Pelibatan masyarakat dalam Pembelajaran Anak: Kisah Dukungan Ibu di Dompu, NTB

Di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat partisipasi orang tua dalam pendidikan anak di sekolah menjadi satu isu penting. Banyak ditemukan orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya dan cenderung kurang memperhatikan hak pendidikan anaknya. Hal ini tentu berdampak pada hasil belajar sang anak yang kurang memuaskan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016), skor Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) di Kabupaten Dompu masih tergolong rendah, yaitu berada di urutan ke-9 dari 10 Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Melalui INOVASI, pemerintah kabupaten mendorong kepedulian dan partisipasi orang tua dalam pendidikan anak dengan melaksanakan program Pelibatan masyarakat dalam Pembelajaran atau dikenal dengan sebutan program BERSAMA. Pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab para guru yang mengajar mereka di sekolah. Di rumah, orang tua dan wali memiliki peran yang sangat penting. Peran aktif dan kepedulian orang tua di rumah akan sangat membantu anak dalam meraih hasil belajar yang baik. Berikut ini kisah inspiratif seorang Ibu, salah satu peserta program BERSAMA, yang berupaya mendukung pendidikan sang anak. 


Kamar tidur keluarga itu tidak begitu besar dan terasa agak gelap. Sinar matahari yang masuk tidak begitu banyak, sementara cahaya lampu yang ada, seperti tak banyak membantu. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi Andini, siswi kelas 2 SD di Dompu, NTB menggunakan ruangan tersebut untuk belajar setiap harinya. Ruang yang merupakan kamar satu-satunya di rumah itu memang menjadi tempat favorit Andini untuk belajar membaca semenjak dia mulai bersekolah setahun yang lalu. Ruangan lainnya adalah ruang tamu yang juga tempat berjualan orang tuanya. Pencahayaan di ruangan tersebut memang lebih baik, namun pembeli yang datang kerap mengalihkan konsentrasi Andini.

Selama ini, Andini tidak pernah sendiri ketika belajar di rumah. Ibu Harun Anggraini, sang Ibu, selalu setia menemani. Terkadang sang Ibu ikut duduk di dalam kamar mendampingi Andini belajar mengeja huruf-demi huruf. Lain waktu sang Ibu memantau Andini belajar dari ruang tengah sembari melayani pembeli yang datang di warung kecilnya. Dari ruang tengah itu Ibu Harun Anggraini memperhatikan bagaimana anak tertuanya mengeja atapun membaca buku. Jika ada kesalahan akan segera ia koreksi.

Andini sedang membaca di kamar yang telah dihiasi dengan berbagai alat bantu belajar yang dibuat oleh sang ibu

Selain mendampingi saat belajar, untuk menstimulasi kemampuan membaca Andini, sang Ibu pun menghiasi dinding kamar dengan berbagai pajangan dan tulisan. Potongan kertas berwarna-warni dengan berbagai tulisan menghiasi satu sisi dinding kamar tempat Andini biasa belajar. Ada pula gambar-gambar hasil karya Andini dan sang Ibu.

Dukungan penuh Ibu Harun Anggraini pun berbuah manis. Beberapa bulan duduk di bangku kelas satu, Andini sudah mampu membaca dengan lancar.

“Kadang kalau lagi bosan, tulisan di barang-barang yang saya jual juga dibacanya,” cerita sang Ibu sambil tertawa kecil.

Bisa membaca dengan baik sejak di bangku kelas satu sebagaimana Andini mungkin bukan hal yang istimewa bagi anak-anak di daerah lain yang kondisi pendidikannya sudah baik. Tapi untuk konteks di wilayah pedesaan di Kabupaten Dompu, apa yang terjadi pada Andini adalah sebuah capaian yang patut diapresiasi. Tidak banyak anak-anak sebaya Andini yang bisa seperti itu. Secara umum, kondisi literasi di Kabupaten ini memang masih perlu mendapat perhatian serius.

Pelibatan masyarakat dalam Pembelajaran

Melalui INOVASI, pemerintah mendorong kepedulian dan partisipasi orang tua dalam pendidikan anak dengan melaksanakan program Pelibatan masyarakat dalam Pembelajaran atau dikenal dengan nama program BERSAMA. Hal ini juga berdasarkan hasil identifikasi INOVASI pada tahun 2017 terkait tantangan pembelajaran yang dihadapi di Dompu, NTB yaitu minimnya partisipasi dan perhatian orang tua pada pendidikan anak.

Berangkat dari hal tersebut, INOVASI bersama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu kemudian menggagas program BERSAMA (Belajar Bersama Orang tua dan Masyarakat). Di Kabupaten Dompu, telah dilaksanakan di tiga desa yang ada di Kecamatan Pajo, yaitu Desa Lepadi, Desa Ranggo dan Tembalae.

