Menulis di udara

Pada bulan September 2019 lalu, Rajawali TV (RTV) berkunjung ke Pulau Sumba untuk melakukan peliputan Program INOVASI. Salah satu narasumber dalam peliputan ini adalah Rugaiya Eka Wati. Rugaiya dan keluarganya tinggal di Kampung Tapil, Desa Tanaraing, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur. Ia memiliki dua orang anak. Salah satunya bernama Uje Al Buchory, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang tidak dapat mendengar dan mengalami kesulitan berbicara.

Sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat beraktivitas di sekitar rumah atau sekedar bersantai di teras rumah mereka saat kami tiba di Kampung Tapil. Siang itu matahari terik sekali. Tapil adalah sebuah perkampungan yang dihuni oleh 60 keluarga di pesisir Pantai Tapil. Semua warga di kampung ini menganut agama Islam.

Rumah-rumah penduduk berjejer mengikuti garis pantai. Pasir putih yang menjadi alas jalan dalam kampung ini menyilaukan mata dan menambah kesan panas, terlebih saat cuaca sedang panas-panasnya. Kehadiran perkebunan kelapa yang cukup luas di sekitar kampung ini seakan menjadi peneduh bagi warga dari teriknya matahari.

Kampung Tapil dapat ditempuh dalam dua jam dari Kota Waingapu. Tidak ada kendaraan umum yang menuju ke Tapil. Biasanya warga menggunakan motor atau menumpang kendaraan yang membawa barang ke Tapil.

Kedatangan kami ke Tapil untuk menemui Rugaiya Eka Wati, seorang nelayan dan pembudi daya rumput laut yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Uje Al Buchory. Saat ini, Uje sudah berusia sepuluh tahun dan duduk di kelas satu. Uje bersekolah di SD Inpres Tapil yang terletak tidak jauh dari rumahnya.

Saat kami tiba di rumah Uje, ibunya ternyata sedang sibuk di dapur. Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari dapur sambil membenarkan posisi kerudung oren bata yang dipakainya. Ia mempersilakan kami masuk ke ruang tamu dan duduk. Di ruang tersebut terdapat sofa yang hanya tinggal rangka. Ada juga beberapa kursi plastik. Saat tim RTV mulai menyiapkan wawancara, Uje berlari masuk rumah, lalu duduk dipangkuan ibunya.

Saat persiapan wawancara sudah selesai, Rugaiya pun mulai bercerita tentang Uje. Kondisi Uje baru disadari olehnya saat Uje berusia setahun. Anaknya tersebut kerap tidak menjawab jika dipanggil. Begitu juga saat diajak ngobrol, Uje sering tidak merespon. Rugaiya lalu memeriksakan Uje ke rumah sakit terdekat pada tahun 2017. Dari hasil pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa Uje tidak bisa mendengar karena gangguan rumah siput.

Mengetahui hal itu, Rugaiya merasa kecewa. “Tidak bisa dipungkiri dari hati kecil ini, ada rasa kecewa. Kenapa Tuhan berikan anak seperti ini?” kata Rugaiya. Saat mengucapkan kalimat ini, Rugaiya tak kuasa membendung air matanya. Sambil menyeka air matanya, ia melanjutkan, “Tapi saya merasa bangga. Walaupun dia ada kekurangan, saya yakin dia punya kelebihan,” ungkapnya tegar. Sejenak, keadaan menjadi hening. Kami membiarkan Rugaiya mengekspresikan perasaannya dan melanjutkan wawancara setelah ia sudah mulai tenang.

Dikisahkan ibunya, Uje termasuk anak yang bandel dan tidak bisa diatur. Ia juga cenderung pendendam. Suatu hari, salah satu temannya memukul dirinya. Dia tidak langsung membalas namun menunggu temannya tersebut melewati rumah Uje. Saat anak itu lewat, Uje menghadangnya dan membalasnya. Meski begitu, di sekolah Uje diterima dengan baik oleh guru maupun teman-temannya. “Sekolah memang tahu anaknya seperti ini, jadi mau buat apa saja dan belajar seperti apa, dibiarkan saja,” kata Rugaiya menjelaskan bagaimana Uje diperlakukan di sekolahnya.

Saat libur atau akhir pekan, Uje dan kakaknya kadang ikut orangtua mereka ke laut. Selain mencari ikan, Rugaiya dan suaminya juga membudidayakan rumput laut. Tidak jarang mereka harus tinggal di laut hingga seminggu untuk merawat rumput lautnya. Hasil yang didapatkan dari melaut bisa sampai satu juta per bulan. Tapi jumlah tersebut harus dikurangi dengan biaya makan.

