Transisi Bahasa ibu ke Bahasa Indonesia dalam penyampaian materi ajar: tantangan dan kesempatan

November 2017

Sebagai bagian dari kegiatan desain percontohan di provinsi Nusa Tenggara Barat, INOVASI berupaya mencari cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa untuk anak-anak di Bima yang bahasa ibunya bukan Bahasa Indonesia.

Terletak di bagian timur pulau Sumbawa, dan mempunyai konteks budaya yang unik, Bima memiliki tantangan tersendiri di bidang pendidikan. Berjumlah penduduk lebih dari 400.000 orang, dan tingkat putus sekolah sebesar 11%, program pendidikan prioritas di Bima pada periode 2016-2017 terutama difokuskan pada kualitas dan kompetensi guru. Dengan prevalensi bahasa daerah yang kuat, guru-guru terus menghadapi permasalahan bagaimana merencanakan dan menangani transisi dari bahasa ibu para siswanya ke menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama kegiatan belajar mengajar dan penilaian di kelas. Ini sangat penting untuk para siswa di tingkat-tingkat awal sekolah dasar.

INOVASI DI BIMA

Melalui program INOVASI, pemerintah Australia dan Indonesia bermitra untuk memahami bagaimana hasil-hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi dapat ditingkatkan di sekolah-sekolah dan kabupaten di seluruh Indonesia. Bima merupakan satu dari enam kabupaten yang menjadi mitra INOVASI di NTB.

Di Bima dan seluruh kabupaten dan provinsi mitranya, INOVASI menggunakan pendekatan unik untuk mengembangkan kegiatan percontohan dan mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil meningkatkan hasil-hasil pembelajaran siswa. Sederhananya, pendekatan ini disebut dengan Adaptasi Iteratif yang Didorong oleh Masalah atau Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Dengan pendekatan ini, INOVASI bekerja dan belajar secara langsung dari mitra lokal untuk mencari dan mengidentifikasi permasalahan lokal, dan bersama-sama mendesain solusi yang relevan untuk digunakan di tingkat lokal. Pemikiran dari bawah ke atas ini memang bukan hal baru – secara konsep mengambil dari pendekatan dalam bidang Melakukan Pengembangan dengan Berbeda dan Desain yang Berpusat pada Manusia – tapi INOVASI terus menerapkan dan mengiterasi versinya sendiri di berbagai lokasi di Indonesia.

Transisi dari bahasa daerah merupakan tantangan yang cukup mengakar di Bima dan di banyak daerah lain di Indonesia. Hal ini terus menjadi penyebab rendahnya hasil pembelajaran di bidang literasi dan numerasi. Untuk membantu membangun kompetensi guru dalam meningkatkan kefasihan, pemahaman, da[;p; kepercayaan diri para siswa untuk menggunakan bahasa resmi negeri ini, Bahasa Indonesia, INOVASI menggunakan PDIA dan berencana untuk menggulir percontohan baru yang berfokus pada transisi dari bahasa ibu di tingkat-tingkat awal sekolah dasar.

Perencanaan percontohan dimulai pada awal September 2017 melalui kegiatan eksplorasi awal. INOVASI bekerja sama dengan dua Kelompok Kerja Guru (KKG) terpilih (KKG adalah forum tingkat akar rumput bagi guru-guru sekolah dasar yang tinggal di dalam satu wilayah gugus sekolah), dari dua kecamatan di Bima. Menggunakan pengamatan di kelas dan taman bermain, serta wawancara dengan guru kelas di tingkat awal sekolah dasar, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan orang tua, INOVASI dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang isu-isu dan konteks lokal di Bima.

Bagian yang penting dari PDIA dan proses perencanaan percontohan adalah pelibatan dan pemberian pelatihan kepada fasilitator lokal, yang biasanya juga adalah guru dan pendidik. Dalam hal ini, fasilitator adalah guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dari dua forum KKG yang terpilih. Dengan mengembangkan kapasitas dan memberdayakan mereka untuk menggunakan pendekatan PDIA dengan masyarakat lokal dan ikut mengidentifikasi akar permasalahan dan penyebabnya, diharapkan hasil akhir desain dan pelaksanaan pilot ini menjadi jauh lebih berkelanjutan.

PEMAHAMAN SEJAUH INI: MEMPERMUDAH TRANSISI

Selama tahap sintesis PDIA, sejumlah alat bantu digunakan untuk mencari penyebab permasalahan, dampak dan prioritisasi, dan solusinya. Wawancara dan observasi tambahan menambahkan kedalaman terhadap pemahaman dan analisis ini. Secara umum, dua fakta menjadi jelas. Pertama, di kelas satu sampai tiga SD, proses pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa yang menggunakan bahasa daerah dilakukan dengan penerjemahan langsung. Kedua, siswa masih membutuhkan waktu untuk terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di dalam dan di luar kelas. Para guru membutuhkan strategi untuk lebih efektif menangani transisi dari bahasa daerah ini. Karena anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa ibu di rumah dengan orang tua mereka, dengan masyarakat lokal, dan bahkan di taman bermain, beralih ke menggunakan Bahasa Indonesia secara penuh sebagai bahasa pengantar utama kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan tantangan tersendiri. Guru membutuhkan strategi pengajaran yang lebih efektif.

Para guru dapat menggunakan contoh-contoh strategi belajar mengajar lokal yang ada – termasuk melalui percontohan pertama INOVASI, yaitu Guru BAIK. Selama bekerja dengan INOVASI, Ibu Arnu, seorang Guru BAIK, berhasil menyusun kamus Bahasa Bima-Indonesia-nya sendiri, yang berisi cerita pendek tentang lingkungan setempat, dan banyak gambar-gambar berwarna yang sederhana. Dengan menggunakan kamus ini, anak-anak didik Ibu Arnu dapat lebih mudah mengembangkan kosa kata bahasa Indonesia mereka. Ide-ide seperti ini dapat dibahas lebih lanjut dengan guru lainnya sebagai bagian dari percontohan yang baru.

Ibu Arnu, guru dari lokakarya Guru BAIK di Bima, dengan kamus Bima-Indonesia-nya

LANGKAH SELANJUTNYA

Ke depannya, fasilitator lokal akan mengkoordinasikan lebih banyak lokakarya dengan guru-guru di Bima untuk bersama-sama mengidentifikasi permasalahan konkret dalam menggunakan Bahasa Indonesia selama proses belajar. Ide-ide untuk kegiatan belajar mengajar di kelas akan dieksplorasi lebih jauh.

Sebagai bagian dari desain akhir percontohan, pengujian dan penilaian ide akan terus dilakukan selama November – Desember 2017, termasuk di sekolah dan kelas yang terpilih. Percontohan di Bima akan mulai dilaksanakan di awal 2018. Ikuti laman Facebook INOVASI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Transisi Bahasa ibu ke Bahasa Indonesia dalam penyampaian materi ajar: tantangan dan kesempatan