Menemukan metode pembelajaran baru di Bima

Terletak di bagian timur pulau Sumbawa, dan mempunyai konteks budaya yang unik, Bima memiliki tantangan tersendiri di bidang pendidikan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 400.000 orang, dan tingkat putus sekolah sebesar 11%, program pendidikan di Bima pada periode 2016-2017 difokuskan pada kualitas dan kompetensi guru.

Haerunnisa adalah salah satu Fasilitator Daerah (Fasda) INOVASI dan seorang guru dari Kabupaten Bima. Bagi perempuan kelahiran 28 September 1993 ini, menjadi guru bukanlah sekadar status sosial, bukan pula semata mengejar kebutuhan materi. Menjadi guru adalah pengabdian mendidik anak bangsa untuk menjadi generasi cerdas. Pada tahun 2017, Haerunnisa adalah salah satu peserta program rintisan Guru BAIK, yang mendukung guru mengembangkan dan menguji solusi untuk pemasalahan pembelajaran yang mereka hadapi di kelas.

“Menjadi guru harus ikhlas dan mengajar dari hati,” ungkap Nisa, panggilan akrabnya.

Tidak berhenti di situ saja, Nisa muncul sebagai sosok inspiratif juga karena kreativitasnya dalam mengajar. Sejalan dengan program INOVASI, metode pembelajaran yang diciptakan dan digunakannya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa.

 

BAPER: Metode ‘Bambu Perkalian’ yang jadi juara

Kreativitas Nisa bersama para guru SDIT Wihdatul Ummah patut diacungi dua jempol. Mereka menciptakan metode pembelajaran numerasi menggunakan bambu yang disebut ‘Bambu Perkalian’ atau disingkat BAPER. Metode ini menjadi juara pertama dari 25 sekolah yang mengikuti gelar karya pembelajaran dalam program rintisan Guru BAIK. SDIT Wihdatul Ummah merupakan salah satu sekolah target program rintisan.

“BAPER adalah salah satu media yang bisa digunakan sebagai alternatif menghitung perkalian bilangan untuk siswa tingkat sekolah dasar kelas 3 sampai dengan kelas 6. Kami menggunakan bambu sisa pagar sekolah sebagai bahannya,” jelas Nisa.

Dalam prosesnya, guru membuat 10 bilah bambu bertuliskan angka yang sudah disusun agar angka perkalian dan jumlahnya dapat jelas terlihat. Metode ini memudahkan siswa untuk memahami perkalian, yang telah teridentifikasi sebagai kesulitan siswa di Kabupaten Bima.

Melihat ‘BAPER’ diterima dengan baik, Nisa mengaku semakin termotivasi untuk membuat metode belajar mengajar lainnya. Selain BAPER, model pembelajaran numerasi lain yang juga diusungnya adalah kartu animasi berwarna. Media ini terbuat dari kertas biasa yang berbentuk animasi gajah dan animasi kelinci yang ditempel pada kertas dua warna. Warna merah muda untuk nilai puluhan dan beranimasi animasi gajah, sedangkan warna biru untuk nilai satuan dan beranimasi kelinci.

“Pada setiap kartu belum ditulis angka 0-9, siswa nanti yang akan menulisnya sendiri. Animasi digunakan untuk mengakomodasi siswa yang berkebutuhan khusus, misalnya buta warna. Jadi jelas, animasi kelinci untuk satuan dan gajah untuk puluhan,” ungkapnya.

 

Menulis puisi bebas teknik akrostik dengan objek lingkungan sekolah

Selain inovasi pembelajaran di bidang numerasi, Nisa juga berinovasi dalam pembelajaran literasi. Inovasinya diberi nama ‘Pembelajaran Menulis Puisi Bebas Teknik Akrostik dengan Objek Lingkungan Sekolah’.

“Siswa diajak membuat puisi dengan objek fisik yang jelas. Mendatangi objek, mengamati, merasakan lalu menuliskannya menjadi puisi,” jelas Nisa.

Selama ini, penulisan puisi merupakan kesulitan siswa di bidang literasi. Ditambah lagi oleh kurangnya kemampuan guru dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan mudah bagi siswa.

“Jangankan membuat puisi, paham maksud puisi saja tidak, jika pembelajarannya hanya terbatas pada pola tradisional yang bersifat hafalan teoritis. Padahal tujuan pembelajaran penulisan puisi sendiri adalah untuk memupuk apresiasi siswa dalam menyenangi, menghayati, dan akhirnya menghasilkan suatu karya tulis yang indah,” ungkap Nisa dengan semangat.

 

Berinovasi dengan INOVASI

Nisa adalah salah satu Fasda Program rintisan Peningkatan Kualitas Pembelajaran dengan Gerakan Menggunakan Bahasa Indonesia (GEMBIRA), yang berfokus membantu guru-guru merencanakan dan menangani transisi dari bahasa ibu para siswanya ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama kegiatan belajar mengajar dan penilaian di kelas. Sebagai Fasda GEMBIRA, Nisa sudah ikut serta dalam berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh program INOVASI.

“Dari banyak pelatihan saya merasa banyak pembelajaran yang saya peroleh. Guru didorong untuk menemukan potensi, terutama metode pembelajaran baru. Kami diajak menyadari masalah dan menemukan potensi,” kata Nisa.

Semangat Nisa dalam berinovasi tak lepas diusing rasa lelah. Pelatihan diakuinya bukan perkara mudah. Namun, Nisa berharap rangkaian aktivitas INOVASI dapat terus mengajak guru berinovasi untuk mengubah mutu pendidikan khususnya di Kabupaten Bima, untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi di tingkat sekolah dasar.

Menemukan metode pembelajaran baru di Bima