Program Rintisan Sekolah Literasi Indonesia di Dompu Mengajak Guru Terus Belajar

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah Dompet Dhuafa, yang bekerja untuk meningkatkan kemandirian dan performa sekolah berbasis literasi di Dompu, sebuah kabupaten mitra INOVASI di Nusa Tenggara Barat.

Mentransfer ilmu ke anak didik bukanlah perkara mudah. Butuh cara dan strategi yang tepat agar apa yang ingin guru sampaikan dapat diterima oleh siswa dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan menyiapkan faktor-faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran seperti media pembelajaran dan alat peraga.

Bagi guru yang sudah terbiasa menggunakan media atau alat peraga dalam mengajar pasti sudah merasakan fungsi dan manfaat penggunaannya. Begitupun dengan Ibu Salmah, setelah didampingi oleh Fasilitator Daerah (Fasda) dari program rintisan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dan mendapatkan materi serta praktik membuat media pembelajaran, ia menjadi lebih paham akan fungsi media dan alat peraga saat mengajar.

Sekolah Literasi Indonesia yang diimplementasikan oleh Dompet Dhuafa dalam kemitraan dengan INOVASI bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak sekolah dasar di Kabupaten Dompu. Total ada 10 sekolah dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang mendapat dukungan program ini. Salah satu bagian dari upaya membangun keterampilan literasi dilakukan dengan memberikan pembekalan dan pendampingan bagi para guru kelas, seperti Ibu Salmah ini.

Ibu Salmah sering bercerita kepada Fasda bahwa meskipun dirinya sudah lama menjadi guru dan bahkan pernah menjadi kepala sekolah, namun pengetahuan dan cara-cara yang digunakannya dalam mengajar masih pola lama. Dia mengaku kualitas mengajarnya masih perlu ditingkatkan.

Saat ini, dalam mengajar Ibu Salmah berupaya menggunakan media pembelajaran atau alat peraga dalam menjelaskan konsep pembelajaran. Apalagi dia adalah wali kelas VI SDN 14 Hu’u, di mana anak didiknya sudah mampu untuk bernalar sehingga penjelasan materi ajar harus lebih konkret. Dia bahkan kerap meminjam alat peraga ke sekolah lain, agar bisa mengajar lebih efektif. Itu dilakukan jika dia tidak menemukan benda yang ada di sekitarnya untuk dijadikan media dan alat peraga. Kadang juga, saat ada banyak waktu lowong dia akan membuat alat peraga sendiri di rumah dengan dukungan keluarganya.

Selain semangatnya untuk memberikan pelayanan terbaik dalam transfer ilmu ke siswanya, Ibu Salmah juga sangat semangat dalam menyediakan display di ruang kelasnya. Dia sudah merasakan efek dari kelas yang indah terhadap motivasi belajar siswa. Tidak hanya siswa, tetapi dia sendiri pun sebagai guru menjadi bersemangat dalam mengajar dan nyaman tinggal di kelas setelah kelasnya dihias menjadi lebih berwarna dan cantik.

Saat pertama kali Fasda ke kelas Bu Salmah, kelas ini tak ada display yang tertempel di dinding kelasnya. Suasana kelas pun terlihat sangat padat oleh meja dan kursi siswa, padahal jumlah siswa hanya ada sepuluh orang. Penataannya masih pola konvensional, berjejer dari depan ke belakang. Karena terlalu padat, mobilitas dan ruang gerak guru dan siswa menjadi terbatas.

Sekarang, semuanya sudah berubah. Keberadaaan meja dan kursi disesuaikan dengan jumlah siswa. Tembok kelas tidak lagi ‘bersih’ namun kini dipenuh warna dan pajangan. Ibu Salmah secara berkala membuat display kelas, baik display afirmasi maupun pembelajaran.

Dia bersyukur menjadi guru model di sekolahnya dalam program SLI. Banyak pengetahuan baru yang ia dapatkan dan dapat ia aplikasikan. Secara bertahap ia memperbaiki diri agar dapat menjalankan tugasnya sebagai guru dengan baik.

Program Rintisan Sekolah Literasi Indonesia di Dompu Mengajak Guru Terus Belajar