Pemahaman dasar untuk Tingkatkan Kemampuan Literasi di Lombok Utara

November 2017

Sebagai bagian dari kegiatan desain percontohan di provinsi Nusa Tenggara Barat, INOVASI berupaya mencari cara-cara untuk meningkatkan kemampuan literasi dasar dan hasil pembelajaran siswa di Lombok Utara.

Terletak di pantai utara pulau Lombok, Lombok Utara memiliki jumlah penduduk lebih dari 200.000 orang. Dengan guru berjumlah 1.438 orang, 606 diantaranya bersertifikat, Lombok Utara fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, terutama dalam hal pelayanan pendidikan dan akses ke pendidikan untuk semua anak. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, hingga saat ini kualitas hasil pembelajaran di bidang literasi tetaplah rendah. Nilai membaca siswa kelas 2 SD, sebagaimana diuji dengan alat bantu Penilaian Membaca Tingkat Awal atau Early Grade Reading Assessment (EGRA) di 35 sekolah di seluruh kabupaten, mengindikasikan bahwa kemahiran dan pemahaman membaca siswa berada pada tingkat di bawah 25%. Karena itu, kebutuhan untuk memperkuat pengajaran literasi dasar dan hasil pembelajaran menjadi sangat penting.

INOVASI DI LOMBOK UTARA

Melalui program INOVASI, pemerintah Australia dan Indonesia bermitra untuk memahami bagaimana hasil-hasil pembelajaran siswa di bidang literasi dan numerasi dapat ditingkatkan di sekolah-sekolah dan kabupaten di seluruh Indonesia. Lombok Utara merupakan satu dari enam kabupaten yang menjadi mitra INOVASI di NTB.

Di Lombok Utara dan seluruh kabupaten dan provinsi mitranya, INOVASI menggunakan pendekatan unik untuk mengembangkan kegiatan percontohan dan mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil meningkatkan hasil-hasil pembelajaran siswa. Sederhananya, pendekatan ini disebut dengan Adaptasi Iteratif yang Didorong oleh Masalah atau Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Dengan pendekatan ini, INOVASI bekerja dan belajar secara langsung dari mitra lokal untuk mencari dan mengidentifikasi permasalahan lokal, dan bersama-sama mendesain solusi yang relevan untuk digunakan di tingkat lokal. Pemikiran dari bawah ke atas ini memang bukan hal baru – secara konsep mengambil dari pendekatan dalam bidang Melakukan Pengembangan dengan Berbeda dan Desain yang Berpusat pada Manusia – tapi INOVASI terus menerapkan dan mengiterasi versinya sendiri di berbagai lokasi di Indonesia.

Mengajarkan dasar-dasar literasi dengan benar di tingkat awal sekolah dasar memiliki dampak positif untuk seluruh bidang pembelajaran. Melalui percontohan Literasi Dasarnya, yang akan dilaksanakan di Lombok Utara dan Sumbawa Barat, INOVASI akan bekerja untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di tingkat awal sekolah dasar dengan memperkuat pemahaman guru akan konten dalam kurikulum. Dengan meningkatkan kemampuan guru untuk menggunakan proses kunci dalam pengembangan literasi, termasuk penilaian formatif, para guru dapat menerapkan strategi pengajaran dan sumber daya yang lebih efektif dalam kelas mereka.

Perencanaan percontohan dimulai pada paruh kedua 2017 di Lombok Utara, dengan diselenggarakannya kegiatan eksplorasi awal. Seperti semua percontohan INOVASI lainnya, fasilitator lokal berperan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan. Dalam hal ini, fasilitator juga merupakan guru dan pendidikan lokal. Dengan mengembangkan kapasitas dan memberdayakan mereka untuk menggunakan pendekatan PDIA dengan masyarakat lokal dan ikut mengidentifikasi akar permasalahan dan penyebabnya, diharapkan hasil akhir desain dan pelaksanaan pilot ini menjadi jauh lebih berkelanjutan.

Berbagai kombinasi alat bantu telah digunakan sejauh ini, termasuk observasi, wawancara dengan guru, dan alat bantu curah pendapat lainnya. Para guru diminta menuliskan permasalahan dan kekhawatiran pedagogis mereka, terutama yang berkaitan dengan konten dan pemahaman literasi. Melalui proses identifikasi dan diskusi yang kolaboratif, fasilitator lokal dapat mengungkap beberapa wawasan penting yang merupakan kunci dalam perancangan percontohan yang sudah final.

PEMAHAMAN SEJAUH INI: MENINGKATKAN LITERASI UNTUK SISWA TINGKAT AWAL

Selama proses PDIA, sejumlah temuan dan pertimbangan telah diungkap dan dibahas dengan pemangku kepentingan lokal – terutama dengan guru tingkat lokal. Ini mencakup:

  • Kemampuan membaca siswa masih sangat rendah
  • Banyak guru tidak memiliki latar belakang pendidikan literasi dan tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk mengajarkan literasi dasar secara efektif
  • Guru seringkali berpindah dari mengajar tingkat atas ke tingkat awal, dan sebaliknya. Ini tidak berujung pada pengetahuan yang memadai untuk mengajar di tingkat awal
  • Sekolah dan guru tidak mempersiapkan buku-buku yang cocok dengan kemampuan membaca actual para siswa di kelas. Lebih jauh lagi, pihak guru dan sekolah tidak memiliki pengetahuan memadai tentang buku-buku apa yang tepat digunakan untuk para siswa di tingkat awal
  • Banyak siswa di tingkat awal yang diajarkan oleh guru honorer atau adat yang bukan berasal dari lembaga pelatihan guru. Sebagian bahkan masih duduk di bangku sekolah menengah atas
  • Guru belum pernah menggunakan media instruksional sebelumnya untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa. Mereka hanya bisa menggunakan buku paket

Hal yang mungkin lebih penting adalah temuan bahwa banyak guru tidak menyadari mereka punya masalah. Meskipun setuju para siswa tidak dapat membaca, mereka tidak melihat akar permasalahannya terletak di pundak mereka. Ini berkaitan dengan efektivitas pengelolaan kelas, manajemen pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, tanya jawab sebagai bagian dari pembelajaran, dan tugas serta kegiatan siswa di kelas. Semua ini harus diperkuat agar dapat meningkatkan literasi dan hasil pembelajaran di tingkat awal sekolah dasar.

LANGKAH SELANJUTNYA

Ke depannya, fasilitator lokal akan terus bekerja sama dengan guru untuk membahas dan menganalisis temuan yang dikumpulkan selama proses eksplorasi PDIA. Dalam mencari solusi yang didesain bersama, ide-ide dan isu-isu ini akan dieksplorasi lebih jauh.

Sebagai bagian dari desain akhir percontohan, pengujian dan penilaian ide akan terus dilakukan selama November – Desember 2017, termasuk di sekolah dan kelas yang terpilih. Percontohan ini akan mulai dilaksanakan di awal 2018. Ikuti laman Facebook INOVASI untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

 

 

Pemahaman dasar untuk Tingkatkan Kemampuan Literasi di Lombok Utara