Pertama di Indonesia: Bulungan gunakan BOSDA untuk suplai buku bacaan di sekolah

Pertumbuhan minat membaca yang kuat di Kalimantan Utara, dan juga di banyak wilayah di Indonesia, tetap merupakan pekerjaan yang sedang berjalan. Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan oleh Kemendikbud RI menunjukkan nilai rata-rata literasi membaca untuk Kalimantan Utara adalah dua poin di bawah rata-rata nasional (RPSA Kaltara 2017). Dengan angka tersebut, Kaltara terus mendorong Gerakan Literasi Nasional (GLS) khususnya di kabupaten Bulungan.

Sebagai kabupaten mitra, INOVASI telah bekerja dengan kabupaten Bulungan sejak tahun 2017 akhir untuk mendukung tumbuhnya gerakan literasi. Bekerjasama dengan guru dan pemangku kepentingan di pemerintah lokal, kegiatan program termasuk lokakarya Gerakan Literasi Sekolah telah dilakukan di Peso, Bulungan.

Seiring dengan perkembangan kegiatan, dukungan kabupaten Bulungan untuk membangun minat membaca pun semakin tinggi. Baru-baru ini, kabupaten ini menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mendanai buku bacaan untuk anak-anak dengan Biaya Operasional Sekolah Daerah (BOSDA). Alokasi pendanaan telah dimasukkan dalam perencanaan dana kabupaten Bulungan.

“Kebijakan ini memperluas kesempatan anak, membaca buku yang bisa membangun imajinasi dan memperkuat karakternya,” terang Suparmin Seto, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bulungan dalam Rapat Koordinasi Penggunaan BOSDA di Tanjung Selor, Kaltara.

Setiap sekolah diharuskan menyajikan buku-buku seperti novel, buku cerita, komik, sejarah, sastra dan pengetahuan umum. Sekolah wajib membelanjakan anggaran BOSDA untuk menyediakan paling sedikit lima buku baru dengan lima judul berbeda setiap tahun. Ketersediaan buku-buku itu diharapkan menumbuhkan budaya baca kepada 24.094 siswa Bulungan yang tersebar di 778 SD dan 245 SMP.

“Ini merupakan respon kami untuk menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS),” tambah Suparmin.

Untuk mendukung pertumbuhan gerakan literasi, Disdikbud juga membentuk tim pengawal literasi. Tim ini bertanggung jawab memonitor implementasi program GLS di semua sekolah. Salah satu tugas penting tim ini adalah menilai dan merekomendasikan buku-buku yang sesuai dengan budaya, norma dan usia anak. Anggota tim literasi diambil dari perwakilan Disdikbud, kepala sekolah, pengawas, guru, dan praktisi literasi. “Program INOVASI bersama Satuan Tugas GLS Kemendikbud akan melatih tim ini, agar mereka mampu mengimplementasikan program literasi dengan baik,” tambahnya.

Program Manajer INOVASI Kaltara, Handoko Widagdo mengatakan daerah lain di Indonesia, perlu mencontoh kebijakan BOSDA Bulungan.

“Ini kebijakan pertama di Indonesia, daerah mensuplai buku kepada seluruh sekolah secara berkelanjutan. Ketersediaan buku yang berkelanjutan, merupakan satu dari tiga kunci membangun literasi. Dua kunci lainnya adalah keteladan membaca dan program pembiasaan membaca yang sistematis. Sering sekali kita meminta anak membaca buku, tetapi bukunya tidak tersedia. Kalaupun ada, isi bukunya tidak sesuai dengan kebutuhan dan usia anak,” terangnya.

Handoko menyebut minat membaca anak Indonesia, termasuk Bulungan, sangat tinggi. Hanya saja anak sering tidak mendapatkan buku yang menarik minatnya.

Hasil temuan awal survei yang dilakukan INOVASI menemukan lebih dari 80 persen anak mengaku suka membaca. Namun dari sisi jenis buku yang sering dibaca anak, ternyata sekitar 67 persen masih didominasi buku paket pembelajaran. Hanya sekitar 13 persen yang membaca buku cerita, 2 persen buku pengetahuan dan sisanya membaca komik, majalah serta buku lainnya.

“Survei kami ini melibatkan 540 siswa di 20 SD di Bulungan dan Malinau. Dari sana kita temukan, siswa umumnya hanya membaca buku paket pembelajaran. Itu terjadi karena hanya buku paket yang tersedia di sekolah, sedangkan buku-buku yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu anak masih kurang,” Handoko menambahkan.

INOVASI juga membantu Bulungan memperkuat pembelajaran berbasis literasi, khususnya di kelas awal. Penguatan ini dilakukan melalui program rintisan di tujuh SD yang tersebar di Tanjung Selor dan Tanjung Palas Timur. Program rintisan ini didesain dengan pendekatan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA).

“Pendekatan ini khas, karena guru akan dibuat mampu mengenali sendiri masalah pembelajaran di kelasnya, dan sekaligus bisa menemukan solusi dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada disekitarnya. Melalui pendekatan ini, kedepannya, guru bisa secara mandiri mengatasi masalah pembelajaran dikelasnya masing-masing,” tukasnya.

Gerakan Literasi Sekolah adalah sebuah gerakan yang diluncurkan Menteri Pendidikan Indonesia pada tahun 2015 sebagai implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Pada dasarnya, gerakan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pemeran kunci dalam sistem Pendidikan Indonesia, dan memperluas keikutsertaan publik dalam membudayakan gerakan literasi di skala nasional.

Program INOVASI merupakan kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia-Australia. Program ini difokuskan untuk meningkatkan mutu pembelajaran pada bidang literasi, numerasi dan inklusif di jenjang pendidikan dasar. Di Kalimantan Utara, program ini diimplementasikan di dua kabupaten yaitu Bulungan dan Malinau.

Pertama di Indonesia: Bulungan gunakan BOSDA untuk suplai buku bacaan di sekolah