Kelas Literat Membuat Siswa SD di Sumba Barat, NTT Betah di Kelas

Program rintisan Literasi Kelas Awal yang diimplementasikan INOVASI di Sumba Barat, NTT memililiki tujuan memperkuat dan mendukung guru dalam meningkatkan praktik mengajar di kelas dan meningkatkan hasil belajar siswa. Selama pelatihan yang diberikan melalui kegiatan di Kelompok Kerja Guru (KKG), para guru mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana menerapkan pendekatan pengajaran literasi dasar di kelas. Termasuk dalam hal membaca, memahami, menggunakan buku-buku besar, dan penilaian. Berikut ini kisah inpiratif dalam mengembangkan kelas literat yang dilakukan oleh guru dampingan program Literasi Kelas Awal tersebut.

Siapa yang menyangka, bangunan dengan dinding anyaman bambu yang sudah mulai lapuk bahkan bolong di beberapa bagian, berlantai tanah, dan berangka batang kayu, adalah bangunan untuk sekolah dasar. Sekilas lebih mirip kandang ternak. Namun ternyata di sinilah 123 anak yang bermukim di Desa Lolowano dan sekitarnya di Kecamatan Tana Righu, Kabupaten Sumba Barat, menempuh pendidikan dasar mereka.

Sekolah yang merupakan paralel dari SDN Mata Wee Tame ini memiliki 6 ruang kelas sesuai dengan tingkatan sekolah dasar. Dengan jumlah siswa yang ada, rata-rata kelas diisi dengan 20 orang. Menurut Standar Nasional Pendidikan (SNP), jumlah maksimum anak per rombongan belajar (rombel) adalah 28 anak. Angka ini tentu jauh di atas jumlah siswa per kelas di sekolah ini, namun ruang kelas yang sempit membatasi ruang gerak siswa dan guru sehingga proses kegiatan belajar mengajar pun terganggu.

Dinding pembatas kelas yang juga terbuat dari bambu memungkinkan suara apa saja dari kelas sebelah terdengar dengan jelas di kelas lainnya, bahkan cenderung mengganggu. Seperti diakui oleh Selfina Lamba, guru kelas 1, “Ini kan (dinding) bambu, jadi semua suara bisa didengar dari (kelas) sebelah. Apalagi lubang-lubang di dinding membuat anak-anak penasaran dan malah mengintip ke kelas sebelah.” Ia memberikan contoh pada saat siswa kelas 1 sedang belajar pelafalan huruf. Ia akan memperagakan bunyi beberapa huruf lalu akan diikuti oleh siswa. Pada saat yang bersamaan, kelas sebelah sedang latihan membaca sehingga suara dari kedua kelas akan saling mengganggu. Tentu kondisi ini memiliki dampak yang tidak baik pada perhatian dan daya tangkap siswa.

Bukan hanya bangunan sekolah, kondisi siswa pun cukup memprihatinkan. Masih banyak siswa yang tidak memakai alas kaki ke sekolah. Seragam yang mereka kenakan kusam, lecek, bahkan robek di beberapa bagian. Kesehatan dan kebersihan mereka juga membutuhkan perhatian yang serius. Salah satu komunitas yang pernah berkunjung melaporkan bahwa anak-anak di sekolah ini membutuhkan asupan gizi yang cukup agar mampu menyerap apa yang diajarkan di sekolah. Selain itu, akses air bersih juga tak memadai.

Namun dengan segala keterbatasan yang ada, ternyata sekolah yang dibentuk pada 1 Oktober 2017 ini kaya akan inovasi dalam pembelajaran. Menjadi salah satu SD dampingan Program INOVASI, SDN (Paralel) Mata Wee Tame menyulap ruang kelas yang tadinya kosong menjadi kelas literat, penuh warna dan ceria. Berbagai pajangan ditempel di dinding anyaman bambu atau dilettakan dalam ruang kelas. Pajangan itu bukanlah sekedar pajangan tapi merupakan media pembelajaran seperti kartu suku kata, kartu kata, pohon kata serta gambar-gambar menarik.

Pengaturan tempat duduk juga disesuaikan dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Untuk materi yang lebih banyak melibatkan kerja kelompok, siswa akan duduk saling berhadapan sesama anggota kelompok. Kegiatan belajar di mana guru lebih banyak memberikan pemaparan akan menggunakan pengaturan tempat duduk ruang kelas tradisional. Sementara jika kegiatan membutuhkan ruang gerak luas, bangku dan kursi akan dirapatkan ke dinding sehingga siswa dan guru dapat lebih leluasa bergerak saat aktivitas berlangsung.

Menurut Sriningsi Lende Puti yang mengajar di kelas 2, ia mempelajari pengembangan kelas literat ini pada Program Literasi Kelas Awal bersama INOVASI. Berbekal barang-barang bekas yang bisa didapatkan di lingkungan tempat tinggalnya, ia membuat pajangan-pajangan tersebut. Media pembelajaran tersebut pun berhasil menarik minat baca siswa. “Adanya pajangan-pajangan tersebut, dan penggunaan media belajar lainnya selama pembelajaran serta metode mengajar yang lebih interaktif, membuat anak-anak rajin ke sekolah dan semangat belajar di kelas,” kata guru yang saat ini tengah menempuh pendidikan sarjana keguruan.

Hasil pembelajaran pun sudah mulai terlihat. Disampaikan oleh Sriningsi, melalui kelas literat dan penggunaan media belajar, siswa-siswa yang dulunya belum mengenal huruf, kini sudah dapat mengenal huruf, mampu membaca suku kata dan kata, bahkan sudah ada yang dapat membaca dengan lancar.

Pencapaian ini tak lepas dari dukungan INOVASI kepada guru-guru di sekolah.

Hal ini diakui oleh Enos Mandenas, penanggung jawab SDN (Paralel) Mata Wee Tame. “INOVASI telah membuat teman-teman (guru) saya menjadi luar biasa dalam mengajar dan mendidik anak-anak dengan semua metode yang mereka peroleh dari INOVASI,” kata Enos memuji perkembangan rekan-rekannya.

Enos pun takjub mendengar cerita dari rekan-rekannya yang mengatakan bahwa beberapa siswa enggan pulang langsung ke rumah setelah jam sekolah usai. Mereka masih berdiri di depan pajangan, mencoba membaca kata-kata yang tertulis di sana.

Kelas Literat Membuat Siswa SD di Sumba Barat, NTT Betah di Kelas