Belajar Bagi Semua Anak Tanpa Terkecuali di Lombok Tengah

November 2017

Sebagai bagian dari kegiatan desain percontohan di provinsi Nusa Tenggara Barat, INOVASI berupaya mencari cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa dalam bidang literasi dan numerasi untuk anak-anak penyandang disabilitas belajar di Lombok Tengah.  

Sebagai salah satu wilayah administratif di Lombok, Lombok Tengah menyatakan sebagai ‘kabupaten inklusif’ di tahun 2012. Dengan tingkat literasi sebesar 84.6%, kabupaten ini telah mengalokasikan sumber daya untuk mendukung kelompok siswa tertentu yang berkinerja rendah. Program-program yang sudah ada tersebut, seperti Program Kewenangan Tambahan, telah menyasar para pendidik dan guru khusus dari sekolah-sekolah luar biasa. Namun, apabila ingin meningkatkan hasil pembelajaran siswa, pendidikan inklusif merupakan bidang yang dapat ditingkatkan lagi. Bagi hampir 6.000 guru di Lombok Tengah, strategi untuk meningkatkan pendidikan inklusif dan anak-anak penyandang disabilitas belajar (CWLD) dapat diperkuat lagi.

INOVASI DI LOMBOK TENGAH

Melalui program INOVASI, pemerintah Australia dan Indonesia bermitra untuk memahami bagaimana hasil-hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi dapat ditingkatkan di sekolah-sekolah dan kabupaten di seluruh Indonesia. Lombok Tengah merupakan satu dari enam kabupaten yang menjadi mitra INOVASI di NTB.

Di Lombok Tengah dan seluruh kabupaten dan provinsi mitranya, INOVASI menggunakan pendekatan unik untuk mengembangkan kegiatan percontohan dan mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil meningkatkan hasil-hasil pembelajaran siswa. Sederhananya, pendekatan ini disebut dengan Adaptasi Iteratif yang Didorong oleh Masalah atau Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Dengan pendekatan ini, INOVASI bekerja dan belajar secara langsung dari mitra lokal untuk mencari dan mengidentifikasi permasalahan lokal, dan bersama-sama mendesain solusi yang relevan untuk digunakan di tingkat lokal. Pemikiran dari bawah ke atas ini memang bukan hal baru – secara konsep mengambil dari pendekatan dalam bidang Melakukan Pengembangan dengan Berbeda dan Desain yang Berpusat pada Manusia – tapi INOVASI terus menerapkan dan mengiterasi versinya sendiri di berbagai lokasi di Indonesia.

Menciptakan kelas-kelas yang lebih inklusif merupakan prioritas Dinas Pendidikan Lombok Tengah. Namun demikian, untuk mengidentifikasi akar permasalahannya, diperlukan eksplorasi lebih jauh dan percakapan dengan seluruh pemangku kepentingan. INOVASI telah menerapkan PDIA di kabupaten ini, dengan eksplorasi dan sintesis permasalahan awal dilakukan pada bulan April 2017. Dari diskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan, diperoleh pengetahuan mengenai konteks pendidikan inklusif bagi CWLD – termasuk dengan pemerintah provinsi NTB, Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Guru, dan Direktorat Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta organisasi internasional yang relevan dan program donor yang fokus pada pelayanan untuk anak-anak penyandang disabilitas belajar seperti Program School System and Quality (SSQ), UNESCO, UNICEF, KOMPAK, PEDULI, Helen Keller International, dan Handicap International.

Bekerja sama dengan fasilitator lokal merupakan bagian kunci dari proses perencanaan percontohan ini, dengan mengembangkan kapasitas dan memberdayakan mereka untuk menggunakan pendekatan PDIA dengan masyarakat lokal dan bersama-sama mengidentifikasi akar permasalahan dan dampaknya. Fasilitator ini berasal dari kumpulan guru, kepala sekolah, dan pengawas dari lembaga-lembaga di seluruh kabupaten Lombok Tengah. Mereka merupakan aset lokal lunci dalam hal pemberian dukungan dan pengembangan kapasitas bagi guru.

