalaman yang dianggap baik oleh para kepala sekolah atau guru-guru ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya!


Salah satu konsep dasar pelajaran matematika adalah berhitung. Dalam pelajaran matematika, khususnya dalam hal mengurutkan, bilangan dianggap paling sulit bagi sebagian anak. Dari berbagai pelajaran yang diajarkan di jenjang sekolah dasar, Matematika termasuk pelajaran yang paling sulit dikuasai oleh para siswa. Meskipun demikian siswa perlu menguasai mata pelajaran tersebut karena merupakan kebutuhan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menyebabkan pelajaran matematika menjadi pelajaran yang dihindari oleh siswa, salah satunya karena membutuhkan konsentrasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Untuk mempelajari matematika maka tugas guru adalah menyajikan mata pelajaran tersebut dalam situasi yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa, selain itu mudah juga dipahami. Untuk menghadirkan pengalaman konkrit dalam bentuk nyata khususnya dalam pelajaran matematika, guru SDN Labuhan Jambu Kabupaten Sumbawa, NTB, Siti Aisyah, berupaya memanfaatkan media atau alat peraga sehingga pengalaman belajar siswa benar-benar nyata dan tersimpan dengan baik dalam pemahaman siswa.

Muncul ide membuat “Butik bilangan” yang merupakan alat peraga yang diciptakan oleh Siti Aisyah dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Alat dan bahan yang perlu dipersiapkan untuk membuat media tersebut adalah:

  • Kardus bekas secukupnya
  • Kertas metalik warna-warni
  • Pensil
  • Solasi/lem
  • Kertas bufallo warna-warni
  • Spidol
  • Stik eskrim
  • Gunting

Penggunaan alat peraga “Butik Bilangan” ini dilakukan dengan menggunakan beberapa gambar baju dan juga celana.

Berdasarkan gambar tersebut, anak-anak akan diminta untuk mengatur/menata baju tersebut dengan rapi, dan memulai dengan angka yang paling terkecil dahulu.

Setelah disusun, akhirnya “Butik Bilangan” tersebut akan menunjukkan urutan bilangan yang sempurna.

Dalam pelaksanaanya di kelas, kkegiatan pembelajaran dengan media butik bilangan ini berlangsung dalam satu kali pertemuan selama 3X35 menit. Dari hasil pengamatan Aisyah, ternyata siswanya lebih tertarik dalam mengikuti sesi pembelajaran. Dari data hasil pengamatan dan evaluasi dengan menggunakan media butik bilangan tampak bahwa terjadi peningkatan pada pembelajaran dengan menggunakan media “Butik bilangan”.

No

Komponen

Keterangan

1

Rata-rata nilai siswa

55,5%

2

Jumlah siswa seluruhnya

21

3

Jumlah siswa yang mengikuti

21

4

Jumlah siswa yang tuntas

15

5

Presentasi yang tuntas

55,71

Diakui Aisyah bahwa terdapat beberapa kendala yang muncul dalam penerapan metode pembelajaran menggunakan alat peraga “Butik Bilangan” di antaranya adalah ukuran alat peraga yang kurang besar dan jumlahnya hanya satu. Selain itu, gambar baju dan celana yang bertuliskan lambang bilangan jumlahnya masih terlalu sedikit.

Namun hal ini tidak menghentikan upaya Aisyah. Ia pun mencoba menyusun rencana untuk mengatasi kendala tersebut, yaitu seperti  memperbanyak jumlah alat peraga tersebut agar tersedia di setiap kelompok. Solusi lainnya adalah membuat alat peraga “Butik Bilangan” dengan ukuran yang lebih besarm hal ini agar semua siswa dapat melihat dengan jelas.

Mengubah Barang Bekas Menjadi Media Pembelajaran yang Menjawab Kebutuhan Belajar Siswa

Penggunaan barang bekas sebagai salah satu media pembelajaran untuk numerasi dan literasi kini menjadi tren di Kabupaten Sumba Barat Daya. Hal ini bermula sejak program INOVASI diimplementasikan di sejumlah sekolah di Sumba Barat Daya. Penggunaan barang-barang bekas tersebut pun berdampak pada peningkatan kemampuan belajar siswa, terutama dalam hal kemampuan numerasi dan literasi. Dampak tersebut pun dirasakan juga di SD Negeri Wee Karoro yang terletak di Kecamatan Wewewa Tengah.

