Kelas literat memotivasi siswa belajar di Sumbawa Barat

Di Sumbawa Barat, salah satu dari enam kabupaten mitra INOVASI di Nusa Tenggara Barat (NTB), INOVASI telah melaksanakan program rintisan peningkatan literasi dasar dengan sekolah, siswa dan guru mitra. Perencanaan program rintisan dimulai pada 2017, dengan kegiatan dimulai pada pertengahan 2018. Melalui pelatihan (short course), para guru mempelajari dasar-dasar pengajaran dan pembelajaran literasi kelas awal, termasuk strategi untuk mengajar membaca dan menulis. Data baseline INOVASI tahun 2018 menunjukkan bahwa 19% siswa kelas awal Sumbawa Barat di kelas satu hingga tiga tidak lulus tes literasi dasar. Di kelas satu, 38% siswa tidak lulus. Lebih banyak anak laki-laki yang gagal daripada anak perempuan, dengan 24% anak laki-laki gagal dibandingkan dengan 12% anak perempuan. Bagi siswa yang tidak lulus, keterampilan dalam suku kata dan pengenalan kata adalah yang paling lemah. Abdul Muis, S.Pd, kepala sekolah di sekolah dasar Fajar Karya, berbagi pengalamannya bergabung dalam program rintisan peningkatan literasi dasar sejauh ini.

SDN Fajar Karya di Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat bukanlah sekolah baru. Sekolah ini sudah lama berdiri. Hanya saja, jumlah siswanya memang sedikit jika dibanding dengan sekolah-sekolah lain. Dari kelas satu hingga kelas enam, jumlah siswanya tidak lebih dari 60 orang, atau rata-rata 10 orang di tiap kelasnya.

Jumlah siswa yang tidak begitu banyak di sekolah tersebut, berdampak pada besaran jumlah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima pada setiap periodenya. Tidak banyak yang mereka terima. Namun demikian, keterbatasan itu tidak menjadi alasan bagi sekolah tersebut untuk tidak mengembangkan konsep kelas literat di kelas-kelas awalnya.

Sebagai salah satu sekolah mitra program rintisan peningkatan literasi dasar (PELITA) yang dijalankan oleh INOVASI, para guru kelas awal di sekolah tersebut telah mendapat pembekalan tentang bagaimana menghadirkan kelas yang bernuansa literasi. Tantangan muncul ketika mereka hendak menerapkan itu di kelasnya. Dengan keterbatasan sumber daya yang dialami oleh sekolahnya, mereka harus lebih kreatif.

Dukungan datang dari kepala sekolah, Bapak Abdul Muis. Dia mulai merangkul para orang tua siswa untuk bersama-sama membangun kelas yang bisa membantu anak-anak mereka untuk belajar lebih baik. Setelah berhasil meyakinkan para orang tua, mereka mulai bergerak bersama. Dinding-dinding kelas dilukis dengan beraneka gambar. Sejumlah orang tua dengan sukarela datang membawa sisa-sisa cat dari rumahnya. Guru-guru di sekolah tersebut yang mempunyai kemampuan melukis ikut turun tangan, dan menggambar sebisa mereka.

Setelah ruang kelas selesai dicat dan dilukis, mereka mulai membuat berbagai hiasan-hiasan serta alat bantu pembelajaran literasi. Kembali, orang tua siswa turut serta membantu guru kelas dalam membuat itu. Mereka meluangkan waktu datang ke sekolah seusai jam belajar dan bersama guru kelas membuat kelas anak-anak mereka lebih semarak.

Hasil kolaborasi antara orang tua dan sekolah itu akhirnya terpampang jelas saat ini. Ruang kelas awal kini begitu meriah dengan berbagai gambar dan pajangan-pajangan. Semua itu tidak sebatas penghias kelas namun juga sebagai media pembelajaran literasi yang bisa membantu proses belajar mengajar.

“Dulu, ketika bel pulang berbunyi, anak-anak itu terlihat begitu girang. Saya bahkan bisa mendengarkan teriakan gembira mereka dari ruangan saya di sebelah sana. Namun ketika kita sudah mulai membuat kelas ini berbeda, saya kok jarang mendengar itu lagi,” sebut Abdul Muis.

“Saya sudah bertahun-tahun berada di sekolah ini. Dan saya berani bilang kalau anak kelas 1 tahun ini, antusiasmenya dalam belajar berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tentunya ini berkat kerjasama kita semua, termasuk dari teman-teman di INOVASI dan para orang tua,” sambung Pak Abdul Muis.

Kelas literat memotivasi siswa belajar di Sumbawa Barat