Tujuan program ini adalah memperkuat kerjasama sekolah, orang tua, dan masyarakat demi untuk meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran literasi di kelas awal. Bagi orangtua atau komunitas, program ini berupaya membangun pemahaman bersama bahwa tanggung jawab pendidikan itu bukanlah tanggung jawab guru di sekolah saja. Orang tua memiliki peran penting, terlebih karena anak-anak sesungguhnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah di banding di sekolah.

Ibu Harun Anggraini adalah satu dari sekian banyak orang tua di desanya yang telah terlibat di dalam program BERSAMA ini. Dia mengakui bahwa keikutsertaannya di berbagai pelatihan telah banyak mengubah cara pandangnya dalam hal pendidikan anaknya.

“Dulu sebelum ada pelatihan, saya hanya sekedar memberi dia buku dan membiarkan dia belajar sendiri. Tapi kemudian saya paham bahwa seharusnya tidak seperti itu. Saya juga harus ikut mendampingi dia. Bukan hanya membantu Andini belajar, tetapi juga agar saya bisa paham perkembangan anak saya seperti apa,” papar Ibu Harun Anggraini.

Selain perubahan dalam hal pola pikir Ibu Harun Anggraini dan para orang tua lainnya yang terlibat di dalam program BERSAMA ini juga memperoleh bekal keterampilan dalam mendampingi anak belajar di rumah. Termasuk dalam hal kreativitas membuat berbagai media yang bisa membuat anak lebih semangat belajar.

Membangun hubungan dan komunikasi dengan pihak sekolah juga menjadi salah satu aspek penting dalam pelatihan program INOVASI. Orang tua didorong untuk menyediakan waktu berdiskusi dengan guru, serta dibekali keterampilan yang memadai untuk melakukan hal tersebut.

Ibu Harun Anggraini mengungkapkan bahwa setelah berkomunikasi dengan guru, ia jadi tahu apa yang harus diajarkan di rumah dan apa saja pekerjaan rumah anaknya di hari itu.

Ujung tombak dari implemestasi program BERSAMA ini adalah para Relawan Literasi Desa (RELASI Desa). Para relawan inilah yang memberikan pelatihan dan pendampingan bagi para orang tua siswa. Mereka bahkan kerap datang langsung ke rumah-rumah untuk mensosialisasikan kepada para orang tua tentang bagaimana orang tua bisa membantu anak belajar.

Di tiga desa yang menjadi lokasi implementasi program, ada sekitar 30 orang RELASI Desa yang telah dilatih dan dibekali oleh INOVASI melalui program BERSAMA. Kini, sekitar 160 orang tua siswa yang telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan.

Suasana pelatihan INOVASI bagi orang tua dan wali siswa di Dompu, NTB melalui program BERSAMA

Salah satu anggota RELASI Desa, Uswatun, mengatakan bahwa interaksi antara orang tua dan anak dalam hal pendidikan di lingkungan mereka memang sangat kurang. Melalui program BERSAMA, mereka berupaya mengubah situasi tersebut.

“Kehadiran program BERSAMA ini sedikit banyak telah membawa perubahan pada pandangan dan perilaku sejumlah orang tua. Kami telah mendengar dan melihat cerita-cerita positif dari para orang tua yang telah dilatih, termasuk dari guru sekolah yang kini kerap dikunjungi oleh orang tua siswa yang ingin tahu perkembangan anaknya,” papar Uswatun.

Ibu Harun Anggraini adalah salah satu bagian dari cerita perubahan tersebut. Tidak ada yang lebih membahagiakan baginya selain melihat sendiri bagaimana kemampuan literasi buah hatinya bisa meningkat dari hari ke hari. Waktu dan tenaga yang telah dia berikan untuk mendampingi anaknya dalam belajar telah nampak hasilnya. Ada rasa bangga karena ia telah menjadi bagian dari itu dan dia berjanji dukungan itu tak akan pernah surut, apapun yang terjadi.

“Anak saya, Andini, itu pernah bilang kalau dia ingin jadi dokter. Saya tahu, menjadi dokter itu tidak mudah dan butuh biaya besar sementara kondisi kami seperti ini. Tapi saya tidak ingin langsung mengatakan ‘tidak’. Saya hanya bilang, kalau ingin jadi Dokter maka kita harus mulai belajar menabung,” ceritanya.

Kini, di meja belajar Andini ada kotak kecil dengan lubang sebagai tabungan yang dibuat sang Ibu dari barang bekas kemasan jualannya. Sang Ibu selalu memasukkan uang ke dalam celengan itu di hadapan Andini.

“Saya ingin Andini tahu kalau saya akan selalu ada dan mendukungnya,” tutup Ibu Harun Anggraini.

Pelibatan masyarakat dalam Pembelajaran Anak: Kisah Dukungan Ibu di Dompu, NTB