Solusi lokal untuk masalah lokal: pengawas sekolah mengeksplorasi tantangan bahasa dan pembelajaran di Sumba Timur

Di Sumba Timur dan seluruh kabupaten dan provinsi mitranya, INOVASI menggunakan pendekatan khas dalam mengembangkan berbagai program rintisannya untuk mencari tahu cara-cara yang terbukti berhasil dan tidak berhasil dalam meningkatkan hasil pembelajaran literasi dan numerasi siswa. Pendekatan ini menggunakan prinsip yang dikenal dengan sebutan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Dengan pendekatan ini, INOVASI bekerja dan memetik pelajaran secara langsung dengan mitra-mitranya di daerah dalam mengeksplorasi dan memahami konteks di daerah tersebut, serta merancang, mencoba dan menguj ide-ide solusi untuk permasalahan pembelajaran yang ditemukan di daerah.

Banyak inisiatif baru yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di Indonesia memiliki solusi ‘satu untuk semua’ dan belum menghasilkan hasil berkelanjutan yang diinginkan. Dalam beberapa kasus, program dapat dirancang dan digabungkan oleh pemangku kepentingan di lapangan – pendapat dan perspektif mereka mungkin tidak disertakan dalam identifikasi masalah dan perencanaan solusi. Selain itu, mereka tidak selalu relevan dengan konteks budaya Indonesia yang beragam.

Gerson Naru, seorang pengawas sekolah dasar dari Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu Fasilitator Daerah (Fasda) INOVASI yang telah bekerja di tingkat sekolah untuk mengeksplorasi tantangan dan hambatan mendasar dalam meningkatkan hasil belajar. Di Sumba Timur, INOVASI sedang dalam tahap perencanaan program rintisan awal, dengan fokus pada transisi dari bahasa ibu ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama pengajaran kelas.

Dengan menggunakan pendekatan PDIA, akar penyebab masalah lokal diselidiki sebelum merencanakan solusi. Hasil awal ini dikategorikan, disintesis dan menginformasikan solusi akhir yang kemudian diuji melalui kegiatan rintisan. Pada setiap langkah, identifikasi masalah melibatkan pemangku kepentingan lokal. Dengan fokus program pada pendidikan, Fasda INOVASI di setiap kabupaten mitra melakukan eksplorasi dan sintesis awal ini untuk mengetahui tantangan nyata yang dihadapi oleh sekolah, guru dan kepala sekolah.

Walaupun Gerson baru saja mengenal pendekatan PDIA, ia sudah merasakan manfaatnya.

Misalnya, ia kini merasa lebih tajam dalam membedah permasalahan di sekolah. “Jadi kita meneliti dulu, bukan seperti kebiasaan sebelumnya yaitu sering sambil menilai dan langsung mengarahkan.  Kita berangkat benar-benar mencari fakta-fakta masalah yang ada di sekolah. Penilaian muncul setelah fakta-fakta atau data tersebut terkumpul dengan lengkap dan itu kita bicarakan bersama,” ujarnya saat mengikuti kegiatan Sintesa PDIA untuk rintisan program Pembelajaran Multi Bahasa Bagi Siswa Penutur Bahasa Daerah di Waingapu.

Perbedaan antara fakta dan opini dalam pelatihan PDIA memang sangat ditekankan. Selama ini, menurut Gerson, para pengawas masih sering menilai sekolah berdasarkan opininya, bukan dari kumpulan fakta-fakta. Akibatnya ketika menentukan pemecahan masalah sekolah, sering tidak tepat sesuai masalahnya.

“Pengawas sekolah kadang tidak bisa membedakan antara opini dan fakta, sehingga dalam penilaian sekolah, seringkali tidak objektif. Pada pelatihan menggunakan pendekatan PDIA, ada sesi pembedaan tajam antara keduanya,” ujarnya.

Gerson mengatakan kecenderungan menilai dengan kualitas tertentu terhadap kinerja cara mengajar guru cenderung menjadi opini. “Misalnya, setelah kita mengamati guru, kita tidak bisa mengatakan guru kurang menguasai metode pembelajaran, sebelum terkumpul fakta-faktanya secara lengkap misalnya guru tidak melakukan apersepsi, tidak menggunakan media, tidak membuat lembar kerja dan sebagainya,” ujarnya.

