Program rintisan Guru BAIK membantu guru menemukan strategi pembelajaran

Di Sumbawa, salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di NTB, pendidikan tengah bergerak ke arah yang lebih baik. Kehadiran INOVASI membawa energi baru dalam menjawab tantangan-tantangan pendidikan di daerah ini. Salah satu permasalahan krusial dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dasar di Kabupaten Sumbawa adalah lemahnya kompetensi guru dalam merancang proses pembelajaran. Sering kali, kesulitan belajar siswa disebabkan faktor penerapan strategi pembelajaran yang tidak sesuai. Guru BAIK (Belajar, Aspiratif, Inklusif, dan Kontekstual) merupakan pengejawantahan dari namanya: aspiratif, inklusif, dan pembelajaran secara kontekstual. Dengan kata lain, guru-guru yang baik adalah mereka yang mau belajar dan bersedia menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan kontekstual untuk para siswanya.

Akar penyebab dari lemahnya mutu pembelajaran di Sekolah Dasar di Kabupaten Sumbawa terungkap dalam Diskusi Pendalaman Materi Program Rintisan Guru BAIK (Belajar-Aspiratif-Inklusif-Kontekstual) yang dilaksanakan Tim INOVASI di Aula SMAN 4 Sumbawa Besar pada 13-14 Juli 2018. Diskusi tersebut melibatkan peserta yang terdiri dari unsur pengawas sekolah, kepala sekolah, dan 13 orang Fasilitator Daerah (Fasda) Guru BAIK. Diskusi ini bertujuan memberikan pemahaman yang utuh kepada para pihak, terutama Fasda Guru BAIK terkait teknik fasilitasi dalam berbagai kegiatan Guru BAIK yang akan dilaksanakan.

Diskusi tersebut membahas lima komponen guru BAIK yaitu, kemampuan guru mengidentifikasi masalah pembelajaran, kemampuan menganalisis kesulitan belajar siswa, kemampuan mengembangkan gagasan solusi pembelajaran, kemampuan mengembangkan evaluasi pembelajaran, dan kemampuan menganalisis dan merefleksikan proses dan hasil pembelajaran.

Terkait kemampuan identifikasi masalah, salah satu alat yang dipraktokkan adalah Diagram Tulang Ikan (Fishbone). Teknik identifikasi ini digunakan untuk menemukan beberapa masalah dan akar masalah yang menjadi penyebab lemahnya kompetensi guru di Sumbawa sekaligus menemukan penyebab dan akar penyebab mengapa siswa mengalami kesulitan belajar.

Khusus dalam mengidenfikasi kesulitan belajar siswa, Fasda Guru BAIK mengawalinya dengan memberikan contoh kasus kesulitan belajar siswa di salah satu SD. Peserta kemudian diminta mengidentifikasi penyebab kesulitan belajar siswa di kelas masing-masing.

Setelah itu, fasilitator meminta peserta mempresentasikan hasil identifikasi sekaligus mengemukakan pendapatnya mengenai manfaat yang diperoleh. Kegiatan ini bertujuan agar guru atau peserta memiliki kesadaran pentingnya melakukan identifikasi penyebab dan akar-akar penyebab kesulitan belajar siswa sebelum merancang strategi pembelajaran, sehingga rancangan pembelajaran yang dibuat nantinya sesuai dengan karakteristik kesulitan belajar yang dialami siswanya.

Masalah yang diidentifikasi terkait dengan faktor guru. Para guru tidak mengelola kelas dengan baik, kurang maju dalam teknologi, dan sering menggunakan metode pembelajaran ceramah. Kurangnya penggunaan alat belajar dan proses belajar yang membosankan juga merupakan masalah yang teridentifikasi.

Masalah dari faktor siswa adalah sikap dan perilaku siswa yang mengganggu siswa lain, motivasi belajar rendah, dan kurangnya dukungan dari keluarga siswa dalam proses pembelajaran.

Setelah semua masalah telah diidentifikasi, fasilitator kemudian meminta peserta untuk mempresentasikan hasil dan mengungkapkan pendapat mereka tentang solusi untuk masalah tersebut.

Secara umum, peserta sepakat bahwa solusi untuk mengatasi kesulitan belajar siswa adalah mengubah strategi dalam belajar. Salah satu strateginya adalah dengan menerapkan berbagai metode sesuai dengan tema pembelajaran. Penggunaan alat belajar yang menarik juga dapat meningkatkan motivasi belajar dan pemahaman siswa. Namun, yang lebih penting adalah bahwa guru harus berusaha untuk menjadi kreatif dalam menciptakan alat pembelajaran yang tepat dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekolah masing-masing.

Kegiatan identifikasi masalah ini bertujuan untuk para guru atau peserta menyadari pentingnya mengidentifikasi penyebab dan akar kesulitan belajar siswa sebelum merancang strategi pembelajaran sehingga desain pembelajaran sesuai dengan karakteristik kesulitan belajar yang dialami oleh siswa mereka.

Pada bagian lain dibahas penentuan prioritas penyebab kesulitan belajar siswa, mengingat tidak semua penyebab yang teridentifikasi bisa diatasi sekaligus. Dari semua penyebab yang teridentifikasi dicari penyebab utamanya. Sedangkan untuk menentukan penyebab utama didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu yang sudah disepakati.

Dalam mengeksplorasi gagasan solusi pembelajaran yang merupakan komponen ketiga program rintisan Guru BAIK, nampak sekali antusiasme peserta. Rupanya, selama ini mereka belum memahami bagaimana mengeksplorasi gagasan untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran.

“Ternyata seorang guru harus mengembangkan banyak ide untuk memperkaya solusi bagi pemecahan masalah pendidikan,” kata Kepala SDN Kerekeh, Syahruddin, S.Pd. Syahruddin sadar bahwa apa yang telah dia lakukan sebelumnya jauh berbeda dari pengetahuan yang ia peroleh dari program rintisan Guru BAIK.

Kepala SDN 1 Sampa, Kecamatan Unter Iwes, Muhammad Taufik, S.Pd, menyebutkan, program rintisan Guru BAIK telah berhasil menemukan sisi lemah pendidikan di Kabupaten Sumbawa. Ia merujuk pada hasil identifikasi masalah yang menyimpulkan bahwa salah satu persoalan mendasar rendahnya kualitas pendidikan di Sumbawa lantaran lemahnya komitmen guru dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik profesional.

Program rintisan Guru BAIK membantu guru menemukan strategi pembelajaran