Sekolah yang terletak agak jauh dari pemukiman warga dan terkesan terpencil ini, rupanya bukan sekedar sekolah yang biasa-biasa saja. Tembok dinding kelas yang semula hanya dilengkapi gambar Pancasila dan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, kini berubah dengan banyaknya gambar hasil kreasi para siswa mulai dari gambar huruf, angka, pohon, dan lainnya. Kelas-kelas juga sudah dilengkapi dengan sudut baca.

Tidak hanya itu, beberapa tutup botol, kemasan air mineral, kardus dan kertas bekas juga terlihat di ruang kelas khususnya di kelas rendah. Menurut pengakuan guru kelas 3, Yunita Frederika Malo, barang-barang bekas tersebut digunakan oleh dirinya bersama guru lainnya sebagai media belajar numerasi. Penggunaan barang bekas tersebut baru dimulai sejak dirinya mengenal INOVASI dan diberi ruang untuk belajar pada program tersebut.

Menjadi bagian dari INOVASI telah membuka pikirannya bahwa menjadi guru tidak cukup dengan mampu mengajarkan ilmu kepada para siswa saja tetapi juga harus mampu menjadi guru yang kreatif dalam menciptakan alat dan media yang bermuara pada peningkatan anak didik itu sendiri. Berbekal pengetahuan yang diperoleh, dirinya mulai memanfaatkan barang bekas sebagai alat bantu ajar pada September 2018 silam untuk pelajaran numerasi. Tutup botol adalah barang pertama yang ia gunakan.

Diuraikannya, tutup yang ditemukan di lingkungannya dikumpulkan dan dibersihkan. Lalu pada tutup botol bagian luar dituliskan angka yang berbeda-beda. Tutup-tutup botol dengan angka tersebut kemudian digunakan oleh para siswa untuk pelajaran berhitung. Semua alat bantu yang dikembangkan digunakan secara bergantian. Tujuannya sederhana, agar para peserta didiknya bisa memahami betul operasi dasar matematik seperti penjumlahan dan pengurangan.

“Awalnya saya tidak pernah memikirkan memakai barang bekas seperti yang sekarang saya gunakan sebagai media belajar berhitung. Saya gunakan metode konvensional saja. Tapi usai ikut INOVASI ternyata banyak barang-barang di sekitar yang bisa saya gunakan sebagai media pembelajaran,” kata Yunita.

Walaupun menemui kesulitan pada awalnya, tetapi dengan semangat yang tidak pernah pudar dirinya terus berjuang untuk menerapkan apa yang telah ia pelajari dari pelatihan-pelatihan INOVASI untuk dipraktikkan di kelasnya.

Hasilnya pun cukup signifikan. Perubahan yang paling terasa adalah peningkatan kemampuan anak di kelasnya. Dari 17 siswa pada tahun ajaran 2019/2020 di kelasnya, tinggal tiga siswa yang belum fasih berhitung. Ini tidak lepas dari kondisi dan situasi anak yang menurutnya amat kental dipengaruhi oleh lingkungan di mana dirinya tinggal. Namun, sekali lagi ia tidak patah arang. Ia terus berusaha agar di akhir semester, tiga siswa tersebut bisa berkembang seperti teman-teman lainnya.

Sebagai guru, dirinya sadar keberhasilan itu bukan semata dari berhasilnya ia menerapkan metode belajar yang baik kepada muridnya, tetapi juga harus mambawa muridnya keluar dari ketidaktahuan yang mereka miliki. Rekan guru lainnya, Oriana Muti yang saat ini mengajar peserta didik yang duduk di kelas 5 mengungkapkan hal serupa. Guru yang sempat mengikuti pelatihan Kelompok Kerja Guru (KKG) ini, menggantikan guru kelas 1 yang berhalangan hadir, mengatakan, “Anak-anak jadi lebih aktif dan semangat mengikuti pelajaran dengan adanya penerapan metode mengajar dengan media barang bekas itu.” Karena itu, ia yakin hal serupa bisa juga diterapkan di kelas tinggi.

