KKG Aktif di Lombok Tengah, Upaya Mandiri demi Meningkatkan Mutu Pendidikan

Kemandirian memegang peranan penting dalam menentukan keberlanjutan suatu program. Inilah yang tengah didorong INOVASI di akhir tahun 2019 ketika implementasi program memasuki fase terakhir. Hal ini agar pemangku kepentingan setempat dapat terus melanjutkan program secara mandiri. Di Kabupaten Lombok Tengah, NTB, INOVASI bersama pemangku kepentingan setempat sejak tahun 2017 melaksanakan program untuk meningkatkan mutu pembelajaran literasi di jenjang kelas awal. Para pelaku pendidikan termasuk kepala sekolah kini telah mengimbaskan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang mereka peroleh selama program berlangsung sebagai upaya akselerasi mutu pendidikan di kabupaten ini ke sekolah-sekolah lainnya, yang belum terimbas program. Berikut ini kisah Ni Ketut Mayoni, kepala sekolah di Lombok Tengah yang juga merupakan fasilitator program INOVASI (Fasda) di kabupaten tersebut.

Secara swadaya, guru di sekolah-sekolah di bawah Gugus 1 Kecamatan Praya Tengah berkumpul untuk meningkatkan kapasitas mengajar mereka melalui wadah Kelompok Kerja Guru (KKG) yang memanfaatkan modul pelatihan dari INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia). Ni Ketut Mayoni merupakan Kepala Sekolah SDN 2 Batu Nyala yang juga berperan sebagai fasilitator program (Fasda) INOVASI di kabupaten ini. Ia juga merupakan ketua gugus, yang berinisiatif mengumpulkan sekolah-sekolah tersebut dalam wadah KKG yang dilakukan secara mandiri ini.

“Kegiatan KKG yang kami lakukan sendiri di gugus 1 Kecamatan Praya Tengah itu ada dua. KKG kelas tinggi itu untuk kelas 4, 5, dan 6. KKG kelas awal untuk kelas 1, 2, dan 3. Kegiatan berlangsung setiap hari, dari Senin sampai Jumat, dan tidak selalu di gugus inti tetapi juga bisa berlangsung di SD-SD imbas. Jadi ada di SD 2 Batu Nyala selaku gugus inti, ada juga di SD Selebung. Sebagai pendampingnya adalah kepala sekolah masing-masing sekolah,“ jelas Ketut.

Kegiatan KKG di Gugus 1 Praya Tengah mengumpulkan 5 sekolah yang terdiri dari sekolah inti (SDN 2 Batu Nyala) dan 4 sekolah imbas yaitu SD Gereneng, SD 1 Lajut, SD Selebung, dan SD 1 Batu Nyala.

Ketut menuturkan bahwa per Oktober 2019, para guru sudah dibekali dengan konten literasi dasar dan kelas literat. Selanjutnya materi yang akan dilatihkan adalah penggunaan media Big Book (Buku Besar).

“Jadi kegiatan KKG yang kami lakukan tidak hanya membahas kegiatan yang menjadi konten seperti perangkat K-13. Pada pertengahan semester kami juga mengimbaskan materi pelatihan dari INOVASI, yaitu tentang literasi dasar, kelas literat, dan akan kami lanjutkan dengan Big Book,” tutur Ketut.

Ketut menambahkan bahwa diberikan jeda waktu pelatihan antar materi untuk melihat sejauh mana implementasi hasil pembekalan. Ibu berkacamata ini mengharapkan agar para guru tidak hanya sekedar memahami konten-konten pelatihan tetapi juga mengaplikasikannya secara nyata di kelas masing-masing.

Kegiatan KKG Membawa Perubahan Positif

Hasil dari kegiatan KKG yang dilakukan secara mandiri ini, dengan menggunakan modul pelatihan INOVASI, pun telah nampak seperti yang terjadi pada Yenny Anita, Guru SDN Gereneng. Perubahan yang paling mendasar terlihat dari penataan ruang kelasnya. Sejak mengikuti KKG mandiri Gugus 1 Praya Tengah, Yenny merancang ruang kelasnya sehingga terlihat literat, disertai dengan pojok baca.