Bahan makanan yang dibawa biasanya dibeli di Melolo, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Rindi, di mana Kampung Tapil berada. Menempuh jarak 20 km, Rugaiya biasanya berbelanja ke Melolo hingga 3 kali dalam sebulan.

Rutinitas sebagai nelayan dan keadaan Uje yang tidak bisa mendengar dan berbicara dengan baik membuat Rugaiya bingung dan khawatir tentang pendidikan anaknya. Ia tidak memiliki pengetahuan bagaimana mengasuh dan mendidik anak seperti Uje. Di sekolah pun, guru kelas Uje belum menggunakan metode yang sesuai untuk membantu Uje dalam belajar.

Selain itu, penerimaan Uje terhadap orang lain belum terlalu baik. Saat ibunya menegurnya, ia tidak lantas berkecil hati. Akan tetapi, ketika orang lain yang melakukannya, Uje akan langsung marah dan membalasnya. “Saya pernah minta guru-guru di sekolah agar tidak berbicara dengan mata melotot pada Uje, karena ia bisa merasa sedang dimarahi,” kata Rugaiya.

 

Mendapatkan pendampingan

Rugaiya merupakan salah satu orangtua yang mendapatkan pendampingan Program Pendidikan Inklusi yang dilaksanakan oleh INOVASI melalui kemitraan dengan CIS Timor. Melalui progam ini, Rugaiya mengenal bagaimana pola asuh yang baik untuk anak seperti Uje termasuk mengidentifikasi kebutuhannya dan melaporkan perkembangannya setiap bulan kepada tim CIS Timor.

Rugaiya mengaku telah banyak mengalami perubahan khususnya dalam berinteraksi dan mendidik Uje. Di rumah, Rugaiya mengajar Uje dengan bahasa isyarat yang diciptakannya sendiri. Ia membantu Uje belajar menulis dengan bantuan gerakan mulut dan tangan. Misalnya untuk menulis huruf A, mulutnya dibentuk sedemikian rupa sehingga mudah dikenali oleh Uje.

Pada saat yang sama, tangannya menarik garis di udara dari atas ke bawah, lalu diikuti garis lainnya sehingga membentuk huruf A. Selain itu, Rugaiya juga memanfaatkan alat bantu belajar seperti poster abjad yang diberikan oleh CIS Timor. “Alhamdulillah, sekarang dia (Uje) sudah bisa menulis,” ungkap Rugaiya, menjelaskan dampak pendampingan program pada Uje. Lebih jauh, Rugaiya mengatakan bahwa Uje kini sangat cepat merespon isyarat yang diberikan oleh ibunya.

Melihat perkembangan yang dialami anaknya, Rugaiya semakin bersemangat untuk menerapkan apa yang ia pelajari di kegiatan-kegiatan yang diadakan CIS Timor. Namun profesinya sebagai nelayan, sering membuat Rugaiya absen dari pertemuan. Belum lagi mengurus rumput laut yang dibudidayakan.

Jikapun tidak sedang melaut, belum tentu dirinya bisa mengikuti pelatihan jika diadakan di kota, karena tidak ada transportasi umum yang dapat digunakan di Kampung Tapil. Beda halnya ketika kegiatan diadakan di lingkungan Desa Tanaraing, Rugaiya selalu ikut.

Saat ditanya tentang harapannya kepada Uje, Rugaiya ingin anaknya bisa meningkatkan kualitas hidup keluarganya. “Kami (orangtua) ini buta huruf. Harapannya Uje bisa lebih baik dan membanggakan.” Rugaiya berniat menyekolahkan Uje hingga setinggi-tingginya namun diakuinya hal ini bukan hal yang mudah mengingat kondisi Uje yang tidak dapat mendengar. “Kalau mau sekolah ke kota, saya harus ikut bersamanya karena cuma saya yang mengerti (bahasa) dia,” ungkap Rugaiya.

Rugaiya sebenarnya memiliki keluarga di Waingapu karena dirinya memang berasal dari Waingapu. Namun karena keluarganya yang lain belum memahami cara berkomunikasi Uje, ia khawatir malah akan menjadi masalah. “Bapaknya saja belum terlalu mengerti,” ungkapnya di akhir wawancara.

 

 

 

Menulis di udara