Belajar Membaca dari Bahasa yang Paling Dekat: Pendekatan guru di Nagekeo membuat literasi awal lebih inklusif dan bermakna

Peran Bahasa Ibu dalam Literasi Kelas Awal

Indonesia adalah rumah bagi 729 bahasa daerah yang hidup dalam keseharian masyarakat. Bagi sebagian besar anak, terutama di daerah, bahasa ibulah merupakan bahasa yang mereka pertama kali dengar dan gunakan untuk memahami dunia, termasuk berinteraksi dengan keluarga.

Namun ketika memasuki sekolah dasar, anak-anak langsung belajar menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Peralihan ini membuat proses belajar membaca dan menulis terasa tidak mudah bagi sebagian anak, terutama di kelas awal.

Pembelajaran berbasis bahasa ibu hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Pendekatan ini membantu anak membangun keterampilan literasi awal melalui bahasa yang telah mereka kuasai, sebelum secara bertahap beralih ke Bahasa Indonesia. Pendekatan ini dikembangkan melalui kemitraan Pemerintah Australia-Indonesia melalui program INOVASI, yang dilaksanakan bersama pemerintah daerah di berbagai wilayah, termasuk di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Perubahan Praktik Pembelajaran di Kelas Awal

Di SDI Wudu dan SDN Aebowo, para guru pernah menghadapi tantangan yang sama: terdapat siswa kelas awal yang tampak ragu ketika diminta membaca atau menjawab pertanyaan. Anak memandang buku, tetapi belum tentu memahami maknanya. Guru perlu mengulang penjelasan berkali-kali, sering tanpa kepastian apakah anak benar-benar mengerti.

Perubahan mulai terasa ketika guru menghadirkan bahasa ibu dalam pembelajaran sehari-hari. Penjelasan konsep sederhana, cerita, dan percakapan kelas mulai disampaikan dalam bahasa yang akrab bagi anak, sebelum secara bertahap dijembatani ke Bahasa Indonesia. Dengan bahasa yang mereka pahami, anak lebih cepat menangkap makna, berani berbicara, dan tidak takut mencoba membaca.

Kepala SDI Wudu, Ibu Merry, melihat langsung perubahan suasana kelas setelah pendekatan ini diterapkan.
“Anak-anak belajar dengan cepat dan guru-guru merasa praktik bahasa ibu ini sangat menolong,” ujarnya.

Kepala SDN Aebowo, Ibu Bergita, mendorong pembelajaran transisi dari bahasa ibu ke Bahasa Indonesia yang terintegrasi dengan Profil Belajar Siswa (PBS) untuk mengidentifikasi kesulitan membaca sejak dini. Dengan pemetaan kebutuhan belajar yang jelas, para guru dapat memberikan dukungan yang tepat bagi setiap anak. (© Foto oleh Tim Komunikasi INOVASI)


Mengajar dengan Cara Baru

Bagi guru, menggunakan bahasa ibu bukan sekadar mengganti bahasa pengantar. Mereka menyesuaikan cara mereka menjelaskan, memilih kosakata yang tepat, dan menghubungkan bahasa ibu dengan Bahasa Indonesia secara bertahap agar anak memahami keduanya. Kepala SDN Aebowo, Ibu Bergita, menilai pengalaman ini sebagai proses belajar bersama. “Tidak hanya anak yang belajar, tetapi gurupun juga ikut belajar,” katanya.

Penguatan praktik di kedua sekolah ini semakin berkembang melalui integrasi dengan Profil Belajar Siswa (PBS). PBS merupakan instrumen untuk mengidentifikasi dini kesulitan -belajar pada kelas awal. Dengan pemetaan kebutuhan belajar yang lebih jelas, guru dapat merancang dukungan yang sesuai bagi setiap anak.

Guru-guru juga terlibat dalam skema cross learning dan teacher exchange, saling mengunjungi kelas dan berbagi pengalaman penggunaan bahasa ibu dalam literasi. Pertukaran ini memperkuat kepercayaan diri guru untuk terus menggunakan pendekatan yang kontekstual.

Kata-kata di dinding kelas menjadi jembatan bahasa. Di SDN Aebowo, guru menggunakan bahasa ibu untuk mengenalkan bunyi dan makna, lalu bertahap mengaitkannya dengan Bahasa Indonesia agar anak memahami secara utuh. 
(© Foto oleh Tim Komunikasi INOVASI)

Bahasa yang Membuka Jalan Literasi Anak

Seiring waktu, perubahan pada siswa menjadi semakin nyata. Anak lebih berani menjawab pertanyaan, aktif bercerita, dan percaya diri saat belajar membaca.

Sejak 2021, Pemerintah Kabupaten Nagekeo bersama INOVASI mengembangkan pembelajaran literasi dasar berbasis bahasa ibu pada PAUD dan kelas awal. Hingga kini, praktik telah diterapkan di lima kecamatan, menjangkau 39 SD dan 39 PAUD/TK, serta memberi manfaat kepada lebih dari 2.000 anak.

Pengalaman di SDI Wudu dan SDN Aebowo menunjukkan bahasa ibu bukan sekadar identitas budaya, tetapi fondasi awal yang membantu setiap anak memulai perjalanan membacanya dengan percaya diri.

Dimulai dari bahasa yang mereka gunakan sehari-hari, anak-anak menjadi lebih percaya diri untuk membaca dan mengekspresikan diri Di SDI Wudu, transisi dari bahasa ibu ke Bahasa Indonesia membuat pembelajaran literasi dini lebih mudah diakses dan rasa percaya diri tumbuh di kelas. (© Foto oleh Tim Komunikasi INOVASI)