Kepala sekolah di Bima menjadi pendorong program rintisan transisi bahasa

Kabupaten Bima merupakan salah satu kabupaten mitra INOVASI di Provinsi NTB. Dengan menggunakan pendekatan ‘solusi lokal bagi permasalahan lokal’, INOVASI meramu program rintisan yang berbeda-beda di setiap kabupaten mitra untuk menjawab masalah, tantangan, dan konteks lokal. Dalam merencanakan dan menjalankan program rintisan, banyak pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang yang dilibatkan secara aktif.

Di sekitar lingkungan SDN Inpres 1 Kalampa, mayoritas warganya adalah buruh tani yang saat musim tanam tiba akan bekerja keluar daerah hingga berbulan-bulan. Mereka menjadi buruh tani di sawah dan ladang orang yang ada di kabupaten lain. Anak-anak mereka yang masih usia sekolah dibawa serta ke tempat kerja untuk membantu. Ada pula yang dibawa karena tidak ada yang menjaga anaknya di rumah.

Pertengahan tahun 2017 lalu, INOVASI mulai diperkenalkan di SDN Inpres 1 Kalampa. INOVASI menggunakan pendekatan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA), atau ‘solusi lokal untuk permasalahan lokal.’ Masalah yang teridentifikasi di Bima adalah rendahnya nilai siswa akibat kemampuan Bahasa Indonesia siswa yang rendah. Hal ini didorong oleh kebiasaan penggunaan Bahasa Mbojo dalam proses belajar mengajar di sekolah. Karena itu, program rintisan transisi bahasa dianggap solusi yang sesuai untuk mengatasi masalah di Kabupaten Bima.

Program rintisan transisi bahasa ini diberi nama ‘Gerakan Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar’, disingkat GEMBIRA. Awalnya, GEMBIRA mengundang polemik di kalangan pendidik dan kepala sekolah yang menganggap upaya ini dapat menghapus budaya berbahasa Mbojo dengan mendorong guru dan siswa sepenuhnya berbahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar sehari hari.

Untungnya, dari proses pra-rintisan, beberapa pendidik muncul sebagai pelopor pendekatan dan strategi program rintisan. Mereka telah melihat peluang untuk meningkatkan hasil belajar siswa di daerah setempat. Salah satu pemangku kepentingan ini adalah Ahmad, kepala sekolah SDN Inpres 1 Kalampa di Desa Kalampa, Kecamatan Woha di Kabupaten Bima.

“Kami jelaskan, sebenarnya yang ditawarkan INOVASI itu sederhana, yaitu tentang bagaimana cara mengoptimalkan proses belajar mengajar di kelas, sehingga siswa bisa lebih paham tentang apa yang diajarkan guru. Salah satunya, dengan transisi yang efektif dari bahasa lokal ke Bahasa Indonesia. Karena seluruh buku mata pelajaran yang ada menggunakan bahasa Indonesia, begitupun dengan soal ujian. Logikanya sederhana sebenarnya, bagaimana siswa bisa memahami isi buku dan soal yang berbahasa Indonesia jika siswa tidak bisa Bahasa Indonesia,” jelas Ahmad, kepala sekolah SDN Inpres 1 Kalampa di Desa Kalampa, Kecamatan Woha di Kabupaten Bima.

Beragam sosialisasi dan pelatihan dilaksanakan. Seiring berjalannya aktivitas program rintisan, para guru, kepala sekolah, dan pengawas sadar akan banyaknya cara dan metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan penggunaan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar. Salah satunya dengan metode ‘jembatan bahasa’.

Jembatan bahasa adalah proses transformasi bahasa secara bertahap dengan permulaan menggunakan bahasa Bima sebagai bahasa pengantar, kemudian pada pertemuan selanjutnya secara bertahap disisipi dengan Bahasa Indonesia. Tahap selanjutnya adalah penggunaan Bahasa Indonesia secara utuh atau dominan.

“Awalnya dianggap susah, tetapi setelah dicoba ternyata mudah juga bagi guru dan siswa,” ucap Ahmad.

Lebih lagi, dua guru dari SDN Inpres 1 Kalampa terpilih menjadi fasilitator daerah (fasda) yang dilatih untuk menyebarluaskan keterampilan berbahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar kepada lebih banyak tenaga pendidik di Kabupaten Bima. Menurut Ahmad, program rintisan GEMBIRA telah mampu mengubah pola pikir guru. Dampaknya, motivasi guru untuk menemukan metode baru dalam mengajar semakin meningkat. Tidak hanya itu, guru di SDN Inpres 1 Kalampa kini lebih aktif dan kreatif dalam mengajar.

Untuk mendukung keterampilannya, para guru diajak berlatih untuk menemukan permasalahan yang dihadapi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Guru mulai berlatih mencoba gagasan atau ide yang mereka susun dalam bentuk bahan ajar serta metode pembelajaran. Mulai dari pengadaan pojok bacaan dan kamus dinding untuk meningkatkan kemampuan literasi, sampai beragam metode di bidang numerasi, tentunya dengan turut mengaplikasikan teknik ‘jembatan bahasa’.

Ahmad mengaku banyak perubahan terjadi di kelas baik terkait cara guru mengajar maupun kemampuan siswa berbahasa Indonesia. Sebelumnya, metode pembelajaran dianggap monoton dan guru cenderung tidak peduli akan respon siswa. Kini, praktik ‘jembatan bahasa’ dan cara mengajar yang lebih variatif mendorong siswa untuk lebih semangat dalam proses belajar mengajar di kelas. Ahmad berharap, praktik baik ini tidak hanya dapat bertahan dan dikembangkan, tetapi juga dapat tersebar ke sekolah lain yang ada di provinsi NTB pada umumnya dan Kabupaten Bima khususnya.

Kepala sekolah di Bima menjadi pendorong program rintisan transisi bahasa