Menciptakan kesetaraan yang responsif melalui pendidikan inklusif

Pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran termasuk untuk siswa penyandang disabilitas. Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 pada salah satu pasalnya menyebutkan bahwa penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan bermutu pada satuan pendidikan secara inklusif dan khusus.

Kurang lebih 900 ribu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) termasuk siswa penyandang disabilitas yang bersekolah di sekolah inklusif terdata dalam Data Pokok Pendidikan (DAPODIK, 2018). Namun baru sekitar 25 persen dari total siswa penyandang disabilitas yang terjaring dalam sistem pendidikan. Pendataan menjadi satu hal penting untuk dilakukan agar semua siswa penyandang disabilitas mendapatkan kualitas layanan dan dukungan di sekolah.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Khusus dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus, terus berupaya untuk mendorong pemenuhan kebutuhan layanan siswa penyandang disabilitas terutama kebutuhan guru pendidikan khusus  di sekolah.

Pendataan akan dilakukan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dengan menggunakan instrumen Profil Belajar Siswa (PBS). PBS sendiri merupakan kumpulan informasi individu siswa yang diperoleh dari kelas, khususnya informasi kesulitan fungsional  siswa penyandang disabilitas dalam berpartipasi pada pembelajaran di kelas, disamping kebutuhan alat bantu, lingkungan aksesibilitas, hasil diagnosa medis, penyesuaian pembelajaran dan pendampingan di kelas pada tingkat sekolah dasar dan menengah.

Instrumen yang dikembangkan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kemendikbud dengan Pemerintah Australia melalui program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dan Technical Assistance for Education System Strengthening (TASS). Instrumen PBS ini dikembangkan dengan merujuk pada Washington Group Disability (WGD) dan instrumen identifikasi dan asesmen yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus Tahun 2017, dan telah diujicobakan pada sekolah-sekolah dan madrasah dampingan di Kabupaten Probolinggo, Lombok Tengah (bekerja sama dengan UNRAM) dan Sumba Timur (bekerja sama dengan CIS Timor) bersama guru-guru di sekolah. Oleh Kemendikbud, melalui Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Khusus dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus, instrumen PBS ini telah dikembangkan dalam bentuk aplikasi yang terintegrasi dalam Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIM PKB) dan menjadikan Data Dapodik sebagai data referensi. Pada prosesnya akan melibatkan pihak sekolah, Dinas  Pendidikan Provinsi serta Kabupaten/Kota.

Hasil pendataan akan memberikan gambaran tentang jumlah siswa yang mengalami kesulitan fungsional disabilitas sesuai dengan tingkatannya,  kebutuhan alat bantu dan lingkungan sekolah yang aksesibel serta akan berimplikasi dengan kebutuhan pemenuhan kebutuhan guru pendidikan khusus atau tenaga profesional lainnya. Pencatatan dan analisa kebutuhan anak berdasarkan disabilitas yang dimiliki, seperti penglihatan, pendengaran, bicara, motorik halus, motorik kasar, kesulitan belajar spesifik, perilaku/perhatian dan emosi. Target prioritas  Direktorat Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah Khusus pada tahun 2019 adalah untuk memetakan kebutuhan guru pendidikan khusus pada Provinsi dan kabupaten/kota yang telah mendeklarasikan sebagai penyelenggara pendidikan inklusif.

Profil Belajar Siswa (PBS) pada Aplikasi SIM PKB

 

Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIM PKB) merupakan aplikasi berbasis web bagi setiap guru. Aplikasi ini dimaksudkan untuk memetakan informasi menyangkut identitas guru, informasi mengajar, dan status UKG.

