Transformasi ruang publik dan sarana pembelajaran siswa

Sebagai bagian dari kegiatan desain percontohan di provinsi Nusa Tenggara Barat, INOVASI berupaya mencari cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi dengan meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat lokal.

MENJELAJAHI KONTEKS LOKAL

Masyarakat lokal mengatakan anda belum benar-benar mengunjungi NTB jika belum pergi ke Dompu. Dengan konteks dan medan yang kaya akan budaya, dan berlokasi di sebelah timur Pulau Sumbawa, Dompu memiliki indikator pendidikan yang secara umum lebih rendah dari kabupaten lain di NTB. Berjumlah penduduk lebih dari 200.000 orang, dan tingkat putus sekolah sebesar 27%, Kabupaten Dompu sedang mencari cara untuk meningkatkan dukungan terhadap 3.315 guru yang berada di sana – dimana hanya 906 di antaranya yang memiliki sertifikasi.

INOVASI DI DOMPU

Melalui program INOVASI, pemerintah Australia dan Indonesia bermitra untuk memahami bagaimana hasil-hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi dapat ditingkatkan di sekolah-sekolah dan kabupaten di seluruh Indonesia. Dompu merupakan satu dari enam kabupaten yang menjadi mitra INOVASI di NTB. Di tempat dimana maraknya peristiwa seperti pacuan kuda dalam budaya Dompu berdampak pada kualitas pendidikan dan hasil pembelajaran di banyak sekolah, pendekatan INOVASI diterima dengan baik oleh masyarakat.

Di Dompu dan seluruh kabupaten dan provinsi mitranya, INOVASI menggunakan pendekatan unik untuk mengembangkan kegiatan percontohan dan mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil meningkatkan hasil-hasil pembelajaran siswa. Sederhananya, pendekatan ini disebut dengan Adaptasi Iteratif yang Didorong oleh Masalah atau Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Dengan pendekatan ini, INOVASI bekerja dan belajar secara langsung dari mitra lokal untuk mencari dan mengidentifikasi permasalahan lokal, dan bersama-sama mendesain solusi yang relevan untuk digunakan di tingkat lokal. Pemikiran dari bawah ke atas ini memang bukan hal baru – secara konsep mengambil dari pendekatan dalam bidang Melakukan Pengembangan dengan Berbeda dan Desain yang Berpusat pada Manusia – tapi INOVASI terus menerapkan dan mengiterasi versinya sendiri di berbagai lokasi di Indonesia.

Di Dompu, INOVASI menggunakan PDIA di Desa Lepadi, Kecamatan Pajo. Perencanaan percontohan dimulai pada bulan Agustus 2017, dengan visi untuk menyatukan sekolah dan masyarakat lokal agar dapat mengidentifikasi kegiatan, acara, dan tradisi kebudayaan yang berdampak pada kehadiran siswa di sekolah. Khusus untuk wilayah tersebut, pacuan kuda dan musim panen memiliki dampak langsung terhadap kehadiran siswa di sekolah, dan oleh karenanya, berdampak pula terhadap hasil pembelajaran siswa.

Tujuan percontohan Dompu ini sangat jelas. Melalui proses yang dirancang bersama-sama, warga masyarakat akan terlibat dalam merancang, mengembangkan, dan menguji ide-ide untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Karena PDIA fokus pada pengembangan kapasitas lokal, hal tersebut juga akan mengembangkan kemampuan warga masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan dan solusi mereka sendiri terkait pembelajaran. Hal ini sangat penting bagi keberlanjutan jangka panjang. Melalui keterlibatan partisipatif yang dipimpin oleh masyarakat, pemangku kepentingan dari seluruh lapisan sosial dan kehidupan masyarakat telah bersatu. Guru, kepala sekolah, komite sekolah, orang tua, dan pimpinan masyarakat seluruhnya menyumbangkan suara mereka ke dalam diskusi – keterlibatan mereka menjadi kunci untuk meningkatkan proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar sekolah.

PEMAHAMAN SEJAUH INI: BELAJAR ADALAH TANGGUNG JAWAB SEMUA ORANG

Kegiatan lapangan awal terkait etnografis pada bulan April dan Mei mengungkap beberapa pemahaman penting mengenai konteks budaya di Dompu. Dengan adanya musim pacuan kuda dan musim tanam dan panen, setiap tahunnya anak-anak absen hingga 90 hari dari sekolah. Sebuah lokakarya validasi yang diadakan pada bulan Agustus dengan masyarakat lokal memperkuat kebenaran tentang dampak kedua hal tersebut terhadap kehadiran siswa di sekolah. Para pemangku kepentingan mencurahkan waktu mereka untuk memetakan situasi budaya di Desa Lepadi, mentriangulasi peta desa, kalender musiman, jadwal pertanian, dan kalender pacuan kuda. Muncullah empat faktor kunci dari diskusi ini. Empat faktor yang terus menerus muncul di antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Bukan hanya kehadiran siswa di sekolah yang rendah, minat siswa pun terbatas, anak-anak digunakan sebagai pekerja oleh orang tua mereka di sawah, dan pengetahuan dan kesadaran akan manfaat pendidikan yang dimiliki orang tua cukup rendah.