Menumbuhkan Kepekaan Bilangan Anak dengan ‘Bingkai 10’

Nilai tempat adalah sebuah konsep yang penting dipahami setelah siswa mengerti tentang kuantitas (jumlah) bilangan dan dapat menghitung kuantitas benda. Ketika siswa menyadari bahwa menghitung satu-per-satu tidak lagi efisien untuk menentukan kuantitas kumpulan benda, maka konsep pengelompokkan benda dan menghitung lompat dapat mulai dikenalkan kepada siswa. Di antara berbagai macam cara pengelompokkan benda, mengelompokkan sepuluh-sepuluh memiliki peran yang sangat penting untuk dapat memahami konsep yang lebih tinggi, yaitu Nilai Tempat. Dalam kehidupan sehari-hari, sepuluh (10) adalah basis dari sistem bilangan kita sehingga seringkali kita melihat bilangan yang merupakan kelipatan 10 (atau perpangkatan 10) dan satuan. Bahkan, siswa kelas awal mungkin sudah mampu membaca bilangan dua-angka seperti “24” sebagai “dua puluh empat” dan “42” sebagai “empat puluh dua”, tanpa mengetahui mengapa dan bagaimana kedua bilangan ini berbeda satu sama lain.

Berdasarkan National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000), transisi dari melihat ‘sepuluh’ sebagai akumulasi 10 satuan menjadi melihat ‘sepuluh’ sebagai 1 puluhan adalah langkah yang sangat krusial bagi siswa untuk mengerti sistem bilangan basis sepuluh. Untuk mempelajari Nilai Tempat, aktivitas pembelajaran di kelas dapat dimulai dengan mengelompokkan benda menjadi sepuluh-sepuluh. Aktivitas menggunakan benda konkret akan sangat membantu siswa untuk melakukan pengelompokkan dan membuat hubungan antara kuantitas benda dengan kemasan sepuluh-sepuluh. Bermain dengan Bingkai 10 dan dengan bahan-bahan lainnya dapat digunakan untuk mengenalkan konsep nilai tempat.


Pada jenjang kelas 2 SD, siswa diharapkan sudah memahami konsep nilai tempat bilangan tiga angka (ratusan, puluhan, dan satuan). Pemahaman ini penting karena akan berpengaruh langsung pada bagaimana siswa membaca dan menuliskan bilangan. Selain itu, pemahaman pada konsep nilai tempat juga membantu siswa dalam memahami operasi bilangan khususnya penjumlahan dan pengurangan.

Namun di SD Masehi Bondo Kandelu, pemahaman konsep nilai tempat masih menjadi tantangan pembelajaran bagi guru-guru, khususnya di kelas awal. Andryane Bora yang mengampu siswa kelas 2 mengaku keterbatasan pengetahuannya terhadap konsep nilai tempat membuatnya sulit untuk memberikan pemahaman konsep ini kepada siswa. “Saya hanya mengikuti apa yang ada di buku teks saja, mengajar apa adanya,” kata Andryane.

“Misalnya,” Andryane menjelaskan, “saya kasih soal 5+5=10, saya langsung tulis beserta jawabannya di atas papan dan meminta siswa untuk menyalinnya di buku catatan mereka.” Cara seperti ini membuat siswa tidak terbiasa menuliskan lambang bilangan dengan benar. Terlebih lagi untuk memahami nilai dari sebuah bilangan.

Soal lain yang dicontohkan Andryane adalah 15+17 yang dijawab secara lisan oleh siswa dengan 27. Namun saat menuliskannya, mereka menuliskannya dengan 72. Ini menjadi indikasi bahwa anak belum memahami nilai yang dimiliki oleh sebuah angka karena tempatnya. Belum lagi penulisan lambang bilangan yang masih sering keliru seperti angka 2 yang ditulis seperti huruf -s.

Alat peraga yang digunakan pun hanya sebatas jari tangan saja sehingga siswa bingung ketika operasi penjumlahan atau pengurangan untuk angka di atas 10.

