Reading Camp: Solusi Tingkatkan Kemampuan Literasi Anak

Di Sumba Barat, sebuah kabupaten mitra INOVASI di Nusa Tenggara Timur, program rintisan literasi telah dilakukan sejak akhir 2018. Data baseline tahun 2018 INOVASI memberikan gambaran yang mengecewakan tentang literasi dan kualitas pembelajaran di seluruh kabupaten, dengan 84% siswa kelas satu gagal lulus tes literasi dalam pengenalan huruf. 97% tidak lulus dalam pengenalan kata. Melalui program rintisan literasinya, INOVASI telah menerapkan serangkaian strategi belajar-mengajar yang berfokus pada peningkatan keterampilan membaca anak-anak.

Reading camp, atau kelompok membaca, adalah sebuah kegiatan pengelompokkan kemampuan dasar membaca siswa. Tujuannya untuk mempercepat peningkatan kemampuan dasar siswa dalam membaca. Kegiatan ini telah berlangsung di 19 sekolah mitra INOVASI di Sumba Barat. Berikut sekilas gambaran kegiatan reading camp yang berlangsung di SD Katolik Kalelapa, Kecamatan Tana Righu, Sumba Barat, NTT.

Pagi itu, suasana di SD Katolik Kalelapa terlihat riuh. Siswa kelas 1, 2, dan 3 berhamburan keluar kelas, untuk kemudian kembali masuk ke empat ruang kelas berbeda. Di belakang mereka, beberapa orang guru mengikuti dengan menenteng keranjang berisi media-media belajar.

Semua siswa kelas awal dikelompokkan sesuai dengan kemampuan dasar membaca mereka, yakni membaca huruf, membaca suku kata, membaca kata, kelancaran membaca, dan membaca pemahaman. Tidak heran, jika di dalam kelompok yang sama terdapat siswa dari kelas yang berbeda. Untuk menjaga motivasi siswa, kelas tersebut dinamai dengan kelompok A, B, C, D, dan E.

Beatriks M. E Kurnianingsih, Kepala Sekolah SD Katolik Kalelapa, menegaskan bahwa dirinya menargetkan peningkatan kemampuan membaca siswa tercapai di akhir tahun ajaran. Apabila 18 sekolah lain mengagendakan kegiatan ini 3 kali dalam seminggu dengan jatah waktu 30 menit, maka dengan frekuensi yang sama, SD Katolik Kalelapa menambah jam untuk kelompok huruf, suku kata, dan kata, menjadi seharian penuh.

“Bagaimana mungkin anak bisa mengikuti pelajaran sesuai kurikulum kalau membaca saja tidak bisa?” ujarnya melemparkan pertanyaan retoris. Bu Ningsih, demikian ia biasa disapa, mengatakan bahwa jika kegiatan ini dilakukan secara konsisten, maka persoalan rendahnya kemampuan membaca siswa akan teratasi. Guru juga bisa lebih fokus mendampingi siswa dengan kemampuan yang sama.

Pelaksanaan reading camp yang terorganisasi dan terjadwal dengan baik memungkinkan guru untuk memantau kemajuan membaca para siswa dengan lebih baik. Melalui sistem penilaian formatif, guru memberikan penilaian berkala untuk masing-masing siswa, termasuk rekap data hasil penilaian oleh guru dan kepala sekolah.

Ada banyak kegiatan yang dilakukan siswa di masing-masing kelompoknya. Di kelompok A, atau kelompok membaca huruf, guru membimbing siswa yang baru dapat membaca huruf untuk bisa naik membaca suku kata. Dengan demikian, mereka bisa naik tingkat ke kelompok membaca suku kata, dan demikian berlanjut terus hingga semua anak bisa lulus dari kelompok membaca pemahaman.

Kreativitas para guru dalam menemukan strategi yang tepat menjadi sangat penting dalam meningkatkan kemampuan anak didik. Katrina Malo, guru kelas 1 yang bertugas memandu kelompok A (membaca huruf) mendapatkan inspirasi strategi kreatif dalam membimbing siswa saat mengikuti sesi-sesi Kelompok Kerja Guru (KKG).

