Sekolah Dasar di Bima mereplikasi program INOVASI secara mandiri

Sejak 2017, INOVASI terus menerapkan serangkaian program rintisan di NTB, yang semuanya bertujuan untuk memperkuat kualitas pendidikan dan hasil pembelajaran. Di setiap kabupaten mitra, indikator utama keberhasilan adalah ‘scale out’ atau implementasi program secara lebih luas dari pendekatan yang telah terbukti berhasil. ‘Scale out’ berarti mitra non-pemerintah dan mitra kabupaten setempat memutuskan untuk meningkatkan jumlah penerima manfaat program rintisan dengan pendanaan independen. INOVASI memainkan peran penting dalam mendukung perluasan di dalam kabupaten ini. Hanya dengan implementasi program secara lebih luas pada tingkat ini kita dapat mengetahui pendekatan apa yang berhasil di kabupaten dan apa yang realistis, terjangkau dan berkelanjutan bagi pemangku kepentingan lokal.

Di Bima, salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di NTB, beberapa guru dan pendidik baru kini telah diperkenalkan dengan kegiatan dan pendekatan program rintisan kami. Salah satu pendidik ini adalah Anwar Mas’ud, koordinator pengawas sekolah di Kecamatan Langgudu.

Pada Bulan Oktober tahun lalu, Anwar Mas’ud, S.Pd diundang hadir di SDN Karumbu, Bima, untuk mengikuti pelatihan literasi dasar bagi guru kelas awal yang dilaksanakan oleh INOVASI. Dia diundang dalam kapasitasnya sebagai koordinator pengawas kecamatan Langgudu. Pada pelatihan itu, beberapa guru kelas awal dari dua sekolah, SD Karumbu dan SD Pusu, dilatih oleh Fasilitator Daerah yang sebelumnya sudah dilatih oleh INOVASI. Mereka mendapat materi tentang metode dan cara mengajar yang baru yang tujuannya untuk membangun keterampilan literasi anak di sekolah.

Materi pelatihan yang diberikan itu sangat menarik bagi Anwar. Sebagai pengawas sekolah yang turut bertanggung jawab atas kualitas pendidikan di Kecamatan Karumbu, dia menganggap apa yang diberikan itu sangat relevan dengan kebutuhan di sana.

“Pelatihan ini luar biasa, menurut saya, karena berfokus pada proses pembelajaran supaya siswa bisa betul-betul paham. Ini bisa meningkatkan kemampuan guru dan memberi manfaat bagi anak didik kami. Hanya saja, saya menyayangkan kalau hal sebagus ini hanya diperoleh oleh guru dari dua sekolah,” tutur Anwar.

Usai pelatihan, Anwar mengambil inisiatif untuk berbicara dengan INOVASI. Dia mengutarakan keinginannya agar pelatihan ini dapat diperluas dengan melibatkan sekolah-sekolah lain. Untuk pembiayaannya, mereka akan melakukannya secara mandiri. Permintaan ini disambut baik oleh tim INOVASI.  Anwar kemudian kembali ke kantornya dan membicarakan ini dengan koleganya di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Langgudu, termasuk dengan Hamdiah, S.Pd, Kepala UPT. Semuanya menyambut baik dan langsung meneruskan ini ke sejumlah kepala sekolah di sekolah-sekolah terdekat.

Pada pelatihan-pelatihan literasi selanjutnya, jumlah peserta pun semakin ramai. Awalnya hanya ada dua sekolah menjadi tujuh sekolah. Lima sekolah baru mengirimkan guru mereka dengan biaya mandiri.

Hamdiah menyatakan betapa gembiranya dia dengan kehadiran program INOVASI di wilayah kerjanya. Peningkatan mutu dan kapasitas guru merupakan kebutuhan penting di sana. Menurut dia, selama ini belum banyak guru yang beruntung mendapat kesempatan untuk dilatih. Dia juga merujuk pada kondisi geografis Kecamatan Langgudu yang sulit, serta jaraknya yang begitu jauh dari Ibukota Kabupaten.

“Sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan kami ini begitu kompleks. Masih banyak yang tidak bisa diakses oleh kendaraan. Ada yang mesti mendaki gunung dengan jalan setapak, dan ada yang berada di seberang lautan,” cerita Hamdiah. Kesemuanya itu adalah tantangan bagi Hamdiah dan koleganya di UPT untuk membangun kualitas pendidikan.

Masuknya program INOVASI selama beberapa bulan terakhir ini membawa harapan baru untuk membangun kualitas guru di Kecamatan Langgudu itu. Beberapa guru sudah mendapatkan pelatihan Literasi Kelas Awal.

“Beberapa kali saya jalan ke sekolah, saya melihat guru-guru sudah mengajar dengan cara yang berbeda. Mereka tidak lagi mengandalkan berdiri di depan kelas dan menulis di papan tulis. Mereka sudah menggunakan alat bantu mengajar termasuk big book. Tentunya anak-anak senang dengan model seperti itu,” papar Anwar.

Upaya untuk memperluas manfaat program INOVASI akan segera digencarkan di Kecamatan Langgudu ini. Hamdiah mengatakan bahwa tim UPT akan memanfaatkan berbagai pertemuan koordinasi dengan para kepala sekolah untuk mensosialisasikan dan mendorong agar replikasi bisa segera dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang ada di daerah tersebut.

Selain di Kecamatan Langgudu, replikasi secara mandiri dari program INOVASI juga sudah dilakukan oleh sejumlah sekolah di Kecamatan Wawo. Di kecamatan itu jumlah sekolah yang sudah melakukan replikasi bahkan lebih banyak lagi, yaitu 18 sekolah. Sama seperti di Kecamatan Langgudu, replikasi yang terjadi di kecamatan Wawo juga merupakan buah dari inisiatif pengawas sekolah di kecamatan tersebut.

Semangat untuk mereplikasi ini, sesungguhnya sejalan dengan keinginan dari Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Bima, Zunaiddin S. Sos, MM, agar seluruh sekolah yang ada di Kabupaten tersebut merasakan manfaat dari program INOVASI. Dalam beberapa kesempatan, dia sudah menegaskan komitmennya agar program rintisan Literasi Kelas Awal serta Pembelajaran Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI) yang sudah ada ini masuk ke semua sekolah dasar yang ada. Ini sejalan dengan semangat Kabupaten Bima yang tengah bergerak untuk mewujudkan Kabupaten Bima sebagai Kabupaten Literasi.

Sekolah Dasar di Bima mereplikasi program INOVASI secara mandiri