Dengan bantuan bingkai 10, Andryane perlahan mulai mengubah strategi mengajarnya. Setelah mengikuti pelatihan bersama INOVASI, ia jadi mengerti bahwa 10 adalah dasar dari sistem bilangan yang digunakan sehari-hari sehingga lebih mudah jika menggunakan dasar tersebut untuk mengajar siswa. Andryane menggunakan benda konkret yaitu biji asam agar siswa lebih mudah dalam membuat pengelompokkan sepuluh-sepuluh dan untuk membuat siswa berpartisipasi secara aktif.

Pertama, ia membagi siswanya ke dalam beberapa kelompok dan masing-masing siswa diberikan dua bingkai 10 dan sejumlah biji asam. Ia lalu menunjukkan sejumlah contoh bingkai 10 dengan bulatan di beberapa kotaknya dan meminta siswa untuk meletakkan biji asam di atas bingkai 10 mereka sesuai dengan contoh.

Selanjutnya siswa diminta untuk melakukan penjumlahan angka satuan seperti 7+2 atau 4+5 dengan menambahkan biji asam sesuai angka yang dijumlahkan. Siswa kemudian menghitung total biji asam yang ada di bingkai 10.

Operasi selanjutnya adalah penjumlahan dengan angka puluhan, misalnya 10+5. Andryane memancing siswa dengan pertanyaan, “Kira-kira ada berapa bingkai 10 yang digunakan untuk penjumlahan ini?”. Pada latihan ini, siswa sudah mulai dikenalkan dengan pengelompokkan 10 dan nilai tempat.

Operasi penjumlahan yang melibatkan angka puluhan yang lebih besar dilakukan dengan cara yang sama. Begitu pula dengan operasi pengurangan.

Andryane juga mulai mengintegrasikan muatan matematika ke dalam permainan, misalnya dalam permainan Batu Kanako seperti berikut:

  1. Guru menyiapkan lima batu kecil lalu mengepal dan mengocoknya.
  2. Dengan tangan terkepal, guru meminta siswa untuk menebak berapa batu dalam kepalannya.
  3. Setelah siswa menjawab, guru menunjukkan kartu bilangan sesuai dengan jumlah batu yang ada di kepalan. Guru juga bisa membiarkan siswa mencari kartu bilangan yang sesuai dari tumpukan kartu yang disediakan.
  4. Siswa lalu latihan menulis angka lima pada buku mereka.

Alat peraga dan permainan seperti ini membangkitkan semangat belajar siswa, kata Andryane. Meski masih ada yang menulis lambang bilangan secara terbalik, secara umum, siswa sudah bisa menuliskannya dan mengenal lambang bilangan dengan baik.

Tantangan

Menurut Andryane, salah satu alasan mengapa beberapa siswa masih belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan adalah tingkat kehadiran mereka yang rendah. Hal ini dikarenakan anak-anak sering mengikuti kegiatan-kegiatan kebudayaan setempat seperti pesta kematian dan pernikahan maupun lebih memilih untuk membantu orangtua mereka di ladang atau sawah.

Minimnya kesadaran orangtua terhadap pentingnya pendidikan juga menjadi alasan anak-anak jarang masuk sekolah. Nela, rekan guru Andryane yang mengajar kelas 1 mengamini hal ini. “Nanti pada masuk sekolah saat pembagian bantuan PKH (Program Keluarga Harapan),” katanya.

Menyelesaikan Soal Matematika Praktis dengan Benda-Benda Sekitar

Pensil Umbu hilang. Ia butuh penggantinya. Ia bergegas menemui ibunya dan meminta uang untuk membeli pensil. Dirinya lantas pergi ke warung dan membeli pensil seharga Rp 1.000. Namun setelah mendapatkan pensilnya, Umbu langsung berbalik meninggalkan warung. Ia tidak tahu bahwa dia masih punya kembalian Rp 1.000 dari pecahan Rp 2.000 yang ia belanjakan.

Ini adalah penggalan cerita yang disampaikan oleh Mariana Warata, salah satu guru di SD Negeri Wee Paboba, di Kabupaten Sumba Tengah. Ini bukan cerita fiksi, melainkan kisah yang dialami oleh banyak anak-anak di lingkungan sekolah di mana ia mengajar. Meski dalam kesehariannya banyak berhubungan dengan urusan hitung-menghitung, anak-anak belum sepenuhnya mengerti konsep numerasi.

