Meningkatkan kualitas pembelajaran anak dengan hambatan belajar di Lombok Tengah: refleksi program rintisan dan validasi

Di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, INOVASI mengimplementasikan program rintisan untuk peningkatan kualitas pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK)  atau dikenal dengan sebutan program rintisan SETARA. Perhatian terhadap ABK memang terus ditingkatkan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, karena pendidikan inklusif bagi ABK memang menjadi prioritas di daerah yang tercatat sebagai salah satu daerah di Indonesia dengan capaian tertinggi dalam hal pendidikan inklusif. INOVASI menggunakan pendekatan PDIA untuk menemukan solusi lokal untuk masalah lokal, dengan dimulainya kegiatan eksplorasi dan sintesis masalah pada April 2017. Bulan lalu, hasil program rintisan dipresentasikan pada lokakarya validasi di Jakarta dengan pemangku kepentingan kunci.

 

Pendidikan inklusif di Lombok Tengah

Sebagai salah satu dari kabupaten di Lombok, Lombok Tengah telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten inklusi pada tahun 2012. Dengan tingkat melek huruf setinggi 84.6%, kabupaten ini telah mengalokasikan sumber daya untuk mendukung kelompok siswa dengan nilai di bawah rata-rata. Program yang sudah ada seperti Program Kewenangan Tambahan, telah menargetkan pengajar dan guru khusus dari sekolah khusus. Bagaimanapun, jika ingin meningkatkan hasil pembelajaran, pendidikan inklusif harus digalakkan. Untuk hampir 6,000 guru di Lombok Tengah, strategi untuk pendidikan inklusif dan anak-anak dengan hambatan belajar dapat diperkuat.

Di seluruh kabupaten mitra, termasuk Lombok Tengah, INOVASI menggunakan pendekatan khas dalam mengembangkan berbagai program rintisannya untuk mencari tahu cara-cara yang terbukti berhasil dan tidak berhasil dalam meningkatkan hasil pembelajaran literasi dan numerasi siswa. Selama tahap pra-program rintisan SETARA, dengan menggunakan pendekatan PDIA, masalah kunci yang diidentifikasi oleh guru adalah bagaimana mengidentifikasi siswa dengan hambatan belajar. Selain itu, setelah hambatan belajar diidentifikasi, para guru kemudian berjuang untuk mengetahui bagaimana mereka dapat memberikan dukungan pembelajaran yang optimal dan solusi yang disesuaikan untuk kebutuhan belajar setiap siswa. Guru yang berpartisipasi mengatakan bahwa mereka membutuhkan sebuah alat untuk membantu mengidentifikasi dan mendiagnosis hambatan belajar, sesuatu yang INOVASI dapat dukung dengan berkoordinasi dengan guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Alat ini bisa diadaptasi dari strategi dan materi yang telah dikembangkan oleh organisasi lain.

 

Sebuah forum untuk meninjau dan berefleksi

 INOVASI mempresentasikan hasil pra-program rintisan sampai saat ini kepada pemangku kepentingan pusat dan daerah di sebuah lokakarya yang berlangsung pada 1-2 Februari 2018 di Jakarta. Diskusi lokakarya tidak hanya tentang temuan dan rencana untuk pengembangan instrumen identifikasi anak dengan hambatan belajar, tetapi juga masukan untuk implementasi program rintisan SETARA.

Kegiatan lokakarya dihadiri oleh pimpinan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PPKLK) maupun perwakilan Direktorat Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK/LB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu, hadir pula Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Tengah, Bapak H. Sumum, dan juga perwakilan pemerintah Australia, Benita Chudleigh, serta Direktur Program INOVASI, Mark Heyward.

Kepala Dinas Pendidikan Lombok Tengah, Bapak H. Sumum mengatakan sangat menyambut baik program rintisan SETARA. Ia merasa terbantu saat sekolah-sekolah di Lombok Tengah mendapat dukungan dari INOVASI. Ia berharap ke depannya akan ada lebih banyak sekolah di Lombok Tengah yang mengadopsi SETARA dan seluruh sekolah pun dapat diberikan informasi mengenai SETARA dimulai tahun 2018 melalui dana APBDP dan APBD di tahun 2019.

“Pendidikan inslusif itu tidak dapat dielakkan lagi,” kata Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PPKLK) Kemendikbud, Ibu Poppy Dewi Puspitawati, di acara lokakarya tersebut. “Yang paling penting adalah bagaimana peningkatan mutu tenaga pendidik. Kalau sudah menyatakan sekolah inslusif, artinya di sana pasti ada guru pendamping sesuai dengan kebutuhannya,” tambah Ibu Poppy.

Dalam implementasi di paruh pertama tahun 2018, program rintisan SETARA yang dilaksanakan di Lombok Tengah bertujuan untuk membantu pemerintah kabupaten meningkatkan kemampuan guru-guru di daerahnya dalam mengidentifikasi dan mendukung siswa yang memiliki hambatan belajar. Hambatan belajar yang dimaksud tentunya jenis hambatan ABK yang dapat ditangani oleh guru kelas dalam proses pembelajaran, yaitu hambatan fisik dan sensori, kognitif atau kesulitan belajar, hambatan komunikasi dan perilaku/emosi, serta hambatan dalam hal interaksi sosial.

Diharapkan, melalui pendampingan yang dilakukan INOVASI, peran guru kelas pun dapat lebih dioptimalkan dalam mengetahui kebutuhan, potensi, dan hambatan belajar siswa di kelas sehingga berdampak pada kualitas belajar siswa. Selain itu, program rintisan akan melihat bagaimana peran sekolah dan lembaga-lembaga lainnya dapat dimaksimalkan, sebagai penyelenggara pendidikan inklusif. Peran pendukung dari lembaga disabilitas dan lainnya juga akan dieksplor dalam mendukung peningkatan layanan pembelajaran siswa di sekolah.

Meningkatkan kualitas pembelajaran anak dengan hambatan belajar di Lombok Tengah: refleksi program rintisan dan validasi