Peningkatan Kemampuan Literasi Siswa di Bulungan, Kalimantan Utara Berdasarkan Hasil Survei Akhir Program INOVASI 2019

Kalimantan Utara merupakan provinsi termuda di Indonesia. Luas wilayahnya lebih dari 72 ribu kilometer persegi, atau hampir dua kali luas Provinsi Jawa Timur. Provinsi ini berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. Sedangkan dari jumlah penduduk, Kaltara hanya dihuni sekitar satu juta jiwa yang tersebar secara tidak merata di perkotaan, pendesaan, pedalaman, perbatasan dan pesisir. Salah satu tantangan pendidikan di Kalimantan Utara adalah mengatasi rendahnya kemampuan membaca siswa SD. Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) masih terdapat 60,67% siswa kelas 4 SD yang kurang membaca di Kalimantan Utara. Hasil pendalaman AKSI melalui Rapid Participatory Situation Analysis (RPSA), menemukan salah satu penyebabnya adalah ketidaktersediaan buku yang menarik dan revelan dengan usia anak. Hasil SIPPI yang dilakukan INOVASI, menemukan 85% siswa kelas awal suka membaca buku. Namun 68% buku yang dibaca adalah buku pelajaran, 17% menyatakan membaca buku cerita dan lainnya. Studi Buku Kelas Awal yang juga dilakukan INOVASI menemukan dari 4.055 judul buku cerita anak yang ada di perpustakaan sekolah, hanya 393 judul yang sesuai untuk siswa kelas awal. Dengan wilayah yang luas, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara tentu tidak bisa sendirian membangun budaya literasi. Semua kekuatan dan potensi yang ada di Kaltara pun disatupadukan melalui kelompok kerja (Pokja) literasi. INOVASI pun mendukung penuh pokja literasi yang digagas Bunda Baca Kaltara. Sejak Desember 2017, INOVASI telah berkerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dalam melaksanakan berbagai program peningkatan mutu pendidikan dasar, khususnya literasi di kelas awal. Program tersebut dilaksanakan di dua kabupaten mitra, salah satunya di Kabupaten Bulungan.

Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berhasil mempercepat pencapaian kompetensi literasi dasar siswa SD, dari 2 tahun menjadi 1 tahun. Pencapaian ini diumumkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Bulungan Bapak Drs. H. Djamaluddin Saleh di Kantor Bupati Bulungan, Tajung Selor, Rabu (20/11). Merujuk hasil survai akhir INOVASI, Bapak Djamaluddin menunjukkan angka peningkatan kemampuan literasi dasar dari 57 persen di tahun 2017 menjadi 94 persen di tahun 2019. Survei ini dilakukan di 7 SD program rintisan kelas awal di Bulungan.

Lebih lanjut Pak Djamaluddin mengatakan, program rintisan juga mampu mempercepat waktu anak mencapai ketuntasan kompetensi literasi dasar. Berdasarkan survei awal di tahun 2017, dibutukan dua tahun untuk meningkatkan kemampuan literasi anak dari 17 persen di kelas 1 menjadi 84 persen di kelas 3. Namun setelah diintervensi program rintisan, hanya butuh satu tahun saja, sudah bisa meningkatkan kelulusan anak mencapai 87 persen. “Metodenya anak saat di kelas 1 mengikuti survei awal, ketika diakhir kelas 2, mereka kembali di test dengan metode dan pertanyaan yang sama, hasilnya meningkat drastis,” ungkap Djamaluddin.

Bupati Bulungan Bapak Sudjati mengatakan, keberhasilan Bulungan ini merupakan hasil dari implementasi tiga strategi yaitu: (1) pelatihan guru, (2) peningkatan budaya membaca, dan (3) pelayanan khusus bagi anak yang lamban membaca.

Pak Sudjati menekankan bahkan anak yang terindikasi lamban belajar (slow leaner) juga menujukkan perkembangan yang luar bisa. Jika di tahun 2017 dari anak-anak yang teridentifikasi slow leaner itu, hanya 50 persen yang lulus test literasi dasar, maka jumlah itu meningkat menjadi 96 persen di tahun 2019. “Ini membuktikan bahwa anak-anak yang lamban belajar, jika dibantu dan ditangani secara khusus maka mereka juga bisa berkembang.”

Peningkatan Kemampuan Literasi Siswa di Bulungan, Kalimantan Utara Berdasarkan Hasil Survei Akhir Program INOVASI 2019