Di sekolah, pelajaran yang memuat unsur perhitungan pun menjadi momok tersendiri bagi mereka. Sementara kemampuan pengajaran numerasi para guru juga masih terbilang rendah. “Selama ini, saya lebih banyak meminta siswa membayangkan saja. Padahal ini pelajaran berhitung, siswa perlu melihat sesuatu yang konkret untuk membantu mereka memahami konsep berhitung,” kata Mariana mengenang bagaimana ia dulunya mengajarkan matematika kepada siswanya.

Sebelumnya, Mariana mengaku sudah biasa menggunakan jari tangan dan kaki sebagai alat bantu berhitung. Namun siswa kesulitan ketika operasi matematika melibatkan angka di atas 20. Hal ini karena siswa hanya memiliki 20 jari tangan dan kaki yang bisa digunakan sebagai alat berhitung. Untuk itu, Mariana menggunakan garis lima yang berbentuk lidi untuk penjumlahan dan pengurangan angka di atas 20.

“Misalnya, untuk 12 ditambah 27, saya meminta mereka untuk menggambar 12 garis dengan pecahan lima. Lalu ditambah lagi dengan 27 garis dan meminta siswa untuk menghitung berapa semua garis yang ada,” Mariana memberi contoh.

Namun ternyata cara seperti itu juga belum mampu membuat siswa tertarik belajar matematika, apalagi meningkatkan kemampuan berhitung mereka. Para siswa sudah mampu mengenal lambang bilangan, tapi belum memahami nilai dari bilangan itu. Saat tidak dapat mengerjakan soal latihan, mereka cenderung diam. Guru kelas 2 yang saat ini tengah menempuh pendidikan sarjana ini berasumsi “Mungkin karena tidak tahu, jadinya tidak tertarik.”

Tidak pernah terpikirkan oleh Mariana bahwa benda-benda di sekitar sekolah dan rumah bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar. Setelah mendapatkan pelatihan bersama INOVASI, ia kemudian memanfaatkan biji jagung, biji asam, dan tutup botol untuk membantu siswa memecahkan persoalan matematika praktis dalam konteks keseharian siswa. Berikut salah satu penggunaannya.

Menghitung Hewan Peliharaan

  1. Siswa dibagi ke dalam tiga kelompok dan masing-masing diberikan alat bantu yang berbeda. Kelompok pertama diberikan biji asam, kelompok kedua biji jagung, dan kelompok ketiga tutup botol. Ketiga kelompok juga diberikan bingkai 10 dan kotak puluhan.
  2. Guru kemudian bertanya berapa jumlah hewan peliharaan masing-masing siswa. Lalu siswa menjumlahkan hewan peliharaan mereka untuk masing-masing kelompok.
  3. Siswa meletakkan biji atau tutup botol di atas kotak bingkai 10 sesuai jumlah hewan peliharaan masing-masing anggota kelompok. Setelah itu, mereka menghitungnya. Jika totalnya mencapai atau lebih dari 10, 10 biji atau tutup botol kemudian dipindahkan ke kotak 10.
  4. Selanjutnya, guru mengatakan bahwa ada lima hewan peliharaan setiap kelompok yang mati.
  5. Siswa mengeluarkan biji/tutup botol dari bingkai 10 atau kotak puluhan sesuai jumlah hewan yang mati.

Dengan melihat jumlah biji/tutup botol secara nyata, siswa bisa dengan cepat menghitung berapa jumlah hewan peliharaan kelompok mereka. Variasi alat bantu yang digunakan setiap kelompok, kata Mariana, bertujuan menarik minat siswa. “Setelah selesai satu sesi tersebut, siswa kemudian lanjut dengan soal yang lain dengan bertukar alat bantu tadi,” imbuhnya.

Diakui Mariana, metode belajar seperti ini membuat siswa tidak bosan, lebih aktif, lebih mudah memahami pembelajaran dan pada akhirnya meningkatkan kemampuan berhitung mereka.

