Selamat tinggal cara mengajar lama

Oleh: Tumpal Sujadi, INOVASI Child Protection Officer

Baru-baru ini, saya berkesempatan mengunjungi sekolah dasar negeri yang terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sekolah tersebut terlibat dalam sebuah studi pemetaan inovasi yang dilakukan oleh program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia.

Sekolah itu luas dan indah. Biasanya, suasana sekolah dasar negeri adalah sebaliknya. Anda akan menemukan ruang kelas dengan dinding kosong, hanya beberapa tabel, papan dan mungkin beberapa gambar pemimpin negara di dinding.

Tapi tidak demikian dengan sekolah ini. Di sekolah ini, kelas hidup. Anak-anak duduk berkelompok, siap untuk mendiskusikan pelajaran dengan teman-teman mereka. Dinding kelas ditutupi dengan hasil kerja siswa dan buku-buku bacaan tersebar di mana-mana.

Saya duduk pagi itu dan mengamati kelas tiga, yang sedang mendiskusikan tentang tata surya dengan guru mereka.

Di sekolah ini, saya tidak melihat kebiasaan mengajar satu arah yang biasanya digunakan oleh guru sekolah dasar. Guru ini menggunakan replika yang terbuat dari barang bekas untuk menggambarkan matahari yang dikelilingi oleh planet-planet. Meskipun terbuat dari bahan sederhana, alat peraga mampu memberikan visualisasi posisi planet dan bagaimana mereka mengitari matahari.

Setelah menjelaskan konsep dengan alat peraga sederhana, guru membagikan kartu yang berisi delapan gambar planet kepada siswa. Siswa kemudian diminta untuk mengurutkan gambar planet sesuai urutan, seperti yang ditunjukkan oleh guru mereka sebelumnya.

Para siswa dengan cekatan dan penuh semangat memilah-milah gambar dan menuliskannya di atas kertas. Saya menyaksikan para siswa bercanda dan tertawa ketika mereka mewarnai, sambil membahas apa yang mereka pelajari. Para siswa aktif dalam diskusi.

Tidak berhenti di situ, guru kemudian mengajak anak-anak untuk keluar ke halaman sekolah untuk kegiatan di luar ruangan.

Masih menggunakan tema tata surya, anak-anak diminta untuk menggambar delapan lingkaran dengan kapur. Dimulai dari gambar lingkaran kecil ke gambar lingkaran besar, dan satu anak berdiri di tengah lingkaran. Delapan anak diminta berdiri di sepanjang garis lingkaran dan kemudian mulai berjalan di sekitar anak yang berdiri di tengah. Ketika mereka melakukan kegiatan itu, anak-anak yang berkeliaran di lingkaran kecil dengan cepat akan mengelilingi teman mereka di pusat lingkaran. Mereka memperhatikan bahwa anak-anak yang berkeliaran di lingkaran luar memerlukan waktu lebih lama untuk melingkari teman mereka di tengah.

Dengan menggunakan kegiatan ini sebagai contoh aktif, guru menjelaskan bagaimana planet-planet melakukan perjalanan mengelilingi matahari, menekankan bahwa setiap orbit planet bervariasi tergantung pada jaraknya dari pusat tata surya.

Yang dapat saya lihat dari kegiatan ini, pembelajaran aktif di dalam dan di luar kelas jauh lebih efektif daripada pembelajaran pasif. Anak-anak dapat dengan mudah mendapatkan gambaran yang lebih konkret tentang bagaimana tata surya bekerja. Ini mengingatkan saya pada teori heliosentris bahwa planet mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya dan bukan sebaliknya, seperti yang sering diajukan oleh anak-anak kecil: “mengapa matahari selalu mengikuti kita?”

Metode pembelajaran yang saya saksikan, sangat berbeda dari apa yang saya alami ketika saya duduk di kelas awal sekolah dasar. Saya ingat guru hanya menggunakan metode pengajaran satu arah, dengan siswa hanya duduk dan mendengarkan dengan manis. Bahkan jika ada alat peraga belajar, mereka biasanya hanya diberikan gambar.

Apa yang dilakukan oleh guru di sekolah ini sangat menarik, memberikan perhatian pada perbedaan gaya belajar individu. Apa yang guru ini lakukan mengingatkan saya pada teori yang dikembangkan oleh Walter Burke Barbe bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang unik yang biasanya dibagi menjadi tiga kategori seperti visual, auditori dan kinestetik.

Dimulai dengan visualisasi dan alat peraga belajar, guru merangsang anak-anak yang lebih suka belajar dengan melihat contoh-contoh konkret dan mendorong antusiasme mereka. Kemudian anak-anak berdiskusi dan bermain di luar, menstimulasi anak-anak yang senang mendengarkan dan gerakan aktif, dan membantu mereka untuk cepat menyerap konsep pembelajaran inti.

Dari pengamatan saya hari itu di Jawa Timur, saya merasa bahwa rasa ingin tahu saya terjawab. Saya bertanya-tanya mengapa anak-anak begitu antusias, partisipatif, dan sangat menikmati apa yang mereka pelajari. Hanya dalam waktu satu jam, siswa dapat dengan mudah memahami konsep pembelajaran inti seperti urutan planet di sekitar matahari, menghafal nama-nama planet, dan mengetahui bagaimana mereka bekerja ketika mengitari matahari.

Jadi, saya pikir ini saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada gaya belajar lama dan menyambut pendekatan baru untuk mengajar dan belajar di sekolah dasar. Sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa kelas awal dan hasil pembelajaran karena 60-70% pasar tenaga kerja Indonesia hanya lulus dari sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Diperlukan pendekatan baru untuk meningkatkan ini.

Selamat tinggal cara mengajar lama