Menggunakan boneka untuk belajar

Muhammad Asyrul Riady, S.Pd – SDN 1 Dompu

Musik adalah bahasa jiwa, begitu kata pujangga kenamaan berdarah Libanon, Khalil Gibran. Bila bagi kebanyakan kita, musik hanyalah satu dari sekian banyak pilihan untuk menenangkan jiwa, lain halnya dengan Asyrul Riady. Baginya, musik tak sekadar memuaskan dahaga jiwa, lebih dari itu, musik kerap menjadi pemantik ide-ide segar yang ia gunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

“Musik adalah bagian dari diri saya. Melalui musik, inspirasi pembelajaran kerap saya dapatkan. Ini yang ingin saya tanamkan pada anak didik, bahwa otak kanan dan kiri itu musti seimbang,” ujar pengajar di SDN 1 Dompu ini dalam sebuah kesempatan wawancara.

Terbukti, berbagai macam ide-ide menarik berhasil ia terapkan dalam setiap pembelajaran di kelas yang ia ampu, salah satunya adalah penggunaan boneka cerdas One Mbolo dan Siwe Mbolo. Menggunakan sepasang boneka berpakaian adat khas Dompu, pria 35 tahun ini tak hanya menanamkan konsep perkalian dan pembagian bilangan bulat, namun juga mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan pada budaya lokal yang kian ditinggalkan.

“Boneka One Mbolo dan Siwe Mbolo  ini secara filosofis sebetulnya mewakili nama panggilan untuk anak laki-laki (One) dan anak perempuan (Mbolo) di daerah Dompu, sementara Mbolo berarti musyawarah atau bulat. Penggunaan media ini dalam proses pembelajaran matematika justru tidak sulit. Sebaliknya, media ini membuat anak jadi lebih mudah memahami materi pembelajaran karena konsep pembelajaran diajarkan denggan cara yang fun dan mendorong mereka untuk aktif secara motorik. Hasilnya, tak cuma nilai rata-rata belajar mereka saja yang mengalami peningkatan signifikan, media pembelajaran ini juga membawa saya menjadi satu dari 34 finalis Lomba Inovasi Pembelajaran (INOBEL) Kemendikbud 2016,” ungkap pria yang sudah mengajar selama 15 tahun ini.

Tak cuma itu, agar siswa yang diampunya bisa belajar dengan lebih efektif, Asyrul pun mencetuskan ide absen perasaan. Berbeda dengan absen kelas pada umumnya, di proses absensi yag dicetuskannya ini, ia mendorong para siswa kelas VI yang dididiknya untuk menggambarkan perasaan mereka sebelum dan setelah proses pembelajaran dimulai. Setiap harinya, setiap siswanya harus menunjukkan dengan jujur apa yang mereka rasakan, apakah senang, sedih, ataupun marah.

“Media absen ini tak cuma mengajarkan pada mereka untuk belajar lebih terbuka dalam mengungkapkan perasaannya, tapi juga membantu saya sebagai guru kelas untuk mengevaluasi bagaimana perasaan mereka selama proses pembelajaran hari itu. Mengetahui suasana hati mereka sangat penting bagi saya, karena ini penjadi pintu pertama saya untuk memasuki pikiran mereka. Alhamdulillah, dengan metode ini, murid-murid saya jadi lebih aktif dalam proses pembelajaran serta lebih ekspresif dalam mengungkapkan suasana hati mereka,” papar penguru PGRI Kabupaten Dompu ini.

Lahirnya banyak inovasi-inovasi seru dalam pembelajaran itu tentu bukan tanpa alasan. Diterangkan Asyrul, hal tersebut tak lepas dari keinginannya menjadi guru yang pembelajarannya selalu dirindukan dan dinantikan oleh setiap siswa didiknya. Baginya, menjadikan dirinya tak hanya sebagai orangtua kedua sekaligus sahabat bagi siswa adalah hal penting dalam proses pembelajaran.

“Saya yakin, ketika guru mengajar dengan penuh kreatifitas dan inovasi, siswa akan terpacu untuk terus semangat, mampu berkonsentrasi pada materi yang sedang dijelaskan, serta jauh dari kata mengantuk. Yang paling penting, mereka memiliki semangat untuk mempelajari kembali apa yang sudah diajarkan,” terang alumni PGSD Universitas Mataram ini.

Tak sia-sia, inovasi-inovasi yang dibidaninya itu akhirnya membawa pria kelahiran Dompu, 29 Maret 1981 ini memenangi kompetisi guru berprestasi di NTB pada 2016 lalu.

Menggunakan boneka untuk belajar