 

‘Tangkel Ion’, Media Pembelajaran dari Batok Kelapa Karya Guru di Sumbawa Barat, NTB

Pada tahun 2018, Ludya Mirsafa, S.Pd. SD, guru di Guru SDN 11 Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, terlibat dalam salah satu program rintisan INOVASI, yaitu Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual).

“Program Guru BAIK berupaya meningkatkan kapasitas guru SD dan MI agar mampu menjadi guru yang selalu B-Belajar, selalu mendengar aspirasi, sehingga bersifat A-Aspiratif, selalu melibatkan seluruh siswanya sehingga bersifat I-Inklusif, serta memperhatikan konteks sehingga bersifat K-Kontekstual,” jelas Ludya.

Ludya menjelaskan bahwa melalui program rintisan Guru BAIK ini, Ludya dibimbing bagaimana menemukan masalah, menggali akar permasalahan, hingga menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya ketika di kelas. Menurutnya, INOVASI menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran.

Salah satu tantangan pembelajaran yang dihadapi siswa di kelas Ludya adalah dalam hal memahami bilangan positif dan negatif. Melihat rendahnya kemampuan siswa, Ludya pun berkeinginan membuat sebuah media pembelajaran untuk membantu siswanya.

Sebetulnya materi ajar yang disampaikan Ludya tidak berbeda dengan yang diajarkan guru-guru lain. Namun, media pembelajarannya yang berbeda. Ia menciptakan media pembelajaran kreatif yang bernama “Tangkel Ion”. Tangkel artinya batok kelapa, sedangkan ion adalah istilah yang menggambarkan bilangan positif dan negatif. Selain banyak, tangkel juga mudah didapat di daerahnya dan terpenting Ludya ingin mengangkat sebuah kearifan lokal, maka tangkel lah yang akhirnya ia pilih.

Media pembelajaran inilah yang membuat siswa belajar penuh semangat karena belajar menjadi menyenangkan karena sambil bermain, sehingga jauh dari membosankan.

Tangkel Ion merupakan media pembelajaran yang terbuat dari batok kelapa yang dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Tangkel Ion ini sangat menarik karena dikemas menjadi sebuah permainan yang terdiri dari dua deret tangkel atau batok kelapa.

Satu deretnya untuk batu hitam atau bilangan negatif dan satu deretnya lagi untuk batu putih atau bilangan positif. Setiap batok diisi satu batu dan jawabannya adalah jumlah batok yang tidak memiliki pasangan.

Contoh soal -4 + 2, maka batu hitam yang dimasukkan satu persatu ke dalam masing-masing batok sampai 4 batu dan 2 batu putih dimasukkan ke dalam deretan batok lainnya. Hasilnya adalah ada dua buah batok yang berisi batu hitam tidak mempunyai pasangan sehingga jawabannya adalah -2.

Siswa-siswa sangat senang bermain menggunakan tangkel ion. Pembelajaran menjadi menyenangkan dan siswa lebih mudah mengerti tentang bilangan positif dan negatif.

“Semenjak saya mengikuti kegiatan-kegiatan INOVASI, kemampuan mengajar saya semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena pemahaman saya terhadap media pembelajaran membaik. Media pembelajaran yang semula berfokus pada media pembelajaran modern, tetapi ternyata melalui program INOVASI, saya diajarkan untuk menemukan permasalahan dan menjawabnya dengan konteks lokal.”

Kepada rekan sesama guru, Ludya berpesan agar terus berkreasi dan berinovasi dengan cara mengenali watak siswa, mencari tahu permasalahan di kelas dan berupaya menemukan solusinya yang dapat ditemukan di lingkungan sekitar.

Pembelajaran Efektif dan Inovatif untuk Siswa dengan Bermacam Kemampuan dan Disabilitas

Melalui proses pelatihan dan pendampingan, program Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual) di Lombok Tengah, NTB bertujuan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai salah satu strategi yang kontekstual dan proses pemecahan masalah dalam mengatasi tantangan pembelajaran, khususnya tentang literasi dan numerasi di kelas awal. Peserta program pun diharapkan menjadi pribadi yang pembelajar, mendengarkan aspirasi siswa, memberi kesempatan belajar yang sama bagi siswa yang disesuaikan dengan konteks masing-masing. Upaya ini pun telah membawa perubahan yang berarti karena guru-guru peserta program pun menjadi lebih menyadari bahwa proses pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh guru, sebab masing-masing siswa memiliki potensi.


