Mengajar anak dengan hambatan belajar di Lombok Tengah

Di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, INOVASI mengimplementasikan program rintisan untuk peningkatan kualitas pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) atau dikenal dengan sebutan program rintisan SETARA. Perhatian terhadap ABK memang terus ditingkatkan pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, karena pendidikan inklusif bagi ABK memang menjadi prioritas di daerah yang tercatat sebagai salah satu daerah di Indonesia dengan capaian tertinggi dalam hal pendidikan inklusif. INOVASI menggunakan pendekatan PDIA untuk menemukan solusi lokal untuk masalah lokal, dengan dimulainya kegiatan eksplorasi dan sintesis masalah pada April 2017.

Hj. Siti Hadijah adalah Kepala SDN 1 Gemel Kecamatan Jonggat, salah satu sekolah yang menjadi mitra INOVASI dalam program rintisan SETARA di Kabupaten Lombok Tengah. Program SETARA berfokus pada peningkatan kemampuan guru untuk membimbing ABK dengan hambatan belajar di dalam kelas.

Dalam pelaksanaan program rintisan SETARA di sekolahnya, Siti bertindak sebagai pembina dan ketua kelompok yang mengarahkan dan membimbing para guru agar dapat mendidik ABK dengan baik dan benar. Di banyak kasus, metode pengajaran yang lebih sesuai dapat dilakukan saat mengajar ABK. Siti dan guru yang lain sangat senang dengan program ini sebab dirinya dan para guru dapat mengetahui bagaimana mendidik dan mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus di dalam kelas sehingga mereka dapat mengerti dan memahami apa yang diajarkan oleh gurunya dengan cepat.

“Di SETARA itu kita diajari secara detail menggali masalah pembelajaran dan bagaimana cara kita untuk menyelesaikan masalah itu sehingga anak-anak cepat mengerti,” paparnya.

Siti Hadijah adalah pribadi yang peduli pada peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan inklusi. Sudah delapan tahun Siti mengabdikan diri menjadi kepala sekolah di SDN 1 Gemel. Di sekolah ini, Siti menerapkan pendidikan inklusi bagi siswa-siswi ABK yang tidak hanya terbatas pada anak yang mengalami hambatan belajar tetapi juga para siswa yang menyandang tunarungu, tunagrahita, tunawicara dan tunadaksa.

Pendidikan bagi ABK sudah tidak asing bagi Bu Siti sebab sebelum ia berkarya di SDN Gemel, Bu Siti sudah berpengalaman mengajar ABK di SDN 1 Puyung sehingga rasa cinta dan kasih sayangnya kepada anak-anak tersebut sudah melekat pada dirinya. “Saya sudah sangat terbiasa mendidik dan mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus itu, makanya ketika saya di SDN 1 Gemel, saya tidak kerepotan mengasuh dan mendidik mereka,” ungkapnya.

Menurutnya, memberikan layanan pendidikan kepada ABK memang membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketelatenan. “Kita tahu bagaimana anak-anak ABK itu, kadang juga kita dibikin pusing namun dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, mereka akhirnya mengerti dan paham tentang pelajaran yang diberikan,” ungkapnya.

Pada awalnya, kata Siti Hadijah, ABK di sekolahnya merasa minder, malu dan tak percaya diri. Mereka juga kerap dicela oleh siswa-siswa lainnya. Namun, setelah diberikan pemahaman, sekarang siswa-siswa bersahabat dengan ABK. Para guru juga terus menyemangati para ABK untuk terus mau bersekolah, tidak putus asa, dan percaya diri.

Siti juga melihat perubahan sikap dan cara pandang para orangtua dari ABK di sekolahnya. “Kadang ada orang tuanya yang malu dan risih menyekolahkan anaknya, namun setelah kita berikan pengertian bahwa setiap anak punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, maka orang tua mereka pun ikhlas menyekolahkan anaknya. Bahkan sekarang orang tuanya dengan setia menunggui anaknya di sekolah yang sedang menimba ilmu,” jelasnya.

“Pendidikan inklusi adalah pendidikan untuk semua,” tutur Bu Siti. “Artinya, setiap anak mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di sekolah tanpa harus dibedakan ruang dan kelasnya.”

Setelah mendapatkan bimbingan dari program SETARA, para guru lebih cekatan dan cerdas dalam membimbing siswa ABK. Disamping itu, terjadi perubahan sikap dan mental pada diri para guru. Mereka menjadi lebih sabar dan telaten dalam mendidik ABK. Dengan perubahan metode pengajaran, siswa khususnya ABK mengalami perubahan seperti siswa yang sebelumnya pendiam, kurang percaya diri, malu dan sulit menyerap pelajaran, kini menjadi siswa yang periang, percaya diri, mandiri dan mudah menyerap pelajaran.

“Tantangan kita bagaimana anak-anak itu bisa Calistung dengan cepat walaupun memang daya tangkap mereka lebih lambat, makanya berbagai metode kita lakukan baik melalui alat peraga, dengan isyarat maupun dengan teknik sentuh badan khususnya bagi siswa yang sulit membedakan huruf. Setelah mengerti, paham, kita sangat puas,” ungkapnya.

Teknik sentuh badan merupakan salah satu cara yang dianggap efektif oleh guru-guru di SDN Gemel khususnya untuk para siswa yang masih sulit membedakan huruf, misalnya huruf ‘b’ dan huruf ‘d’. Guru menulis dengan jari telunjuk pada punggung siswa tersebut. “Kalau kita buat tulisan dengan telunjuk pada punggung sisi kanan, maka itu tandanya hurup ‘b’, sedangkan jika telunjuk membuat huruf di sebelah punggung kiri maka itu adalah hurup ‘d’. Ternyata mereka lebih cepat mengerti ketimbang metode lainnya,” jelasnya.

Kepala SDN 1 Gemel itu pun menitipkan harapan agar program INOVASI ini diperluas lagi ke sekolah-sekolah lainnya sebab dirinya merasakan manfaat luar biasa bagi peningkatan kualitas pendidikan khususnya bagi ABK. Hj. Siti Hadijah berujar agar pemerintah baik pusat, provinsi dan kabupaten terus menjalin kemitraan dengan INOVASI dan meningkatkan jumlah guru pendamping ABK.

Ibu Siti juga berharap agar pemerintah membuat kurikulum khusus untuk ABK dan menetapkan standar penilaian bagi siswa ABK. Harapan terakhir beliau adalah agar ijazah dipisah antara ABK dengan siswa reguler agar tak kesulitan memberi nilai.

“Kami juga berharap agar orang tua, komite sekolah, stakeholder untuk terus mendukung program INOVASI serta pendidikan inklusi,” ungkapnya.

Mengajar anak dengan hambatan belajar di Lombok Tengah