Muhammadun, Kepala SD Peduli Anak, menyimpan semangat yang kuat untuk mengubah masa depan anak-anak di sekolahnya, sebuah sekolah yang terletak di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebagai kepala sekolah, mengelola sekolah ini bukanlah perkara mudah untuk Muhammadun. Mayoritas murid SD Peduli Anak berasal dari latar belakang keluarga yang sulit, ekonomi rendah, anak jalanan, dan berhadapan dengan berbagai masalah sosial. Foto: © Tim INOVASI 2024
Di sebuah desa terpencil di Sumba, Selvita Triyonani, seorang kepala sekolah, menapaki jalan berlumpur untuk mengetuk pintu demi membuka pikiran – memastikan setiap anak, termasuk anak dengan disabilitas, mendapat kesempatan untuk belajar dan berkembang. Foto: © Feri Latief/INOVASI 2025
Asis bin Wahid, guru dari wilayah terpencil di kabupaten Malinau, Kaltara, begitu antusias berbagi pengalaman berharga selama menjadi guru di wilayah terpencil. Belum lama ini dia dinobatkan sebagai ‘Guru Inovatif dan Berdedikasi tingkat SD 2024’ oleh Pengurus Besar PGRI. (Foto: © Junaedi Uko)
Antusiasme peserta Pelatihan Portal Ruma Belajar PUSTEKKOM di Sumbawa Besar untuk guru-guru pemenang loma INOVASI dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 2018. Kegiatan ini digelar di Sumbawa pada 26 April 2019 © Tim Komunikasi INOVASI 2019
Suasana kunjungan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Totok Suprayitno, Ph.D., ke Sekolah Dasar Negeri 1 Teke, Palibelo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada 23 April 2019.
Rudianto, Kepala KLASA Cerbon (komunitas Literasi Ana Sekolah Andalan) Komunitas literasi anak sekolah berfoto di SDN 2 Weru Kidul, sebuah sekolah dasar di Kecamatan Weru, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, pada 5 September 2024. © Foto oleh Edy Purnomo / Paladium
Suasana diskusi kepala sekolah bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat
Kunjungan Perwakilan Bappenas dan Konsulat Australia Surabaya ke Madrasah Ibtidaiyah Progresif Bumi Shalawat, Sidoarjo, Jawa Timur. Foto: © Tim Komunikasi INOVASI 2024
Di kaki Gunung Ebulobo, Maria Ugha memulai langkah kecil yang berdampak besar. Ia mengajak murid belajar membaca dari bahasa ibu mereka—bahasa Nage—agar pemahaman tumbuh lebih alami, sekaligus membangun rasa percaya diri sebelum beralih ke bahasa Indonesia.
(Foto ©️ Tim Komunikasi INOVASI 2025)
Di tengah beragam tantangan sosial ekonomi di Kalimantan Utara, Ludiah Liling hadir untuk memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan belajar membaca. Bersama sekolah dan masyarakat, ia membuka akses yang sebelumnya terasa jauh.
(Foto ©️ Tim Komunikasi INOVASI 2025)
Bagi Sitti Syairah Tuatoy, Kepala MI Nurul Falah Masohi, perubahan dimulai dari guru. Ia membangun ruang refleksi, menumbuhkan pembelajaran inklusif, dan menanamkan kepedulian lingkungan, menjadikan madrasah sebagai ekosistem belajar yang hidup dan bermakna.
Di lereng Bromo, Marsini, Kepala SDN Ngadisari 2, Probolinggo menghadapi keterbatasan dengan keteguhan. Melalui kelas rangkap dan dialog dengan masyarakat, ia memastikan anak-anak tetap belajar tanpa meninggalkan akar budaya mereka. Perlahan, kehadiran murid kembali tumbuh.
(Foto ©️ Dian KD/INOVASI 2025)
Berangkat dari rendahnya kemampuan membaca murid, Desmiasih, Kepala SDN 016 Sepaku, Kalimantan Timur menggerakkan perubahan di sekolahnya. Bersama guru dan orang tua, ia membangun budaya literasi hingga sekolah di pedalaman pun terasa hidup dan penuh semangat belajar.
(Foto ©️ Junaedi/INOVASI 2025)
Baiq Suriatun, Kepala SDN 1 Teros di Lombok, percaya setiap anak punya kebutuhan belajar yang berbeda. Melalui Profil Belajar Siswa dan kolaborasi lintas pihak, ia menghadirkan dukungan yang lebih utuh—dari ruang kelas hingga keluarga—agar tak ada anak yang tertinggal.
(Foto ©️ Tim Komunikasi INOVASI 2025)