Hilmiza Umnia Fauzan, adalah guru dan salah satu fasilitator program INOVASI di Kabupaten Lombok Tengah. Selama lebih dari sembilan tahun, Mia sapaan akrabnya, mengajar di SDN Selebung, Kecamatan Praya Tengah. Menurutnya, mengajarkan literasi dan numerasi di kelas awal memiliki tantangan yang beragam serta menuntut kemampuan guru kelas untuk melihat kemampuan dan kebutuhan individual siswa. “Ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah saya dapatkan selama pelatihan program Guru BAIK oleh INOVASI,” tambahnya.

Merefleksikan pengalamannya sebelum menjadi fasilitator program INOVASI, Mia merasa bahwa dulu ia kurang peka melihat keberagaman kemampuan dan hambatan belajar siswa.

“Dulu saya berpikir kalau lamban belajar adalah hal yang wajar dan lumrah dihadapi siswa, yang nantinya akan terselesaikan di jenjang pendidikan berikutnya. Namun, ternyata tak begitu adanya. Permasalahan ini akan berlanjut jika tak ditangani dengan baik lalu sering berujung pada sisiwa yang bersangkutan menjadi putus sekolah,” ujarnya.

Setelah mengikuti pelatihan kerja sama INOVASI dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Mia merasa lebih peka terhadap keberagaman dan keterlambatan belajar siswa yang lalu menuntutnya untuk berinovasi di dalam kelasnya.

Pengenalan terhadap pendekatan solusi yang sesuai konteks di pelatihan melatih Mia untuk mampu mengembangkan solusi se-kontekstual mungkin. Sesekali, menurut Mia, ia menyisipkan permainan tradisional dan mengembangkan bahan ajar kontekstual seperti sedotan bekas untuk mengenalkan operasi bilangan kepada siswa.

“Saya menjadi lebih reflektif dan inovatif dalam menjadikan tantangan mengajar sebagai sebuah peluang untuk menggali bakat dan kelebihan siswa. Kemudian, menggunakannya sebagai bagian dari metode ajar untuk membantu mengatasi kelemahan siswa yang bersangkutan,” terang Mia.

Pengalaman di kelasnya, Mia menangani dua siswa berkebutuhan khusus, di mana satu siswa terindikasi lamban belajar sedangkan siswa lainnya ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Uniknya, Mia peka melihat bakat siswa dengan harapan siswa tersebut memiliki kepercayaan diri dan motivasi lebih sehingga terhindar dari rasa malu dan penindasan (bullying).

Untuk siswanya yang ADHD misalkan, Mia menemukan bahwa kemampuan menghafal siswa tersebut berada di level lebih tinggi daripada teman sekelasnya, sehingga dalam banyak kesempatan Mia tidak memaksa anak tersebut untuk menulis tetapi memfokuskan pada penajaman memorinya.

“Saya juga mencoba mendekati keluarga ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin bahwa putra/putri mereka berbeda. Namun, harapan selalu ada untuk mereka berkembang sesuai potensi dan kelebihannya,” tambah Mia.

Hal ini juga untuk membangkitkan kesadaran keluarga bahwa guru tidak 24 jam bersama sisiwa, sehingga kehadiran dan harmonisasi hubungan sekolah dan keluarga sangatlah penting dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa terutama mereka yang berkebutuhan khusus.

Mia pun berharap berbagai praktik-praktik baik bisa menjadi inspirasi oleh guru-guru lainnya di Lombok Tengah, terutama mereka yang mengajar literasi dan numerasi kelas awal.

“Memang tidak mudah merubah pola pikir per seorangan, tapi saya yakin ketika guru menjadi lebih peka terhadap keberagaman siswa, maka ke depan guru menjadi agen perubahan yang menentukan wajah pendidikan nasional beberapa tahun ke depan,” tutur Mia menutup ceritanya.

