Tantangan dan mispersepsi: penilaian formatif di Sumbawa dan Lombok Utara

Di negara-negara di seluruh dunia, penilaian formatif tetap merupakan alat utama di tingkat kelas untuk memberi informasi kepada guru, orangtua dan pembuat kebijakan tentang seberapa baik siswa belajar, dan bagaimana kinerja sekolah di kerangka nasional standar pendidikan.

Biasanya, tugas penilaian formatif diberikan kepada siswa di unit kerja tertentu, untuk memeriksa kemajuan dan membantu menyempurnakan pembelajaran sehingga siswa tetap berada di jalur yang benar. Intinya, penilaian formatif merupakan bagian penting dari perjalanan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan kualitas pendidikan dalam jangka panjang. Di kelas awal, ini sangat penting.

Bagi banyak guru di Indonesia, bidang utama penilaian formatif terus menjadi tantangan. Potensi dan keuntungan penuh menggunakan alat penilaian formatif di kelas sering kali hilang. Ini termasuk mencatat secara formal hasil pengamatan, tanya jawab, kuis, tinjauan dan tes untuk menilai kemajuan pembelajaran siswa.

Pada tahun 2017, INOVASI mengembangkan lokakarya pendahuluan tentang penilaian formatif untuk guru terpilih di Lombok Utara dan Sumbawa, dengan dana bantuan dari anggaran pemerintah daerah. Lokakarya selanjutnya kemudian diluncurkan di Bima, Dompu, Sumbawa Barat dan Lombok Tengah.

Selama lokakarya, para guru diperkenalkan pada perbedaan antara penilaian sumatif dan formatif, dan mengetahui pentingnya menciptakan portofolio penilaian bagi setiap siswa sehingga dapat memantau pembelajaran dan kinerja dengan lebih baik. Contoh alat penilaian formatif juga diperkenalkan.

Dalam bekerja sama dengan para guru di seluruh lokakarya, sejumlah pelajaran penting muncul:

–        Tantangan dalam mengembangkan portofolio siswa: kebanyakan guru belum mencoba menggunakan portofolio penilaian siswa di kelas dan mengalami kesulitan dalam memilih bagian pekerjaan siswa mana yang termasuk dalam portofolio. Ada juga salah persepsi bahwa portofolio itu mahal, karena setiap siswa harus memiliki map mereka sendiri dan laci yang terpisah untuk menyimpannya. Dalam beberapa kasus, kepala sekolah tidak bersedia untuk menutupi biaya ini dari anggaran BOSDA.

–        Membedakan antara penilaian sumatif dan formatif: hampir semua guru mengalami kesulitan dalam memahami perbedaan antara penilaian sumatif dan penilaian portofolio, berpikir bahwa penilaian formatif hanya mengacu pada kegiatan pemeriksaan akhir atau penilaian. Sebenarnya, alat ini harus digunakan selama unit atau proses belajar untuk menilai dan meningkatkan kemampuan belajar siswa.

–        Umpan balik siswa: banyak guru memiliki kemampuan rendah untuk memberikan umpan balik lisan dan tertulis mengenai pekerjaan siswa, meskipun umpan balik ini penting untuk perbaikan dan pembelajaran lebih lanjut. Selama lokakarya berlangsung, banyak peserta merasa lebih percaya diri dalam memberi umpan balik pada item portofolio dan karya siswa.

 

Banyak alat yang digunakan selama lokakarya membantu meningkatkan pemahaman guru, termasuk video utama dan contoh modul. Namun, kebutuhan untuk mengembangkan contoh dan alat yang relevan secara lokal terbukti. Selain itu, kesalahan persepsi lokal seputar biaya portofolio penilaian siswa dapat diatasi dengan menggunakan dan mendaur ulang materi yang tersedia, termasuk kalender bekas dan materi lainnya.

Staf Ahli Pendidikan dari program INOVASI Bapak Afifudin berbicara tentang pentingnya lokakarya ini, dan pentingnya guru untuk belajar memberi umpan balik siswa yang efektif.

“Pemberian umpan balik yang baik sangat penting, karena para guru terbiasa menggunakan penilaian model uji jenis di mana mereka hanya memberi skor pada tes, dan bukan memberi komentar atau menganalisis respons siswa. Dari lokakarya ini, dampak paling signifikan yang kami amati adalah perubahan pola pikir para guru, bagaimana mereka memandang dan menggunakan penilaian formatif.”

Salah satu peserta lokakarya, Ibu Dina Diana, guru kelas satu dari Sumbawa Barat, mengatakan “manfaat dari proses ini bagi para guru adalah untuk merefleksikan pra dan pasca pembelajaran siswa kami, sehingga kami dapat mengumpulkan penilaian dan pengetahuan dan mengetahui kebutuhan siswa kami. Selain itu, siswa bisa menilai dirinya sendiri.”

Guru sekolah dasar lain dari Sumbawa Barat, Ibu Eka Sari Sumbawati, juga belajar banyak tentang konsep penilaian formatif dari lokakarya.

“Proses penilaian formatif sangat penting karena penilaian siswa tidak hanya nilai ujian akhir, tapi kita sebagai guru perlu memperhatikan perkembangan pemahaman peserta didik di sepanjang jalan. Penilaian ini tidak merugikan siswa, karena bisa memperbaiki dan memperkaya pembelajaran mereka sepanjang perjalanan,” katanya.

Ke depannya, INOVASI akan terus memberikan dukungan teknis kepada Badan Penelitian dan Pengembangan untuk mendukung agenda penilaian formatif nasional mereka. Ini termasuk mendukung pengembangan kerangka kerja nasional mengenai penilaian formatif dan jaminan kualitas kerangka kerja. Program sosialisasi dan pelatihan juga dapat dikembangkan secara paralel, dengan rencana untuk melakukan percontohan di salah satu kabupaten mitra INOVASI.

Tantangan dan mispersepsi: penilaian formatif di Sumbawa dan Lombok Utara