PEMAHAMAN SEJAUH INI: MENCIPTAKAN RUANG KELAS YANG INKLUSIF

Daam perencanaan percontohan sejauh ini, tim INOVASI telah melibatkan banyak pemangku kepentingan lokal, guru, orang tua CWLD, masyarakat lokal, kepala sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah provinsi. Ketika mereka bersama-sama bergerak menuju tahap perancangan solusi, hal-hal yang dianggap sebagai hambatan kunci untuk menciptakan ruang kelas yang lebih inklusif bagi pemangku kepentingan lokal menjadi jelas. Guru-guru menyoroti permasalahan kunci terkait kemampuan mereka untuk mengidentifikasi CWLD dan hambatan belajar mereka, serta strategi untuk mendukung anak-anak tersebut agar berpartisipasi secara penuh dalam proses belajar di kelas.

Fasilitator INOVASI membantu kelompok-kelompok lokal untuk menguraikan permasalahan ini lebih jauh dengan menggunakan sejumlah alat bantu dalam proses PDIA untuk mendorong curah pendapat tentang penyebab, dampak dan prioritisasi, serta solusi terhadap permasalahan tersebut. Guru-guru mengatakan mereka membutuhkan alat bantu identifikasi untuk membantu mengenali hambatan belajar anak-anak CWLD. Ini akan didalami lebih jauh oleh INOVASI, yang kemungkinan akan mengadaptasikan dari alat bantu dan modul media pembelajaran online lainnya. Kelompok seperti Washington Group dan UNESCO memiliki alat bantu yang dapat dilihat lebih dalam, diuji, dan diadaptasikan sesuai kebutuhan agar cocok dengan konteks lokal yang ada. Ketika mengklasifikasikan kemampuan belajar anak-anak CWLD dan memprioritaskan hambatan belajar mana yang akan ditangani guru di kelas, bidang membaca, menulis, dan berhitung muncul sebagai isu-isu utama.

Alat bantu lain yang dibahas adalah penyusunan ‘profil belajar siswa CWLD’, yang akan membantu para guru mencatat strategi pembelajaran yang konkret untuk CWLD. Ini bermanfaat bagi guru sementara dan pengganti, karena profil belajar ini dapat membantu mengalihkan pengetahuan tentang siswa CWLD, sehingga guru-guru tidak harus memulai dari awal setiap kali mereka mengajar; jadi tidak ada penundaan dalam hal pembelajaran untuk semua.

Pemangku kepentingan lokal diajak untuk melalui sejumlah alat bantu untuk membantu mengidentifikasi akar penyebab dari berbagai permasalahan yang telah diidentifikasi

LANGKAH SELANJUTNYA

Selain menjadi cerita tentang bersama-sama mengidentifikasi permasalahan dan solusi lokal dalam bidang pendidikan inklusif, proses perencanaan percontohan di Lombok Tengah juga menjadi kisah mengenai pengembangan kapasitas lokal.

Kepala Departemen Pendidikan Lombok Tengah, H. Sumum, mengutarakan apresiasinya terhadap kemitraan baru ini.

Kami berterima kasih tidak berjalan sendirian untuk meningkatkan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya INOVASI, akan ada dukungan tambahan bagi pengembangan pendidikan inklusif di Lombok Tengah. Semakin banyak peningkatan yang kita lakukan untuk pendidikan inklusif, semakin cepat kita dapat menuai manfaatnya. Membangun komitmen bersama untuk meningkatkan harga diri anak-anak berkebutuhan khusus adalah pekerjaan mulia – dari anak-anak di rumah ke anak-anak di sekolah’.

Sebagai bagian dari desain akhir percontohan, pengujian dan penilaian ide akan terus dilakukan selama November 2017, termasuk di sekolah dan kelas yang terpilih. Percontohan di Lombok Tengah ini akan mulai dilaksanakan di awal 2018. Ikuti laman Facebook INOVASI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

 

 

Belajar Bagi Semua Anak Tanpa Terkecuali di Lombok Tengah