Meningkatkan kualitas pendidikan: kekuatan kemitraan dan pembelajaran

Meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah isu yang kompleks, dan tidak dapat diselesaikan oleh satu pemangku kepentingan saja. Kekuatan kemitraan adalah kuncinya.

Dalam semangat berbagi pengetahuan dan pembelajaran, INOVASI awal bulan ini menyelenggarakan seminar pendidikan ‘Partnerships for Learning’ selama tiga hari di Bali, Indonesia. Diadakan pada bulan Pendidikan Nasional dan dihadiri oleh lebih dari 200 praktisi pendidikan, LSM dan pemangku kepentingan pemerintah dari seluruh Indonesia, seminar ini menampilkan inovator pendidikan kunci yang berbagi pengalaman dan pendekatan mereka untuk meningkatkan kualitas literasi dan numerasi di pendidikan dasar.

Selama tiga hari, ada satu prinsip kunci yang mendasari diskusi: dampak yang lebih besar akan berkelanjutan ketika pemangku kepentingan pendidikan bekerja bersama sebagai bagian dari koalisi atau gerakan untuk mencapai tujuan bersama.

Sistem pendidikan membutuhkan pembaruan terus-menerus dan berkelanjutan. Guru perlu melanjutkan pengembangan secara profesional. Karena peran donor internasional menurun dan kapasitas organisasi lokal meningkat, pemerintah Indonesia harus lebih banyak bekerjasama dengan mitra lokal, dari ekosistem pendidikan yang luas, untuk memberikan dukungan bagi perbaikan yang berkelanjutan. Mitra-mitra ini termasuk pemerintah, masyarakat sipil, universitas dan sektor swasta.

Kesempatan untuk dialog dan berbagi pengetahuan

Selama tiga hari, INOVASI menyatukan LSM lokal, praktisi dan pemangku kepentingan kunci yang berfokus pada pendidikan, untuk berbagi pengalaman sukses mereka satu sama lain dan dengan pemangku kepentingan pemerintah di tingkat nasional dan sub-nasional. Praktisi pendidikan, praktisi pembangunan, dan pemangku kepentingan pemerintah belajar dari pengalaman gabungan mereka tentang bagaimana berbagai ide dan pendekatan dapat diadopsi dan digunakan dalam konteks lokal untuk meningkatkan hasil pembelajaran.

Seminar ini dengan jelas menunjukkan kekuatan dan keragaman sektor non-pemerintah, bersama dengan kesiapan organisasi untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan pendidikan dasar. Hampir 400 organisasi menanggapi kesempatan bermitra yang dikeluarkan oleh INOVASI pada Januari 2018. Dari jumlah tersebut, 48 organisasi terpilih untuk program dana kemitraan dan diundang untuk menghadiri seminar.

Para pembicara di seminar termasuk Indonesia Mengajar, Tanoto Foundation, Indigenous to Indigenous (I2I) dari Australia, The Asia Foundation, Room to Read, Taman Bacaan Pelangi, IniBudi, Save the Children, Yayasan Sulinama, dan organisasi lokal yang berbasis di Bali, YLAI dan Green School.

Haiva Muzdaliva, Managing Director Indonesia Mengajar mengatakan, “Selama 8 tahun Indonesia Mengajar bekerja di daerah, kami bersama-sama menyaksikan tumbuhnya berbagai gerakan dan inisiatif masyarakat yang tercipta dari gotong royong berbagai pihak. Beberapa darinya termasuk Gerakan Desa Cerdas Halmahera Selatan, Tulang Bawang Barat Cerdas, Gerakan Tanimbar Mengajar, dan masih banyak lagi lainnya. Hal ini menjadi salah satu bukti bertumbuhnya kesadaran masyarakat akan pendidikan di daerah. Maka jelas- bahwa semangat kolektif segala pihak untuk bekerja sama, telah menjadi salah satu kunci sukses dan solusi bagi pendidikan di Indonesia.”

 

Pengalaman dari India: meningkatkan kualitas pendidikan dan pelajaran

Presenter utama kami adalah Yayasan Pendidikan Pratham, salah satu organisasi non-pemerintah terbesar di India. Mereka terkenal karena pengajaran pada tingkat yang tepat (teaching at the right level/TARL) di kelas dasar untuk membantu anak-anak yang tertinggal dalam keterampilan membaca dan berhitung dasar. Pratham berbagi alat dan strategi kunci yang dapat disesuaikan dengan konteks pendidikan Indonesia, termasuk inisiatif penilaian warga mereka yang unik – ASER – survei tahunan yang bertujuan untuk memberikan angka perkiraan tentang status sekolah anak-anak dan tingkat pembelajaran dasar untuk setiap negara bagian dan distrik pedesaan di India.