Geser Maju Mundur Angka (GEMA), Ide Pembelajaran dari Sumbawa

Di salah satu kegiatan pelatihan program INOVASI di Kabupaten Sumbawa, NTB, guru-guru peserta program yang merupakan guru sekolah dasar saling berbagi pengalaman seputar tantangan pembelajaran matematika di kelas awal. Semua mengakui bahwa matematika adalah mata pelajaran yang kurang menarik bagi siswa kelas awal, selain itu untuk merancang strategi pembelajaran guru pun masih perlu mengembangkan kemampuan guru dalam mengajar.

Dalam sesi diskusi program Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual) tersebut, guru-guru mengakui bahwa salah satu hal yang menyebabkan anak-anak kesulitan menjawab soal-soal matematika adalah karena guru kurang mampu menanamkan konsep sehingga siswa kehilangan arah dalam mengerjakan soal. Hal lainnya adalah kurangnya media pembelajaran yang menarik yang dapat membantu anak memahami pelajaran yang disampaikan. Guru perlu lebih kreatif lagi memanfaatkan sumber daya sekitar untuk mendukung proses pembelajaran.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh guru? Untuk mengatasi tantangan pembelajaran matematika di kelas awal, Hadiahtollah, guru SDN 3 Lape di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat memiliki ide media pembelajaran yang menarik yang bisa memotivasi siswanya untuk belajar dan memahami pelajaran yang ia sampaikan. Wanita yang sudah 25 tahun berkarir sebagai ini mengembangkan metode berhitung operasi penjumlahan dan pengurangan bagi siswa berkebutuhan khusus (ABK), khususnya bagi anak-anak tuna rungu. Metode ini disebut “GEMA” (Geser Maju Mundur Angka).

Sekolah di mana Hadiahtollah mengajar adalah penyelenggara sekolah inklusi. Jumlah ABK di SDN 3 Lape sebanyak 94 orang, termasuk siswa tuna rungu. Tuna rungu adalah seorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran.

“GEMA” (Geser Maju Mundur Angka)

GEMA adalah media pembelajaran dengan tampilan yang sangat menarik, di mana cara menerangkannya menggunakan bahasa bibir atau gerakan bibir. Untuk mengimplementasikan pembelajaran GEMA, di dalam ruangan kelas telah disediakan beberapa alat peraga seperti papan media, gantungan tirai yang terbuat dari besi dan sejumlah keping CD yang berisi angka.

Bagaimana cara penggunaannya? Metode GEMA untuk ABK dimulai denga menguji kemampuan siswa mengenal angka 0-9. Guru lalu menjelaskan tentang langkah operasi penjumlahan dengan cara menggeser maju sedangkan operasi pengurangan dengan cara menggeser mundur angka.

Sebagai contoh untuk operasi penjumlahan, siswa diminta memilih dua keping CD yang sudah ditulis angka 1 sampai 100 yang tersedia dalam kotak angka, sebagai soal penjumlahan. Misalnya angka yang dipilih adalah 2 dan angka 6, lalu kedua angka tersebut digantung di papan media di bawah tulisan PENJUMLAHAN yang  tertulis…..+……=…….yang berarti  2 + 6  = …….

Untuk menentukan hasil penjumlahan, siswa diminta menggeser maju angka pada keping CD yang tersedia di gantungan besi korden. Hitungannya dimulai  dari angka 2 diikuti angka-angka berikutnya yang digeser secara berurutan sebanyak 6 kali sehingga siswa menemukan  angka terakhirnya yaitu angka 8.

Siswa lalu diminta mengambil angka yang sama (maksudnya angka 8) yang tersedia dikeping CD pada kotak angka untuk kemudian digantungkan di papan media di samping tanda “=”  sehingga terbentuk pasangan angka 2+6=8.

Hal yang sama juga berlaku bagi hitungan pada operasi pengurangan. Hanya saja cara menghitung operasi pengurangan dilakukan dengan menggeser mundur angka.

Ternyata, inovasi berdasarkan konteks lokal dan penguatan keterampilan mengajar bisa sangat membantu meningkatkan dasar-dasar literasi dan numerasi siswa di kelas awal. Seperti yang dilakukan Hadiahtollah dengan media-media pembelajaran sederhana yang ia buat sendiri.