Menghadirkan Pembelajaran Untuk Semua melalui Literasi Dua

Model pembelajaran konvensional yang memperlakukan siswa secara seragam justru dapat memunculkan keterpinggiran. Sebab di dalam ruang kelas, siswa-siswa yang ada itu memiliki kemampuan yang beragam. Ini termasuk dalam hal membaca bagi siswa di kelas-kelas awal. Ada yang sudah terpapar dengan keterampilan literasi dan ada pula yang belum sama sekali.  Mengajar mereka sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya adalah sebuah upaya untuk memastikan tidak ada anak yang termarjinalkan dalam proses pembelajaran. 

Di Kabupaten Dompu, keterampilan literasi pada siswa SD kelas awal masih menjadi persoalan serius. Data baseline INOVASI yang dirilis pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 62,50% siswa kelas awal di Kabupaten penghasil Jagung ini tidak lolos test literasi dasar. Persentase ini  merupakan yang terbesar jika dibandingkan dengan Kabupaten-kabupaten lain di provinsi NTB yang menjadi dampingan program INOVASI. Ketika dipilah berdasarkan gender, persentase siswa laki-laki yang tidak lolos tes literasi dasar lebih besar (68,71%) dibanding siswa perempuan (55,64%).

Margiyono membaca dengan perlahan tulisan besar di kertas yang tengah dipegangnya. Bacaaanya pelan layaknya orang yang baru belajar. Di hadapannya, seorang rekannya mengamati sambil sesekali menuliskan hasil pengamatannya. Saat bacaan diselesaikan, Margiyono kemudian mendiskusikan poin-poin pengamatan bersama rekannya tersebut. Ada catatan waktu tentang berapa lama tulisan itu diselesaikan dan beberapa hal penting lain yang menjadi bahan diskusi.

Apa yang tengah dilakukan Margiyono dan rekannya itu merupakan bagian dari pelatihan untuk mengukur kemampuan siswa dalam membaca. Di situ, mereka dengan melakukan simulasi untuk proses pengidentifikasian kemampuan membaca siswa. Tujuannya adalah untuk dapat mengetahui tingkat kemampuan membaca para siswa yang tengah diajarnya. Pelatihan ini digelar oleh INOVASI dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Dompu.

INOVASI dan Dinas Dikpora saat ini memang tengah bersiap untuk menghelat serangkaian peningkatan kapasitas bagi guru kelas awal. Tajuknya adalah ‘Pelatihan Literasi Kelas Awal tahap 2’. Ini merupakan kelanjutan dari pelatihan Literasi tahap pertama yang telah berakhir pada bulan Mei 2019 lalu. Pada tahap 2 ini, fokusnya adalah bagaimana menghadirkan pembelajaran literasi yang bisa memenuhi kebutuhan berbeda dari masing-masing siswa.

Di Kabupaten Dompu, ada tujuh sekolah dasar yang menjadi sasaran program INOVASI. Tujuh sekolah tersebut terletak di Kecamatan Pajo. Sama seperti di tahapan sebelumnya, pelatihan tahap dua ini juga menyasar guru-guru kelas awal dengan jumlah sasaran 21 guru. Menurut Education Coordinator INOVASI NTB, Moh Aminullah, pilot Literasi Kelas Awal Tahap 2 akan menghadirkan pembelajaran yang berbeda-beda di ruang kelas.

“Nanti, para guru akan dilatih bagaimana mengidentifikasi kemampuan anak-anaknya. Anak-anak pada kemampuan membaca yang sama akan dikelompokkan. Selanjutnya, guru akan menyediakan model dan metode pembelajaran yang berbeda sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing kelompok itu” tutur Aminullah.

Model pembelajaran berbeda di dalam satu kelas seperti ini, bertujuan agar tidak ada siswa yang ketinggalan atau terpinggirkan dalam proses belajar di kelas, khususnya di kelas awal. Setiap siswa memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda di dalam kelas. Menurut Aminullah, hal ini mesti bisa diidentifikasi oleh guru. Pelatihan Literasi Kelas Awal Tahap 2 ini akan membekali para guru dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadirkan pembelajaran berbeda seperti itu.

“Mulai dari kemampuan pengidentifikasian kemampuan siswa, pembagian kelompok, menghadirkan pembelajaran berbeda, bahkan hingga proses evaluasi untuk melihat sejauh mana perkembangan yang terjadi di tiap siswa. Semuanya akan dilatihkan. Selain itu, mereka juga dibekali dengan pengetahuan tentang inklusi dan perlindungan anak”, papar Aminullah.

Selain Margiyono, ada 11 rekannya lain yang mendapat pelatihan awal. Mereka terdiri dari guru, Kepala sekolah dan pengawas sekolah. Beberapa dari mereka yang dilatih itu akan menjadi Fasilitator Daerah (Fasda) yang kemudian akan melatih para guru dari sekolah-sekolah dampingan. Bagi Margiyono, yang saat ini mengajar di SDN 04 Woja, pelatihan ini membuka wawasan dia tentang mengajar di kelas.

“Model ini membuat kami para guru belajar untuk keluar dari zona nyaman di dalam kelas. Selama ini kami mengajar para siswa sama rata. Padahal di antara mereka, ada yang baru mau mengeja huruf, dan ada yang sudah lancar membaca. Semua kita anggap satu meskipun sebenarnya kebutuhan mereka ini berbeda” tutur Margiyono.

Setelah mengikuti Pelatihan Literasi Tahap 2 ini, para guru kelas awal memang diharapkan dapat memberi perlakukan yang spesifik pada siswa-siswanya di kelas. Mereka diajar dan diperlakukan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dari setiap mereka saat itu. Sehingga, tak ada lagi siswa yang benar-benar tertinggal atau masih mengalami persoalan terkait literasi dasar ketika dia sudah berada di kelas yang lebih tinggi.

Selain di Kabupaten Dompu, INOVASI juga melaksanakan Pelatihan Literasi Dasar Tahap 2 di Kabupaten Bima. Ada tujuh sekolah di kabupaten ini yang menjadi dampingan. Semua sekolah itu berada di Kecamatan Bolo. Rangkaian pelatihan dan peningkatan kapasitas dijadwalkan akan berlangsung hingga bulan November nanti.

Menghadirkan Pembelajaran Untuk Semua melalui Literasi Dua