Melibatkan Orang Tua untuk Pendidikan Anak

Pada bulan September 2018, INOVASI memulai 27 program rintisan dalam kemitraan dengan 18 organisasi mitra. Kemitraan ini adalah bagian penting dari pendekatan INOVASI untuk memperluas dan memperkuat keterlibatan dengan sektor pendidikan non-pemerintah Indonesia. Salah satu organisasi mitra INOVASI adalah Edukasi 101, yang berupaya memperkuat literasi dan numerasi dasar di Sumbawa dan Sumbawa Barat, kabupaten mitra INOVASI di provinsi Nusa Tenggara Barat. Dalam cerita ini, kita belajar lebih banyak tentang Ibu Nurkomah, seorang guru kelas satu yang berbagi pengalamannya terlibat dalam program rintisan sejauh ini.

Ibu Nurkomah tak henti-hentinya menatap ruang kelas tempatnya mengajar sehari-hari. Suasananya begitu semarak dan berwarna-warni. Berbagai gantungan dari kertas menjuntai dari atas langit-langit kelas. Dinding kelas penuh dengan berbagai alat peraga dan poster huruf serta potongan kertas beraneka ragam bentuk. Ada pula tulisan dan gambar hasil karya siswa terpampang disitu.

Yang menarik, di satu bagian, ada deretan foto-foto keluarga. Itu adalah foto para siswanya dengan orang tuanya masing-masing.

“Para orang tua siswa itulah yang banyak membantu saya membuat kelas ini menjadi begitu menarik seperti sekarang. Mereka memberikan banyak dukungan baik material maupun tenaga agar kami bisa lebih nyaman saat belajar di kelas,” cerita Ibu Nurkomah.

Ibu Nurkomah adalah guru kelas 1 di SDN Beru, Kabupaten Sumbawa Barat. Sudah beberapa waktu ini sekolahnya menjadi sekolah dampingan dari Lembaga Edukasi 101, mitra implementasi dari program INOVASI. Salah satu bagian dari pendampingan yang diberikan adalah penguatan dukungan orang tua kepada sekolah melalui pembentukan paguyuban-paguyuban kelas.

Menurut Ibu Nurkomah, paguyuban kelas ini berisi para orang tua murid dari anak didik mereka kelas. Tiap kelas di SDN Beru sudah punya paguyubannya sendiri-sendiri. Untuk di kelasnya sendiri, paguyuban ini sudah ada sejak setahun lalu.

“Sejak pertemuan pertama tahun lalu, kami sudah membentuk strukturnya, memilih ketuanya, dan mulai membicarakan apa yang menjadi kebutuhan kelas dan bagaimana memenuhi itu,” tutur Ibu Nurkomah.

Di kelas 1 yang dikelolanya, para orang tua murid bahu-membahu mengecat dan melukis ruang kelas agar lebih semarak dan menarik bagi anak-anak. Mereka juga mengecat kursi dan meja belajar anak-anak menjadi beraneka ragam warna. Mereka bersepakat untuk menciptakan ruang kelas yang membuat anak-anak mereka betah dan nyaman untuk belajar.

Di SDN Beru, paguyuban kelas pada awalnya hanya dibentuk di kelas-kelas awal yang menjadi dampingan langsung dari Edukasi 101. Namun kemudian, setelah melihat hal-hal baik yang hadir dengan keberadaan paguyuban ini, kelas-kelas tinggi pun mulai mereplikasinya. Alhasil, saat ini semua kelas di SDN Beru sudah memiliki paguyuban orang tua.

Kepala Sekolah SDN Beru, Ibu Erna Suryani, mengatakan kehadiran paguyuban orang tua di tiap kelas sangat membantu pihak sekolah dalam meningkatkan kualitas lingkungan pembelajaran di SD yang dipimpinnya. Sekolah dan paguyuban bisa saling mengisi kekurangan masing-masing. Dia menekankan bahwa berbagai keterlibatan dan partisipasi itu sifatnya sukarela dan tidak dipaksakan.

“Upaya awal pendekatan yang kami lakukan adalah dengan mengundang para orang tua dan mereka kami minta untuk duduk di kelas beberapa waktu. Mereka bisa merasakan bagaimana ruang kelas anaknya. Dari situ, masing-masing orang tua hadir dengan masukannya dan kemudian kita diskusikan bersama,” papar Ibu Erna.

Kehadiran paguyuban kelas ini berangkat dari pemikiran bahwa semua perangkat yang ada di sekolah, baik itu internal mapun eksternal itu penting dan harus dilibatkan. Asep Iryanto, Master Trainer dari Edukasi 101 menyebutkan bahwa “orang tua adalah elemen penting karena anak-anak didik lebih banyak menghabiskan waktu di keluarga dibanding di sekolah. Jadi, jika ingin melakukan perubahan pada anak didik yang ada di sekolah, orang tua mesti juga dilibatkan.”

Asep menambahkan bahwa kebaradaan paguyuban kelas ini tidak tumpang tindih dengan Komite Sekolah yang sudah lama ada. Sebab mereka punya bagian yang berbeda dan saling melengkapi. Komite sekolah sifatnya lebih umum, sementara paguyuban kelas ini untuk merespon hal-hal yang lebih detil pada lingkup kelas. Saat ini, paguyuban kelas sudah hadir di 16 sekolah dasar di Kabupaten Sumbawa Barat yang menjadi dampingan Edukasi 101.

Selain pembenahan dan peningkatan kualitas ruang belajar, paguyuban orang tua ini juga membuka ruang bagi hadirnya komunikasi yang lebih baik antara wali kelas dengan para orang tua siswanya.

Melibatkan Orang Tua untuk Pendidikan Anak