Meningkatkan pembelajaran numerasi di Sumenep, Jawa Timur

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah Universitas Bina Nusantara (Binus), yang bekerja untuk memperkuat pengajaran dan pembelajaran numerasi tingkat awal di Sumenep, sebuah kabupaten mitra INOVASI di Jawa Timur. Bekerja dengan 17 sekolah di dua kecamatan, termasuk 14 sekolah negeri dan 3 madrasah, program rintisan Binus bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran numerasi untuk anak-anak di kelas satu hingga tiga.

Di seluruh wilayah Indonesia, dan juga di seluruh dunia, matematika sering dipandang sebagai mata pelajaran yang paling sulit bagi siswa sekolah dasar (dan juga bagi guru!). Di Kabupaten Sumenep, di mana INOVASI sedang mengimplementasikan program rintisan peningkatan numerasi dasar dalam kemitraan dengan Universitas Binus, data baseline 2018 mengungkapkan bahwa 33% siswa menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang paling sulit (35% untuk anak perempuan dan 31% untuk anak laki-laki). Sementara untuk pengajaran, 61% guru merasa matematika adalah pelajaran yang paling sulit untuk diajarkan kepada siswa.

Melalui program rintisan numerasi dasar ini, siswa dan guru di Sumenep mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka menggunakan kurikulum nasional 2013. Model pengajaran dan pembelajaran numerasi yang inovatif sedang dilaksanakan oleh para guru mitra, dengan dukungan dari fasilitator lokal Binus.

Melalui sesi pelatihan baru-baru ini dengan kepala sekolah dan pengawas sekolah, program rintisan telah berfokus pada penguatan pengawasan pengajaran, sehingga guru memiliki bimbingan dan arahan yang diperlukan untuk meningkatkan cara mereka mengajar numerasi untuk siswa kelas awal. Kepala sekolah dan pengawas sekolah memainkan peran penting.

Sekarang di sekolah mitra, dengan bimbingan dari kepala sekolah dan pengawas, para guru telah mulai menerapkan pendekatan pembelajaran aktif. Pembelajaran sudah menjadi lebih baik.

“Semoga numerasi menjadi sebuah metode dan disiplin ilmu yang mampu mengantarkan siswa kami menjadi siswa yang berilmu dan berkualitas dalam pendidikan,” kata Abu Zaini, guru kelas satu dari MIS An-Nibron di Sumenep. Di sekolah Abu Zaini dan sekolah mitra lainnya, guru mencatat bahwa siswa menjadi lebih bersemangat dan terlibat selama kelas matematika, khususnya di kelas satu dan dua. Siswa yang sebelumnya tidak menyukai pelajaran ini, sekarang berharap untuk belajar lebih banyak – terutama dengan modul baru dan materi pembelajaran dari program rintisan.

“Sekarang saya merasa numerasi itu hebat!” kata Betty Yulastanti, guru kelas satu di SDN Torbang 3. Dia merasa caranya mengajar matematika telah berubah sejak program rintisan dimulai. Metode pengajaran baru untuk siswa termasuk belajar sambil bermain menggunakan domino, permainan interaktif untuk membantu penghitungan dan pengenalan angka. Ia juga melihat peningkatan yang signifikan dalam interaksi dan diskusi siswa-guru.

Program rintisan juga telah melibatkan orang tua, untuk mendorong mereka untuk membantu siswa dengan pekerjaan rumah mereka setelah sekolah dan di malam hari, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Dengan sekolah dan masyarakat bekerja bersama, termasuk dengan pengawasan yang lebih kuat dari kepala sekolah dan pengawas, hasil belajar numerasi dapat ditingkatkan untuk anak-anak di Sumenep.Saya terlibat dalam program ini dalam kapasitas sebagai kepala sekolah.

Meningkatkan pembelajaran numerasi di Sumenep, Jawa Timur