Menjadikan Matematika Lebih Menarik (dan Efektif)

Dewi Kurniati, S.Pd – SD Kalimati Kabupaten Sumbawa Barat

Petuah itu terus terngiang-ngiang dibenak Dewi Kuniati, S. Pd. Meski terkesan sederhana dan sepele namun diakuinya, justru hal itulah yang kemudian membuatnya tergerak untuk menjadi seorang pendidik. Adalah Niam Saputra, S,Pd., guru matematika favoritnya kala SMP yang tak bosan menanamkan nilai luhur tersebut. Diceritakan Dewi, demikian ia biasa disapa, meski sang guru belum berstatus PNS dan hidup dalam kesederhanaan namun hal tersebut tak lantas membuatnya berhenti berbagi pada anak-anak didiknya. Sebaliknya, hampir setiap hari guru idolanya tersebut memberi hadiah uang pada anak didiknya yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi di mata pelajaran yang diampunya.

“Beliau itu suka sekali memberi kami permainan. Dan, siapa saja dari kami yang bisa mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran matematika, beliau selalu memberikan hadiah berupa uang. Jumlahnya tidak banyak, tapi lumayan untuk membeli jajanan. Pas saya tanya apakah beliau tidak rugi kalau setiap hari harus memberi kami uang sebagai hadiah?Kemudian jawaban yang saya dapatkan bahwa kalau menjadi guru  yang penting adalah ikhlas karena uang bisa dicari. Selain itu , cara mengajar beliau yang bervariasi dengan segenap kreativitas dan tidak konvensional menginspirasi saya untuk  bercita – cita sebagai guru.,” terang alumni jurusan KeguruanPGSD Universitas Mataram ini.

“Ketika pelajaran lain membosankan, pembelajaran beliau itu selalu menyenangkan. Pak Niam itu selalu memanfaatkan peralatan-peralatan sederhana yang tersedia di dalam kelas, seperti bak sampah untuk mengajarkan matematika pada kami. Karena cara belajar yang asyik inilah, kehadiran beliau selalu kami nantikan. Meski saya tidak lagi mengingat konsep apa yang beliau ajarkan melalui pemanfaatan bak sampah tersebut, tapi kreativitas-kereativitas yang beliau kenalkan itulah yang terus tertanam di otak saya. Saya ingin menjadi guru yang kehadiran saya selalu dinantikan oleh murid-murid saya,” imbuhnya penuh haru.

Karena itulah, perempuan penyuka jalan-jalan ini lantas tak henti mencari cara yang menyenangkan untuk mengajarkan suatu materi kepada anak didiknya. Salah satunya adalah metode induktif kata bergambar, sebuah metode yang ia usulkan kala mengikuti proses pelatihan Guru BAIK yang diselenggarakan oleh INOVASI beberapa waktu lalu. Meski tak menampik bahwa metode ini tak murni datang dari idenya sendiri dan hanya pengembangan dari apa yang pernah ia pelajari sebelumnya, namun diakuinya cara ini cukup membuat kemampuan siswanya dalam membaca mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

“Murid-murid saya umumnya malas membaca soal dan cenderung hanya melihat angkanya saja. Karena itulah, mereka ini sering kebingungan kalau dapat soal cerita, apakah soal itu berupa perkalian, pembagian, pengurangan, atau penjumlahan. Selain itu, beberapa dari mereka juga bermasalah dengan ejaan. Karena itulah, saya memilih menggunakan metode induktif. Metode yang pernah saya pelajari semasa kuliah,” terang perempuan yang mengaku lebih menyukai mengajar matematika ketimbang bahasa ini.

Lebih lanjut diungkapkan Dewi, melalui teknik tersebut ia meminta murid-muridnya mendeskripsikan ciri-ciri hewan dari gambar-gambar yan telah ia sediakan. Sadar bahwa tak semua muridnya mampu mengeja dengan baik dan benar, ia pun memutuskan memulai metodenya dengan meminta anak-anak didiknya berlatih menyusun kata dan secara bertahap meminta mereka menyusun kalimat.

“Saya selalu berusaha memilih metode-metode yang sederhana supaya bisa saya terapkan secara konsisten. Dan yang paling penting, anak-anak  paham apa yang saya jelaskan. Buat saya, walaupun cara ini menuntut saya untuk aktif bergerak kesana-kemari, namun cara ini lebih mudah dan tidak melelahkan kalau saya hanya menggunakan metode ceramah. Itupun belum tentu siswa saya bisa terus fokus mendengarkan saya dan paham apa yang saya sampaikan,” ungkap perempuan yang sudah 3 tahun menjalani profesi sebagai guru .

Kesadaran ini, diakui Dewi makin menguat sejak ia berkesempatan mengikuti rangkaian workshop Guru BAIK INOVASI di Kabupaten Sumbawa Barat. Menurutnya, melalui pelatihan tersebutlah, ia seperti mendapatkan amunisi baru, yang menantang dirinya sebagai guru untuk mengembangkan cara mengajarnya menjadi lebih baik lagi, termasuk diantaranya trik mengatasi murid-murid bermasalah.

“Workshop Guru BAIK seperti membangunkan saya dari tidur. Walaupun saya sudah tahu apa yang musti saya lakukan, namun sebelum ikut workshop saya belum tahu pasti harus berbuat apa. Sekarang saya jadi lebih tahu harus berbuat apa. Saya juga semakin yakin kalau anak bisa membaca, mereka akan bisa semuanya dan itu yang menjadi  harapan saya,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

 

Menjadikan Matematika Lebih Menarik (dan Efektif)