Semua guru memiliki akun di aplikasi ini dan tentu sudah sangat familiar dengan aplikasi yang dikelola oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Karena itu, tepat jika Aplikasi SIM PKB juga memiliki laman data siswa penyandang disabilitas, karena guru memiliki banyak informasi sesuai dengan keseharian siswa di kelas, terutama dalam hal mengikuti pembelajaran termasuk kesulitan dan kebutuhan siswa. Informasi yang dimiliki guru akan sangat membantu dalam penyediaan layanan pendidikan yang bermutu bagi siswa penyandang disabilitas di sekolah.  Guru juga dapat memberikan informasi sejauh mana siswa penyandang disabilitas membutuhkan pendampingan lebih, siswa mana yang sudah mendapatkan dukungan di sekolah dan seterusnya.

Aplikasi SIM PKB akan memuat satu laman khusus yaitu Profil Belajar Siswa (PBS). Data Dapodik menjadi data referensi, dan guru-guru pada sekolah yang telah menginput data siswa disabilitas dalam Dapodik akan mendapati laman PBS dalam aplikasi SIM PKB mereka dan akan menerima surat elektronik sebagai dasar guru untuk melakukan pengisian instrumen PBS (Asesor). Ada beberapa kriteria yang menjadi pertimbangan, yaitu bagi guru di jenjang sekolah dasar maka guru kelas yang akan ditunjuk sebagai Asesor. Di jenjang SMP/SMA/SMK, guru pendidikan khusus atau guru bimbingan konseling yang dapat ditunjuk sebagai Asesor. Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota melalui Operatornya dapat melakukan monitoring termasuk memantau perkembangan dalam pengisian PBS, serta verifikasi data dari sekolah-sekolah melalui SIM PKB.

Dalam instrumen PBS yang telah dikembangkan Kemendikbud bersama program INOVASI dan TASS ini berisi 9 komponen informasi yang harus diberikan oleh guru sebagai Asesor. Komponen PBS dimulai dengan identifikasi ragam disabilitas, alat bantu khusus yang dibutuhkan, aksesibilitas di lingkungan sekolah, dan pembelajaran dan dukungan termasuk guru pendidikan khusus atau tenaga pendamping lainnya. Komponen lainya terkait informasi riwayat kesehatan siswa, informasi umum di lingkungan keluarga siswa.

Siswa penyandang disabilitas dan layanan pendidikan di sekolah

Hasil analisa data yang didapat dari PBS melalui SIM PKB akan dibagikan ke pemerintah daerah yang bertujuan untuk merencanakan dan sinkronisasi program  dinas setempat, termasuk untuk perencanaan keberlajutan pendidikan bagi siswa penyandang disabilitas ke jenjang yang lebih tinggi. Selain kepada pemerintah daerah, sekolah-sekolah juga akan mendapat hasil analisa, hal ini dapat membantu sekolah dalam memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan sekolah yang aksesibel. Sekolah pun dapat memberikan informasi awal tentang kesulitan siswa kepada orang tua siswa penyandang disabilitas untuk memperoleh rujukan dari lembaga-lembaga profesional lainnya termasuk puskemas, tenaga medis, terapis dan lainnya.

Adanya informasi tentang siswa penyandang disabilitas dari guru atau sekolah akan memberikan gambaran yang lebih konkrit kepada pemerintah, sekolah dan orang tua tentang bagaimana sebenarnya memenuhi kebutuhan layanan bagi siswa. Hal ini tentu dapat mendukung tersedianya pendidikan yang berkualitas dan akan semakin meningkatkan partisipasi siswa penyandang disabilitas di kelas, khususnya dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa yang lebih baik. Semua anak Indonesia berhak mendapatkan layanan pendidikan yang adil dan bermutu, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam undang-undang.

Informasi lebih lanjut tentang Profil Belajar Siswa (PBS) pada Aplikasi SIM PKB:

http://pgdikmen.kemdikbud.go.id/profil-belajar-siswa/

Panduan penggunaan aplikasi SIM PKB-GTK untuk pengisian instrumen PBS:

 

Menciptakan kesetaraan yang responsif melalui pendidikan inklusif