Oleh karena itu, selama penelitian eksploratif tersebut, ia juga tidak mengenakan seragam pengawas. Cukup berpakaian biasa saja namun rapih. Biasanya hanya mengenakan baju putih dan mendekati yang diteliti dengan pendekatan tanpa menilai. Ia merasa lebih nyaman dengan memposisikan dirinya sejajar dengan yang diteliti.  “Dengan cara begini, saya lebih banyak menggali akar masalah di sekolah. Mereka menjadi lebih rileks,” ujarnya.

Pengawas yang lain, yaitu Rambu Ika, juga merasakan manfaat besar setelah mengikuti proses-proses pencarian masalah menggunakan pendekatan PDIA. Menurut ibu yang sudah tiga tahun menjadi pengawas ini, tekniknya dalam mengawasi sekolah menjadi lebih tajam berkat adanya alat-alat bantu pendekatan PDIA. “Kita tidak sekedar tahu ada masalah, tapi benar-benar didorong tahu akar masalahnya. Dulu kita sering cepat-cepat menyimpulkan sendiri akar masalah, dan itu bisa menyesatkan. Kini kita  dilatih untuk menggali lebih dalam,” ujarnya.

Menurut Rambu Ika, bukan hanya kemampuan membedakan fakta dan opini, dan penggunaan strategi lain yang membuat data yang diperoleh dalam kegiatan berbasis PDIA ini menjadi lebih tajam, tapi dikarenakan fasilitator daerah juga harus melakukan validasi data yang diperoleh. Validasi tersebut dilakukan dengan cara melibatkan seluruh guru yang diteliti untuk terlibat pada kegiatan sintesa.

Dalam kegiatan sintesa ini, para guru tersebut sebelum diajak kembali secara berkelompok mengidentifikasi masalah apa saja yang mereka alami, yang mereka pilah dalam tujuh kategori: penguasaan materi, metode atau strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, media yang digunakan, penilaian siswa, penggunaan bahasa dan dukungan kepala sekolah, orang tua, dan komite.

Setiap guru menegaskan kembali penemuan sebelumnya bahwa banyak masalah di tiap kategori tersebut.  Misalnya pada kategori metode atau strategi pembelajaran, beberapa guru secara lebih spesifik menyatakan merasa belum menguasai secara penuh strategi bagaimana mengenalkan huruf secara lebih efektif kepada siswa. Metode yang mereka gunakan masih model menghapal yang membuat para siswa sampai kelas dua belum bisa secara sempurna mengenal huruf.

Dalam kategori pengelolaan kelas misalnya, guru juga selama ini belum mengelola kelompok berdasarkan gender, dan dalam kategori dukungan dari orang tua, banyak guru juga merasa dukungan orang tua dalam pembelajaran dan penguasaan bahasa Indonesia masih kurang. Orang tua di rumah tidak ikut membiasakan anak berbahasa Indonesia. Hasil-hasil ini semakin menegaskan dan mempertajam penemuan penelitian ekplorasi yang dilakukan oleh Fasda.

Agar akar masalah yang sudah dinyatakan tersebut ditemukan oleh mereka sendiri, salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Gerson dan Rambu Ika adalah memfasilitasi para guru untuk mencari akar masalah tersebut dengan bertanya antar mereka sendiri menggunakan 5-whys.
Kegiatan ini membantu fasilitator menyelidiki lebih jauh mengapa dan bagaimana masalahnya. Mengapa hal itu terjadi? Kenapa sekarang? Mengapa dalam konteks lokal ini? Mengapa di kelas ini bersama para siswa ini?

“Dengan validasi dalam kegiatan sintesa semacam ini, akar masalah yang ditemukan mendapatkan justifikasi dan benar-benar dirasakan sendiri oleh para guru yang diteliti,” ujar Gerson.

Kedua pengawas tersebut berharap, dengan menguasai beberapa alat-alat bantu pendekatan PDIA seperti cara-cara wawancara efektif, 5-Whys, diagram masalah, proses memfasilitasi sintesa dan lain sebagainya, mereka  ke depannya bisa membantu sekolah lebih komprehensif dalam  peyusunan dokumen kurikulum, RKT, RKAS, membimbing guru dalam meningkatkan strategi mengajar dan sebagainya.

Gerson dan Rambu Ika masing-masing saat ini mengawal 12 sekolah di Sumba Timur. Keduanya merupakan anggota tim Fasda program kemitraan pendidikan INOVASI Sumba Timur yang terdiri dari 10 orang.

Solusi lokal untuk masalah lokal: pengawas sekolah mengeksplorasi tantangan bahasa dan pembelajaran di Sumba Timur