Melibatkan Orang Tua untuk Pendidikan Siswa yang Lebih Baik

Memahami konteks lokal dan tantangan pendidikan adalah ciri utama dari program INOVASI. Di Dompu, INOVASI telah bekerja erat dengan masyarakat setempat untuk lebih memahami dan mengidentifikasi masalah-masalah pendidikan utama. Salah satu masalah tersebut adalah kurangnya peran masyarakat dalam sektor pendidikan, yang berkontribusi pada tingkat keterampilan literasi dan numerasi yang lebih rendah di sekolah dasar di seluruh kabupaten. Dalam konteks ini, program rintisan Pelibatan Masyarakat dalam Pembelajaran (BERSAMA) berupaya mengatasi hal ini.

Ibu Diani, guru kelas 1 di SDN 3 Pajo, Dompu, NTB, membawa sekitar 15 anak muridnya masuk ke dalam kelas. Suasana begitu riuh saat mereka mengambil tempat duduk. Para siswa ini baru saja dibawa berkeliling untuk melihat-lihat dan mengenali sekolah tempat mereka akan belajar. Ini adalah bagian dari kegiatan orientasi bagi mereka, anak-anak kelas satu yang baru beberapa hari ini mulai bersekolah.

“Saya mengajak mereka melihat ruang guru, kemudian juga toilet sekolah serta kantin untuk membeli sesuatu. Mereka juga diperkenalkan dengan teman-temannya dari kelas lain serta guru-guru yang ada di sini,” cerita Ibu Diani.

Ibu Diani termasuk guru senior di sekolah tersebut. Dia sudah mengabdi sejak tahun 1988. Menurut Ibu Diani, hampir seluruh karirnya dihabiskan untuk mengajar di kelas satu. Sempat pula dulu dia mengajar di kelas empat, namun itu hanya berlangsung beberapa tahun. Bu Ibu Diani mengaku ingin juga merasakan mengajar di kelas lain, namun selalu saja oleh pembuat kebijakan di sekolah dia diminta memegang kelas awal.

“Mungkin karena saya terlihat lebih penyabar dan penyayang,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi Ibu Diani, memegang kelas satu adalah sebuah tanggung jawab besar. Sebab itu berarti menjadi orang yang akan meletakkan fondasi dasar bagi setiap anak didik. Keberhasilan para siswa di tingkat selanjutnya sangat ditentukan oleh bagaimana mereka dipersiapkan di kelas satu, terutama dalam hal literasi dan numerasi.

Menurut Ibu Diani, berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun di kelas satu, tidak ada siswa atau anak didik yang sulit untuk diajar membaca, menulis ataupun menghitung. Mereka semua, lanjutnya, punya kemampuan untuk belajar.

“Kunci hanya satu, mereka rajin datang ke sekolah dan mengikuti pelajaran,” katanya.

Ibu Diani menekankan kunci kesuksesan di kelas itu ada pada kehadiran, dan dia punya alasan kuat untuk itu. Di sekolah tempat dia mengajar, masalah kehadiran menjadi penghambat bagi anak untuk bisa menyerap pelajaran. Di masa-masa tertentu, misal musim tanam atau musim panen, para orang tua yang berprofesi sebagai petani akan menghabiskan banyak waktu di ladang atau sawah, dan mereka akan membawa anaknya untuk ikut serta membantu mereka. Alhasil, sekolah mereka pun terbengkalai.

Semua itu, menurut Ibu Ibu Diani, berhulu pada masih kurangnya perhatian orang tua pada kebutuhan pendidikan anak. “Padahal orang tua itu juga memegang peran penting bagi pendidikan anak ketika di rumah. Tidak bisa hanya mengandalkan sekolah dan guru,” ujar Ibu Diani.

Upaya membangun kesadaran orang tua untuk mendukung pendidikan anak di SD 3 tempat Ibu Diana mengajar sudah mulai dijalankan sejak bulan April 2018 lalu oleh INOVASI bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Dompu. Sebuah program rintisan Pelibatan Masyarakat dalam Pembelajaran Literasi telah dijalankan dengan melibatkan kurang lebih 250 orang tua siswa dari sekolah-sekolah mitra INOVASI.

Program rintisan ini bertujuan membangun pemahaman dan kemampuan guru dalam melibatkan orang tua secara efektif dalam pembelajaran anak. Di sisi lain, program ini juga berupaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan orang tua dalam mendukung pendidikan anak mereka di rumah.

Ibu Diani dan rekan-rekan guru lainnya mendapat pembekalan tentang bagaimana menjalin komunikasi dengan orang tua murid agar mereka bisa memberi perhatian pada pendidikan anaknya. Ibu Diani mengaku sudah mulai menjalankan ini.

“Ketika hari pertama anak-anak ini masuk sekolah, orang tuanya datang mengantar mereka. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan mereka. Saya sampaikan apa yang pernah diberikan ke saya. Saya tanamkan ke orang tua bahwa kita harus bekerja sama agar anak-anak bisa menjadi pintar. Saya tidak bisa bekerja sendiri dan saya butuh dukungan dari para orang tua sekalian,” Ibu Diani menceritakan pengalamannya.

“Saya juga memberi contoh sederhana yang bisa mereka lakukan, seperti mempersiapkan anaknya ketika berangkat sekolah dan menanyakan pekerjaan rumah anak ketika dia pulang,” lanjutnya.

Di kelas satu yang sebelumnya, Ibu Diani kerap menuliskan pesan spesifik pada orang orang tua melalui buku tulis anaknya. Apa yang menjadi perhatian dia pada anak tersebut di sampaikan melalui pesan itu agar bisa dibaca oleh orang tuanya ketika si anak tiba di rumah.

“Supaya anak itu tidak lupa, kadang saya meminta dia untuk memgang buku tulis itu sampai di rumah dan langsung menunjukkan pesan saya ke orang tuanya begitu dia tiba,” tuturnya.

Cara-cara seperti ini, menurutnya perlahan mampu membuat orang tua mulai memberi perhatian pada anaknya. Dia beberapa kali menjumpai Pekerjaan Rumah siswanya yang terselip tulisan tangan orang tuanya ketika dia memeriksa. Dia menambahkan, tingkat kehadiran para siswanya juga cenderung lebih baik. Jika ada anak yang tidak bisa hadir, para orang tua biasanya akan datang melaporkan ke sekolah sehingga mereka bisa tahu alasannya.

Selain mendapat pembekalan dan pemahaman dalam hal pelibatan orang tua, Ibu Diani serta guru-guru lain yang menjadi guru mitra INOVASI juga memperoleh penguatan terkait literasi dasar. Di sini, para guru mitra diberi keterampilan dan pengetahuan tentang metode-metode kreatif yang bisa digunakan untuk meningkatan kemampuan literasi anak-anak di kelas awal.

Melibatkan Orang Tua untuk Pendidikan Siswa yang Lebih Baik