Latihan pemetaan spasial lebih jauh dalam lokakarya bersama lanjutan membantu mensintesiskan permasalahan ini lebih dalam menjadi lima bidang utama:

  • Kurangnya kehadiran di sekolah karena adanya musim pacuan kuda dan musim tanam dan panen
  • Tidak adanya sistem pengawasan siswa di luar jam sekolah formal (yang berarti tidak ada keterlibatan formal dengan orang tua)
  • Kesulitan yang dialami orang tua dalam mendukung pembelajaran anak-anak mereka
  • Tidak adanya gerakan masyarakat yang mendukung proses pembelajaran siswa, baik di dalam maupun di luar sekolah

Dengan menggunakan sejumlah alat bantu dalam proses PDIA untuk mendorong penyebab, dampak, dan prioritisasi masalah, serta curah pendapat untuk memperoleh solusi, INOVASI bekerja sama dengan masyarakat untuk mencari cara bagaimana ‘ruang dan tempat’ dapat lebih digunakan dengan kreatif untuk pembelajaran siswa. Melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan tapi tidak terbatas pada sketsa ide dan bermain peran, masyarakat di Desa Lepadi bersama-sama mengidentifikasi empat solusi prospektif untuk meningkatkan pembelajaran siswa di luar sekolah.

Solusi pertama berfokus pada orang tua, dimana masyarakat akan membina hubungan dengan orang tua dan anak-anak mereka di lapangan bulu tangkis di Dusun Pajo Permai, sehingga menciptakan ruang pembelajaran menggunakan olahraga tradisional. Ide lain yang berkaitan dengan masalah kehadiran siswa dan peristiwa budaya adalah penggunaan gubuk di sawah sebagai tempat belajar di Dusun Timah, dimana anak-anak seringkali absen dari sekolah karena membantu bercocok tanam di sawah. Selama musim pacun kuda, ruang belajar juga dapat didirikan di sekitar lintasan pacuan, sehingga memberikan kesempatan bagi anak-anak yang ikut dalam pacuan kuda untuk belajar kemampuan literasi dan numerasi dasar. Ide terakhir adalah menggunakan koleksi buku perpustakaan sekolah di SDN 3 dan 7 Pajo, MI AL Ikhwan, yaitu membagikan buku-buku tersebut ke anak-anak yang tinggal di masyarakat lokal untuk membantu mereka belajar. Seluruh ide ini dapat diintegrasikan untuk membentuk pendekatan berbasis masyarakat untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di Lepadi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, H. Ikhtiar, menekankan pentingnya meningkatkan hasil pembelajaran siswa.

‘Pendidikan tetap harus diutamakan. Meskipun ‘joki kecil’ telah menjadi tradisi, anak-anak tetap harus bersekolah. Kita harus berinovasi agar anak-anak tidak putus sekolah, dan kita butuh dukungan untuk anggaran desa di tahun 2018 – menyasar anak-anak yang terlibat dalam kegiatan musiman. Kita perlu kerja sama dan tanggung jawab pemangku kepentingan di bidang pendidikan, termasuk sekolah dan guru’.

LANGKAH BERIKUTNYA

Sejauh ini, selain menjadi ajang untuk mengidentifikasi isu dan solusi lokal bersama-sama, proses perencanaan percontohan ini juga menjadi kisah tentang pengembangan kapabilitas lokal.

Transpiosa Riomandha, anggota tim pelaksanaan percontohan INOVASI, mengatakan, ‘Bersama masyarakat, kami harus mempelajari konteks lokal, dinamika budaya, dan seni untuk membuat mereka terlibat. Kami harus mempelajari politik lokal mereka, baik di tingkat desa maupun kabupaten. Fasilitator lokal kami memimpin hampir 80% sesi lokakarya bersama dengan masyarakat’.

Sebagai bagian dari desain akhir percontohan, pengujian dan penilaian ide akan terus dilakukan selama Oktober – November 2017, setelah diadakannya presentasi awal ke pemangku kepentingan dan pimpinan desa di bulan September. Ikuti laman Facebook INOVASI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Transformasi ruang publik dan sarana pembelajaran siswa