Saya Suka Membaca Demi Peningkatan Kualitas Literasi di Lombok Utara

Pada 2018 – 2019, INOVASI memulai 34 program rintisan dalam kemitraan dengan 20 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu mitra hibah ini adalah Yayasan Tunas Aksara (YTA), yang bekerja untuk memperkuat pengajaran dan pembelajaran literasi kelas awal di Lombok Utara, salah satu kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Bekerja dengan 12 sekolah di seluruh kabupaten, program YTA akan membekali 28 guru kelas satu dan dua dengan pelatihan Saya Suka Membaca (SSM), kurikulum, materi dan bimbingan. Guru akan membangun pemahaman dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengajar membaca secara efektif dan dengan cara yang menarik, membawa anak-anak dari belajar ‘bunyi huruf’ menjadi mampu membaca kata-kata sederhana, kalimat pendek dan akhirnya paragraf pendek dan buku dengan pemahaman. Setiap sekolah juga akan diberikan ‘Perpustakaan di dalam kotak’, yang semakin memperkaya lingkungan membaca sekolah untuk siswa kelas awal.

Pagi itu sekumpulan anak-anak berbaju daerah memasuki ruangan bercat putih. Terlihat ruangan itu baru dibangun dan di dinding ruangan belum ada tempelan yang biasanya dijumpai di ruangan kelas. Itulah pemandangan ruang kelas 2 SDN 5 Jenggala, Tanjung, Lombok Utara. Hal ini terjadi karena bangunan sekolah ini baru berdiri setelah rubuh terdampak gempa.

Sekolah ini merupakan salah satu dari 14 sekolah dampingan program Saya Suka Membaca (SSM) yang diimplementasikan melalui program kemitraan INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) dengan Yayasan Tunas Aksara.

SDN 5 Jenggala menurut pengakuan Kepala Sekolahnya, Inggisardi S.Pd, terbantu dalam proses pembelajaran, khususnya terkait peningkatan literasi.

“Jadi SSM ini sangat membantu sekali terutama guru-guru kami yang mengajar di kelas 1, 2 dan 3. Guru-guru kami mereka memberi laporan yang baik terkait proses pembelajaran. Guru terbatu dengan SSM. Anak-anak lebih cepat paham. Kami sangat mendukung program SSM ini ke depan,“ ujarnya.

Kembali ke ruangan kelas 2 SDN 5 Jenggala, dari luar terdengar riuh suara anak-anak yang belajar membaca kata dan kalimat. Kebetulan pada hari itu gurunya, Dwi Damayanti S.Pd, sedang mengajarkan akhiran kata dengan huruf ‘H’.

Damayanti bukanlah guru kelas tetapi guru olahraga di sekolah ini. Namun, karena ditugaskan oleh sekolah berhubung guru kelas 2 akan memasuki pensiun, Damayanti pun mengajar siswa di kelas ini untuk membaca sesuai kurikulum SSM.

Damayanti mengaku pada awalnya dia merasa kikuk untuk mengajar tetapi dengan materi yang didapatnya dari pelatihan program SSM, Damayanti dapat mengajar dengan baik.

“Pada saat kami mengikuti pelatihan SSM banyak sekali yang kami peroleh seperti bunyi huruf. Saya baru tahu kalau huruf itu ada gerakannya, ada bunyi hurufnya. Jadi, anak-anak lebih cepat memahami atau mengenal huruf. (Mereka) lebih cepat menghafal huruf. Misalkan kalau anak lupa, kita tunjukkan gerakannya, anak cepat ingat huruf tersebut. Jadi banyak sekali yang baru kita dapat dari pelatihan SSM ini,“ ungkap Damayanti.

Program SSM mengajarkan guru tahap demi tahap agar anak dapat membaca. Mulai dari mengenal huruf yang disertai dengan bunyi dan gerakan. Kemudian dilatih tentang suku kata yang disertai dengan kartu suku kata. Tahap ke-tiga adalah mengenal kata dan kalimat dan terakhir membaca mandiri. Setiap tahapan ini didesain secara spesifik yang membantu siswa cepat mengenal huruf, suku kata, kata, kalimat dan akhirnya dapat membaca. Guru juga diperlengkapi dengan buku panduan, kartu suku kata, dan buku cerita.

Damayanti mengungkapkan bahwa metode dan perlengkapan yang diberikan mempermudah guru dalam proses pembelajaran.

“Cara kami mempraktikkan kurikulum SSM di kelas sangat mudah. Kenapa saya bilang sangat mudah karena kami sudah dibekali dengan buku panduan. Buku panduan itu sudah lengkap dengan langkah-langkahnya. Jadi kami mempraktikkannya di kelas sangat mudah. Tidak ada kesulitan. Anak-anak juga sangat antusias karena SSM ini kurikulumnya luar biasa, sangat menyenangkan. Jadi tidak ada kesulitan yang saya rasa di kelas,” ucap Damayanti.

Tak lupa para guru juga diperlengkapi setiap tes untuk setiap tahapan sehingga guru dapat memberikan perlakuan yang sesuai untuk masing-masing siswa berdasarkan hasil tes dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi mereka.

Perubahan nyata sudah terlihat di kelas 2 SDN 5 Jenggala dengan intervensi program SSM. Damayanti mengungkapkan bahwa perubahan yang paling mendasar tidak hanya dari tingkat literasi siswa yang meningkat tetapi juga beberapa siswa menjadi jarang absen.

“Setelah saya masuk menerapkan SSM, anak-anak lebih antusias. Sebelumnya banyak mengantuk, sering tidak masuk. Setelah saya terapkan SSM tidak ada lagi anak-anak keluar masuk kelas. Jadi, suasana kelas tetap tenang dan menyenangkan. Setelah ada SSM, perpustakaan mulai ramai. Minat baca mulai terlihat. Ada wali murid datang ke saya mengucapkan terima kasih karena anaknya bisa membaca. Saya tidak melakukan apa-apa hanya menerapkan kurikulum SSM,“ terangnya.

Damayanti mencontohkan salah seorang siswanya yang dulu sebelum ada program SSM, sering absen. Sekarang, siswa itu sering masuk kelas karena tidak ingin ketinggalan cerita yang dikisahkan oleh Damayanti melalui buku cerita yang disiapkan melalui program SSM.

Berbicara mengenai tingkat membaca siswa di kelas 2 SDN 5 Jenggala, Damayanti mengungkapkan bahwa ada peningkatan tingkat membaca meskipun belum sepenuhnya.

“Sebelum menerapkan SSM, banyak yang tidak membaca bahkan tidak mengenal huruf. Setelah saya menerapkan SSM sekarang sudah lumayan. Kalau saya persenkan hampir 80% anak-anak (siswa) saya sudah bisa membaca meskipun belum sempurna. Jadi kurikulum SSM sangat berpengaruh sekali pada anak didik saya untuk (bisa) membaca.”

Di akhir pertemuan, Damayanti mengungkapkan bahwa dia berharap agar Pemda KLU dapat meneruskan program SSM dan dia sendiri akan berbagi apa yang telah dia terima melalui program SSM kepada rekan sejawatnya.

 

Saya Suka Membaca Demi Peningkatan Kualitas Literasi di Lombok Utara