Di kelas membaca huruf, Katrina menggunakan pendekatan visual dengan menyiapkan dua kelompok gambar, yaitu gambar besar huruf dan gambar objek dengan keterangan tulisan di bawahnya. Ia kemudian meminta siswa mencari gambar objek yang memiliki tulisan dengan huruf pertama yang sama dengan gambar huruf. Jika menemukan, siswa diminta meletakkan gambar-gambar objek tadi di atas potongan gambar huruf yang berukuran besar.

Sayup-sayup terdengar suara tepuk tangan di kelas sebelah, yang tak lain diisi oleh kelompok B, yang berisi anak-anak dengan tingkat kemampuan membaca suku kata. Kelompok ini dibimbing oleh Delsianan K. Ngongo, guru kelas 2B. Rupanya, saat itu ia dan para siswa sedang menghitung jumlah suku kata di dalam setiap kata. Uniknya, penghitungan ini dilakukan dengan bertepuk tangan sejumlah suku kata yang ditemui dalam kata.

Menurut guru yang akrab disapa Ibu Delsy ini, kelasnya lebih mudah ditangani karena siswa sudah dapat merangkai huruf menjadi suku kata. Kesulitannya adalah, ketika siswa diminta membaca kata-kata. Rupanya, masih banyak siswa yang kembali membaca huruf atau mengeja. “Oleh sebab itu, akan lebih mudah apabila siswa lebih dulu terampil membaca suku-suku kata yang terdiri dari dua atau tiga huruf dulu, sebelum membaca kata-kata,” ungkap Delsy, tentang strateginya.

Kelompok C atau membaca kata memiliki jumlah siswa yang tak sebanyak dua kelas sebelumnya. Hanya 7 anak, yang terdiri dari siswa kelas 2 dan 3. “Dari kelas saya sendiri, masih banyak siswa yang masih di kelompok membaca huruf,” ujar Marlince U. Deta, guru kelas 2A, yang membimbing kelompok B. Ia mengatakan bahwa kegiatan membaca kata tidak sesulit membaca huruf.

Saat dikunjungi, guru yang akrab disapa Ibu Marlin itu tengah meminta beberapa siswa untuk membaca kata-kata. Sementara itu, sebagian siswa lain mendapat tugas untuk mencari kata yang huruf-hurufnya disebutkan, atau merangkai kata menjadi kalimat.

Kelompok D dan E terdiri atas para siswa yang sudah dapat membaca. Fokus guru pembimbing lebih tertuju pada kemampuan siswa untuk memahami isi bacaan. Sebagai guru pembimbing, David Malo Pate menerapkan beberapa strategi untuk bisa mencapai tujuan ini. Suatu kali, David akan membaca big book atau buku teks, dan menerapkan strategi-strategi memahami isi bacaan. Di kesempatan ini, siswa diminta untuk memprediksi, menceritakan kembali, bertanya jawab, atau meminta siswa menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam buku teks. Berbeda dengan tiga kelompok sebelumnya yang mendapat intervensi berbeda, siswa kelompok D dan E melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kurikulum.

Ningsih, yang ikut memandu kelompok membaca pemahaman mengatakan, strategi pengelompokkan ini meningkatkan minat siswa untuk datang ke sekolah. Ningsih bercerita bahwa suatu kali, salah satu siswanya menolak ikut menghadiri acara adat bersama orang tua untuk tetap bisa datang ke sekolah. “Siswa itu lebih memilih datang ke sekolah karena sekarang dia memiliki kelompok belajar, di mana dia bisa belajar bersama siswa-siswa dari kelas-kelas di atas dan dibawahnya. Siswa itu merasa senang, karena cara belajar seperti ini tidak membosankan,” cerita Ningsih.

Pendapat senada diungkapkan oleh guru-guru pendamping. Kegiatan pengelompokkan ini setidaknya meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Keberadaan siswa-siswa lain yang berasal dari kelas yang lebih tinggi atau lebih rendah, rupanya membuat para siswa merasa tidak tersisihkan. Di samping itu, guru menjadi lebih fokus untuk mengajarkan satu keterampilan tertentu saja. Seluruh guru pembimbing di masing-masing kelompok berharap bahwa intervensi yang terfokus ini mampu meningkatkan kemampuan membaca siswa dengan lebih cepat.

Reading Camp: Solusi Tingkatkan Kemampuan Literasi Anak