“Setelah mengikuti kegiatan di KKG ini, saya mendapatkan ilmu yang banyak. Dengan adanya kegiatan ini saya pun terinspirasi untuk membuat pojok literasi dan juga hiasan-hiasan di dalam kelas. Saya membuatnya dengan senang hati dan tergugah hati saya untuk membuat apa yang ada di dalam kelas sekarang ini. Tujuan saya adalah supaya siswa-siswa saya betah di dalam kelas, merasa nyaman dan senang berada di kelas. Perubahan di kelas ini bahkan sampai membuat siswa enggan keluar kelas. Siswa pun ada yang mengatakan bahwa ia lebih senang di sekolah daripada di rumah. Sebelum saya mengikuti kegiatan di KKG ini, tidak banyak yang bisa saya lakukan,“ ujarnya menjelaskan dampak dari keikutsertaannya dalam kegiatan KKG mandiri Gugus 1 Praya Tengah.

Hal ini juga diakui oleh Kepala Sekolah SDN Gereneng, Lalu Ramdan.

“Setelah ada program KKG dan ada program literasi ini, saya lihat sekali perubahan yang terjadi. Sekarang kelas itu meriah. Seperti ada taman di dalam kelasnya. Belum lagi hiasan gambar-gambar yang ditempel. Ini pun membuat anak-anak termotivasi belajar,” katanya.

Dampak dari pelaksanaan kegiatan KKG ini menunjukkan bahwa sejauh ini hampir 80% guru-guru yang mengikutinya telah melaksanakan dengan baik, seperti yang diungkapkan oleh Ketut.

Program INOVASI sendiri di Lombok Tengah berfokus pada pendidikan inklusif, sesuai prioritas yang menjadi fokus dalam bidang pendidikan yang dibahas para pemangku kepentingan di Lombok Tengah bersama INOVASI tahun 2017 lalu. Diterapkan sejak awal tahun 2018 sampai pertengahan tahun 2019, dengan fokus pada peningkatan kemampuan literasi siswa kelas awal, program dilaksanakan di 19 sekolah. Ketut menyampaikan bahwa konten khusus mengenai pendidikan inklusif akan disampaikan kepada peserta KKG pada semester dua tahun ajaran berjalan.

Mendorong Kegiatan KKG yang Aktif

Perjalanan KKG ini masih panjang dan Ketut menyadari bahwa ada tantangan yang harus diatasi, seperti mendorong para guru untuk rutin mengikuti kegiatan KKG dan mengimpelementasikan materi-materi pelatihan yang mereka peroleh ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas masing-masing. Ketut pun menjelaskan bahwa cara yang ditempuh adalah meminta kepala sekolah yang terlibat untuk memotivasi guru-gurunya dan memberikan ‘reward’ kepada para guru yang terlibat, seperti sertifikat keikutsertaan kegiatan KKG yang ditandatangani kepala dinas pendidikan.

Akselerasi mutu pendidikan demi mewujudkan masyarakat Lombok Tengah yang beriman, sejahtera dan bermutu telah dimulai dengan sebongkah harapan melalui KKG mandiri Gugus 1 Praya Tengah. Tentunya perjalanan menuju cita-cita akselerasi mutu pendidikan masih panjang dan berliku tetapi Ketut menyadari bahwa langkah kecil ini, dengan upaya berbagai pihak terutama pihak sekolah dan pengawas, dapat mengubah cara pandang/pola pikir para guru bahwa KKG bukanlah suatu keharusan tetapi kebutuhan.

“Saya ingin membudidayakan, membangun mindset guru-guru bahwa KKG itu adalah kebutuhan bagi mereka. Bukan mereka ber-KKG hanya sekedar datang dan karena disuruh saja. Tetapi bagaimana kita merancang kegiatan-kegiatan KKG supaya guru-guru merasa kegiatan ini penting. Itu yang menjadi motivasi saya mengubah mindset rekan-rekan guru. Bahwa KKG bukan merupakan suatu keharusan tetapi suatu kebutuhan bagi mereka. Kami juga berharap, bagaimana pun besarnya niat kami melaksanakan KKG mandiri tetapi kami tetap perlu dukungan baik itu dari dinas, KUPT, atau dukungan dari pengawas. Paling tidak bisa memantau kegiatan atau memberi motivasi supaya lebih maksimal,” harapnya.

KKG Aktif di Lombok Tengah, Upaya Mandiri demi Meningkatkan Mutu Pendidikan