Pratham mempertahankan fokus utama pada kualitas tinggi, biaya rendah dan intervensi yang dapat ditiru untuk mengatasi kesenjangan dalam sistem pendidikan. Dalam menerapkan pendekatan TARL, elemen-elemen inti tertentu diperlukan, termasuk:

–  Kelompok siswa dibuat sesuai dengan penilaian dasar. Guru yang tersedia dialokasikan untuk memfasilitasi kegiatan kelompok dan pekerjaan anak-anak yang mudah diselesaikan.

–  Penilaian sederhana dilakukan pada setiap siswa untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat pembelajaran, bukan berdasarkan kelas.

–  Untuk setiap kelompok, ada satu set kegiatan dan materi sederhana yang sesuai dengan tingkat pembelajaran mereka.

–  Anak-anak belajar dalam kelompok dan juga secara individual. Guru atau instruktur menyelesaikan kegiatan dengan kelompok.

–  Saat anak-anak berkembang, mereka pindah ke kelompok atau tingkat berikutnya.

Devyani Pershad, Head of Program Management, Pratham Education Foundation mengatakan, “Di seluruh dunia, langkah mengagumkan telah ditempuh oleh berbagai negara untuk memastikan adanya kesempatan bersekolah bagi semua anak, dan sekarang merupakan waktu yang tepat untuk fokus pada kesempatan belajar bagi semua anak. Selama lebih dari 20 tahun, Pratham telah berupaya untuk bekerja dengan sistem pendidikan di India untuk mencari solusi inovatif yang pelaksanaannya dapat diperluas, dan tentunya berbiaya rendah, dalam rangka meningkatkan pembelajaran anak-anak di seluruh negeri. Kemitraan dengan pemerintah telah memungkinkan program-program yang efektif dapat dilaksanakan pada skala yang lebih luas, pembelajaran yang dipetik pun tidak hanya berlaku dalam konteks India, tetapi untuk di seluruh dunia. Kami terus berinovasi dan melakukan uji coba dan tujuan kami adalah untuk berbagi apa yang telah kami pelajari, dan sebaliknya memperoleh pengalaman dari konteks Indonesia, demi mencapai tujuan yang sama yaitu kesempatan belajar bagi semua anak.”

 

Langkah selanjutnya

Di hari terakhir seminar, diskusi menghasilkan serangkaian pernyataan dan aksi untuk mempertahankan momentum. Beberapa strategi atau rencana utama diuraikan, termasuk:

–  Communities of practice, khususnya melalui saluran digital, untuk terus berbagi pengetahuan dan pelajaran.

–  Saling bertukar pengetahuan, untuk terus belajar dari pendekatan yang telah terbukti bekerja dalam satu konteks tertentu di Indonesia.

–  Mengadaptasi alat ASER ke konteks Indonesia dan mengujinya.

–  Kebutuhan berkelanjutan untuk sinergi antara program pemerintah dan program LSM.

– Direktori daring bersama untuk sumber daya pendidikan.

– Kolaborasi pada desain, implementasi dan evaluasi pendekatan kunci untuk meningkatkan pendidikan, antara organisasi dengan focus yang sama (misalnya perpustakaan digital, literasi).

Untuk mengembangkan praktik yang menjanjikan, INOVASI membangun kemitraan, menciptakan koalisi dan memberikan dana kemitraan kepada beragam mitra untuk menerapkan pendekatan inovatif untuk meningkatkan pembelajaran. Pendekatan ini mencakup mengidentifikasi, mengadaptasi dan menguji solusi menggunakan metodologi yang sudah dikembangkan oleh organisasi non-pemerintah lokal dan lainnya. Pendekatan ‘koalisi untuk perubahan’ berupaya menjadi perantara dan membangun kemitraan yang lebih berkelanjutan dan saling menguntungkan. Pendekatan ini berinvestasi pada hubungan untuk memecahkan masalah lokal, daripada berinvestasi dalam institusi. Tujuannya adalah untuk menyatukan berbagai pihak untuk mencoba dan mengubah kebijakan atau praktik untuk meningkatkan hasil pembelajaran.

Selain itu, juga di bulan Mei, INOVASI akan meluncurkan komunitas digital untuk pelaku pendidikan (dalam bentuk grup Facebook), yang akan berusaha membangun komunitas daring yang lebih beragam di sekitar sumber daya pendidikan yang ada di Indonesia. Ini akan difasilitasi bersama dengan organisasi pendidikan kunci lainnya, termasuk beberapa dari mereka yang hadir di seminar seperti Taman Bacaan Pelangi, The Asia Foundation, Indonesia Mengajar dan Save the Children. Seminar ini semakin memperkuat kolaborasi ini, sebagai persiapan peluncuran grup Facebook tersebut. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan juga akan terlibat sebagai fasilitator.

Meningkatkan kualitas pendidikan: kekuatan kemitraan dan pembelajaran