Pelibatan masyarakat dan kesetaraan gender di Dompu

Sosok Roslinda mengingatkan kita kepada sosok pejuang perempuan, RA Kartini. Sejak tahun 1985 hingga 2017, konsistensinya terbukti dalam mengabdikan dirinya sebagai guru di Dompu. Kini, Roslinda memangku tanggung jawab sebagai kepala sekolah di SDN 28 Dompu. Kecintaannya pada bidang pendidikan tidak terbatas di sekolah saja. Roslinda pun aktif terlibat di program INOVASI, program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, terutama di bidang literasi dan numerasi.

NTB menjadi provinsi mitra pertama dalam program INOVASI, dengan enam kabupaten mitra yaitu Lombok Tengah, Lombok Utara, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima. Dalam proses implementasinya, INOVASI menekankan pada solusi lokal untuk masalah lokal, di mana program rintisan yang dijalankan di setiap kabupaten mitra disesuaikan dengan tantangan lokal.

Di Dompu, program rintisan disebut Belajar di Sekolah dan Masyarakat (BERSAMA), sebuah Peningkatan Kualitas Pembelajaran dengan Melibatkan Komunitas Masyarakat. Pada program rintisan ini, unsur sekolah dan masyarakat didorong untuk menciptakan kolaborasi yang bersinergi guna mengembangkan pembelajaran literasi dan numerasi anak. Hal ini berangkat dari berbagai fenomena bahwa sering kali anak membolos sekolah karena kesibukan di tengah masyarakat. Misalnya, ketika musim panen datang, murid-murid mengesampingkan sekolah untuk membantu memanen. Hal ini cukup berpengaruh atau menentukan mutu pendidikan anak sekolah terutama tingkat sekolah dasar. Agar sekolah tetap jadi prioritas utama, perlu adanya dorongan dan pengertian lebih dari masyarakat.

Sebagai pejuang pendidikan, Roslinda pun menyambut positif program ini. Ibu dari 3 orang anak ini mengaku, keterlibatannya dalam program INOVASI sebagai Fasilitator Daerah (Fasda) Dompu menambah modalnya dalam membimbing SDN 28 Dompu. Roslinda merupakan Fasda dalam bidang PDIA (Problem Driven Iterative Approach), pendekatan yang digunakan INOVASI untuk meramu solusi lokal bagi masalah lokal.

Sebagai Fasda, Roslinda berlatih bersama para guru dan pengawas dari sekolah di Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, untuk menemukan cara, pendekatan, dan strategi pembelajaran literasi dan numerasi.

“INOVASI mengajak saya mengerti pendekatan PDIA untuk mencari cara yang cocok dalam menangani setiap masalah yang ada. Ini merupakan hal baru dan menarik untuk dipelajari demi mendorong kemajuan generasi bangsa,” kata Roslinda.

Tidak berhenti di situ saja, Roslinda pun membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada rekan guru dan pengawas lain di tempatnya mengabdi, SDN 28 di Desa Katua. Kegiatan positifnya didukung penuh oleh sang almarhum suami sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir. Almarhum suami diakuinya turut mengerjakan tugas rumah tangga sebagai bentuk konkret dukungannya.

“Suami berpesan untuk supaya saya mendahulukan tugas menjadi guru dan kepala sekolah, jangan mendahulukan tugas pribadi, karena tugas tersebut merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat,” jelasnya.

Menjalankan peran sebagai kepala sekolah diakui Roslinda bukan sekadar menjadi seorang pemimpin, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi para guru untuk dapat menjadi pemimpin yang bijak, yang tidak menuntut banyak.

“Saya juga selalu ingat pesan suami, untuk saya tidak hanya dapat menjadi contoh yang baik bagi para guru dan murid di sekolah, tapi menjadi contoh yang baik kepada anak-anak itu lah tetap yang terutama,” tambahnya.

 

Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

Dalam rangka mengenang perjuangan Kartini yang peringatannya jatuh pada 21 April lalu, Roslinda berpesan bahwa perempuan merupakan patokan dalam mengembangkan potensi pendidikan yang berkarakter.

“Berkarakter dalam arti peduli, jujur, santun dan berjiwa gotong royong. Jangan sampai pekerjaan hanya dapat dikerjakan oleh laki-laki seperti jaman dahulu. Perempuan juga harus ambil bagian dalam melaksanakan tugas mendorong pendidikan yang berkarakter,” ungkap Roslinda.

Roslinda menekankan bahwa perempuan harus berkompetensi, profesional, berintegritas, dan beramanah dalam melaksakan tugasnya. Roslinda turut mendorong penerapan kesetaraan gender di sekolahnya. Sosok Roslinda sebagai kepala sekolah perempuan merupakan salah satu praktik kesetaraan gender yang nyata yang telah diterapkan di SDN 28 Dompu.

Walaupun Roslinda mengaku bahwa jumlah guru perempuan dan laki-laki belum berimbang, beliau selalu mendorong para guru untuk menyamaratakan peran siswa perempuan dan laki-laki dalam praktik pembelajaran di kelas.

“Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, para guru harus bisa membagi rata porsi murid laki-laki dan perempuan, misalnya dalam kelompok diskusi, jumlahnya harus berimbang dan masing-masing dari mereka harus diberi kesempatan berpendapat yang sama,” tegas Roslinda.

Roslinda berharap agar praktik-praktik pembelajaran di kelas dan di masyarakat harus mulai memperhatikan hal-hal kesetaraan gender.

Pelibatan masyarakat dan kesetaraan gender di Dompu